Logika Simbol; Isukah Dibalik Lambang PKS Adalah Simbol Yahudi?

Sudah lama berita mengenai isu lambang PKS ini beredar di dunia maya..Benarkah di samping ini adalah logo simbol dari partai besar di Indonesia PKS  yang dimetamorposis dari simbol yahudi? banyak blog dan web yang menjadi sumber bahwa logo PKS adalah metamorposa logo zionis, tentu saja dikomentar sumber blog tersebut ada beberapa orang yang menentang dan mendukung…yg menyebarkan isu tersebut entah mungkin kader PKS langsung , atau entah pihak yg memang mempunyai kepentingan politis atau memang petinggi atau yahudi yg sengaja membelot ingin membuka rahasia intelejen, ntahlah..yg penting kita jangan cepat dulu berkesimpulan hanya dengan melihat gambar tanpa tau penjelasan dr berbagai sumber. disini saya akan mencari sumber di dunia maya baik yg pro ataupun yang kontra..untuk mengklarifikasi(tabayyun) isu yg beredar itu..silahkan lihat beberapa dibawah dri sekian banyak referensi dari surfing google:

Ref1: http://bungarevolusi.multiply.com/journal/item/89/Lambang_PKS_mirip_Lambang_YAHUDI_weeehhhhh

http://dibyochemeng.wordpress.com/category/logo-freemason-indosat-mirip-pks/

Lalu apakah lambang PKS adalah lambang Yahudi? lalu apakah PKS adalah yahudi? mana saya tau, tanya aja langsung ke petinggi PKS, hehe bcnda…Lebih baik, mari kita kaji urayannya lebih lanjjut Untuk mencari titik cahaya dr kegamangan saya selama ini menurut beberapa surfing data di google.

Simbol Yahudi Adalah Simbol Pagan

Dalam kepercayaan Zionis-Yahudi yang sesungguhnya berasal dari kepercayaan paganisme kuno bernama Kabbalah, di mana Raja Iblis bernama Lucifer menjadi Tuhannya, simbol-simbol digunakan sebagai bagian dari ritual mereka. Mereka percaya, setiap simbol mengandung kekuatan magis yang mampu membawa kebaikan bagi yang menggunakannya. Simbol Bintang David, misalkan, dipercaya memiliki kekuatan menyerap kekuatan semesta dari enam penjuru mata angin. Selain itu filosofi dari simbol ini sangat banyak dan menjadi salah satu simbol pagan paling digemari.

Simbol ini banyak kita jumpai di berbagai video klip, t-shirt (seperti yang dipakai Ahmad Dani, pentolan kelompok band Dewa dalam acara akhir tahun 2007 kemarin di TMII Jakarta), ornamen bangunan, bahkan di sajadah pun saya pernah menjumpai adanya simbol ini.

Penggunaan simbol ini bisa jadi tidak disengaja karena kurangnya wawasan orang yang memakainya, tapi bisa pula di sengaja, bahkan menjadi bagian dari suatu konspirasi global, walau yang belakangan ini bisa jadi disadari dan bisa jadi tidak

Selain simbol Bintang David, di negeri ini banyak sekali simbol-simbol paganis kuno Kabbalah yang digunakan. Misal lambang Fleur de Lis yang digunakan sebagai simbol Biarawan Sion dan juga oleh Gerakan Kepanduan Sedunia dan juga Kepramukaan Indonesia, ternyata juga digunakan sebagai lambang Kepanduan salah satu partai politik di Indonesia.

Partai politik yang berbasis umat Islam ini juga menggunakan simbol paganis Kabbalah bernama Trias Goddes Wicca sebagai lambang partainya. Simbol ini sesungguhnya bagian dari ritual kaum pagan dalam menyembah tuhan dalam tiga oknum. Simbol ini sangat tua bahkan dipakai oleh orang-orang Jahiliyah Arab sebagai manifestasi dari Tiga Tuhan mereka yakni al-Uzza, Allat, dan Manat.

Demikianlah, bisa jadi karena kurangnya pemahaman maka hal tersebut dianggap biasa saja. Padahal bagi kaum pagan penyembah iblis, simbol-simbol tersebut diyakini memiliki kekuatan sihir yang tinggi.

Bagaimana sebaiknya umat Islam menyikapi simbol-simbol ini? Jika kita menemui simbol-simbol tersebut, walau kita tidak boleh mempercayai kekuatan simbol-simbol itu karena bisa menjurus pada kemusyrikan, maka kita hendaknya menghindarinya. Jika ada barang yang kita miliki ternyata mempunyai simbol tersebut, maka dihapus saja atau dihilangkan. Ini jalan terbaik agar umat ini tidak menjadi biasa dengan simbol-simbol penyembah iblis tersebut. 

Ref3=>  http://penumpasjalanan.multiply.com/journal/item/838/Apakah_simbol_PKS_diambil_dari_kaum_Pagan_

Lihat ditengah dari beberapa diantaranya dibawah ini yang sebagai simbol pagan:

Ok kita cari tau aja apa sih arti lambang sperti PKS klo di dunia Internasional, di dunia Mistik Yahudi seperti Kabbalah. Dan dalam Sihir Mesir dan Eropa? pertama paling gampang kita cari pengikut kabbalah mistik yahudi yang terkenal. Kita cek Madona selebritis dunia yang selama ini giat sekali kampanye Yahudi.

Madonna dalam album Ray Of Light giat sekali memberi tahu tentang simbol yang dia anut. Ok so apa arti lambang Ray of Light Madonna ?

Artinya adalah di tengah adalah padi dan di samping kiri dan kanan adalah sabit. Yang berarti Astoreth atau Astarte  dewi kesuburan penuh birahi seksual dalam yahudi Di dalam dunia mistik, ada beberapa bentuk dari perempuan jahat ini, di antaranya: Diana, Isis. Dalam teks Mesopotamia Kuno yang bernama Dewi Ishtar.

Astarte merupakan perlambangan dari kesuburan, seksualitas, dan peperangan yang mengindentifikasikan sebagai venus, biasanya di gambarkan telanjang, Astarte dalam kepercayaan Yunani adalah Aphrodite, salah satu situs pemujaan Astarte terbesar di Yunani ada d Pulau Cyprus. Astarte juga sangat di puja oleh Bangsa Sidon, Tyre, dan Byblos, bahkan dalam mata uang bangsa Sidon terukir gambar Astarte.

astarte06000 OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mungkin cuman mirip doank sih, saya juga tidak tau, juga cuman Tuhan yang maha tau dan cuman Tuhan yang bisa menghakimi. Dan jangan asal menuduh setiap simbol yahudi. Cukup anda yang tahu dan menafsirkan dan juga anda yang menentukan ingin mendukung yahudi atau tidak.

Jadi jgn asal nuduh simbol yahudi, percuma karena yang kita lihat jelas di depan mata dan dalam kehidupan kita aja, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai contoh blog ini saja dari blogspot blogger kepunyaan Google dan kita tau google kepunyaan yahudi. Apple kepunyaan yahudi.

Jadi susah juga kan? jadi yahudi itu bukan gerakan agama tapi ideologi zionis, dia bukan memusuhi agama tertentu tapi masuk kepada setiap golongan dan agama supaya bisa mendukung gerakan mereka.

Jadi sekali lagi, saya merasa sangat aneh terhadap gerakan paranoid yang selalu melihat keluar seperti cerita di atas. Umat Islam selalu protes tentang gerakan yahudi tapi apakah mereka sudah melihat yahudi di dalam tubuh mereka sendiri?

Gajah di depan mata tidak terlihat, tapi gajah di seberang lautan terlihat. Dan musuh yang paling besar adalah musuh dalam selimut. Apa mereka tidak sadar? dari dulu politik yang paling ampuh adalah politik adu domba?. Dimana salah satu bagian pada tubuh rusak dijamin semua tubuh akan rusak.

ref4=> http://rykers.blogspot.com/2009/09/simbol-yahudi-perusahaan-dagang-israel.html

Arti Logo PKS Dalam Anggaran Rumah Tangga Partai

  1. Kotak persegi empat berarti kesetaraan, keteraturan dan keserasian.
  2. Kotak hitam berarti pusat peribadahan dunia Islam yakni Ka’bah
  3. Bulan sabit berarti lambang kemenangan Islam , dimensi waktu, keindahan, kebahagiaan, pencerahan dan kesinambungan sejarah.
  4. Untaian padi tegak lurus berarti keadilan, ukhuwah, istiqomah, berani dan ketegasan yang mewujudkan kesejahteraan.
Warna lambang partai memiliki arti sebagai berikut :
  1. Putih berarti bersih dan kesucian.
  2. Hitam berarti aspiratif dan kepastian.
  3. Kuning emas berarti kecermelangan, kegembiraan dan kejayaan

Makna lambang partai secara keseluruhan adalah menegakkan nilai-nilai keadilan berlandaskan pada kebenaran, persaudaraan dan persatuan menuju kesejahteraan dan kejayaan ummat dan bangsa.

Ref5=> http://www.pksbandung.org/index.php?option=com_content&task=view&id=28&Itemid=54

Betulkah PKS Dibangun Oleh Tangan Intelejen?

Informasi ini udah lama beredar, saya dapat dari millis. Cuma mau kasih tahu aja. Buat renungan bagi kita, wa bil khusus buat ikhwan akhawat PKS. Ini perlu diingatkan, meskipun bakalan tidak disukai. Biarin aja tidak disukai asal saudaraku selamat dari bahaya besar yang tidak diketahuinya. Jangan terlalu serius buat apa-apa yang sebenarnya dikendalikan sama intelijen.

Rumus utama binaan intel

Bila dia ditangkap lalu dibebaskan maka kemungkinan besar dia sudahjadi anjing suruhan, bila dia istiqamah pasti dikubur. Dan bila dia dibebaskannya tahun 1970-1988 maka 100 % dipastikan dia binaanintel karena era 1970-1988 adalah era Ali Moertopo dan L.B Moerdanidua Jendral yang paling anti islam, mereka tidak akan membebaskananggota ekstrim kanan kalau tidak berguna untuk menghancurkangerakan islam. Dan dua jendral inilah yang membuat metode penghancurangerakan islam dengan menggunakan islam radikal. Bagi yang pernah aktif di Pengkaderan Inti IM, memang tercium sekalirencana dan pola gerakannya yang penuh rahasia dan membuat jaringantanpa nama terkesan didesain dan dirancang oleh suatu gerakanintelejen dan kayaknya sangat tidak mungkin dirancang olehperorangan……..

Mengenal Sejarah PKS: Soeripto

Adalah kader Milsuk (Militer Sukarelawan) dan intelijen binaanPangkowilhan (Wijoyo Suyono, Soerono atau Wahono), tetapi secarakronologi mengaku ditarik Kharis Suhud (Kodam Siliwangi) pada tahun1967 – 1970 dan secara struktur komando berada dibawah Yoga Sugamayang saat itu dikomandani Sutopo Yuwono. Sebagai kader intelSoeripto berada satu level dengan Agum Gumelar (Satu-satunyajenderal TNI yang pernah menyatakan diri akan bergabung dgn PartaiKeadilan, namun sehari kemudian pernyataan tsb diralatnya sendiribahwa yg dimaksudnya partai Keadilan adalah Pertai Keadilan danPersatuan / PKP dibawah pimpinan Edy Sudrajat).

Soeripto dalam berbagai media menceritakan riwayat hidupnya dalam dunia intelejen dengan gamblang, sekalipun sudah mengaku menjadi mantan sejak tahun 1970 akan tetapi beberapa sumber menerangkan bahwa Soeripto tetap mangkal di kantor BAKIN yang lama karena mengikut dan tetap bersama Roedjito. Menurut beberapa teman dekatnya Soeripto juga tak segan-segan nekad mengklaim mewakili KADIN ketika berkunjung ke China agardapat sambutan dan fasilitas istimewa dari pemerintah China.

Harokah Ikhwanul Muslimin atau Harakah Tarbiyah

Dalam perkembangan pergerakan Islam di Indonesia, pada tahun 1984muncul kubu Helmi Aminuddin bin Danu Muhammad Hasan. Helmi Aminuddin-sekarang jadi ketua majlis syura PKS- pernah menjadi Menlu NII komando Adah Djaelani. Pernah ditangkap oleh Kopkamtib pada tahun 1980 dan sempat ditahan pihak militer selama kurang lebih 3 tahun namun kemudian dilepaskan dari Rumah Tahanan Militer Cimanggis tanpa melalui persidangan pada tahun 1984.

Selanjutnya Helmi Aminuddin menyatakan keluar dari struktur maupunajaran NII komando Adah Djaelani, kemudian ditampung dan dipeliharaoleh mantan tokoh Bakin (Soeripto). Soeripto menjadi sponsorsekaligus promotor dan bertindak sebagai pemberi tugas kepada HelmiAminuddin antara lain untuk mengadopsi ajaran dan manhaj sertaberhubungan langsung secara organisasional dengan gerakan IkhwanulMuslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa’id Hawwa di Timur Tengah sekitartahun 1985. Maka pergilah Helmi Aminuddin ke Timur Tengah untukmengadopsi gerakan Ikhwan tsb sekalipun alasan kepergiannya kesanaHelmi mengatakan untuk menyelesaikan studinya yang belum rampung.

Sepulangnya dari Timur Tengah Helmi Aminuddin mulai mengibarkan bendera gerakan IM-Ikhwanul Muslimin di Indonesia serayamelakukan klaim sebagai representasi gerakan Islam kaffah, universaldan menafikan seluruh gerakan Islam lain yg bersifat lokal diIndonesia. Pada tahun 1991 Helmi Aminuddin diangkat sebagai Mursyidatau elite komando organisasi gerakan Ikhwanul Muslimin untuk kawasan Asia Tenggara. Eksistensi gerakan ini cepat berkembangsecara signifikan khususnya di kawasan Ibu kota DKI Jakarta. Tetapi awal awal tahun 1998 nama Helmi Aminuddin tiba-tiba raib dariblantika gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang bermarkas diYayasan Al-Hikmah di kawasan Jl.Bangka Jakarta Selatan, juga diYayasan Iqra’ di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur sebagai basissentral pemukiman elite mereka, serta Yayasan Nurul Fikri di kawasan Depok. Bahkan Helmi sempat diisukan dipecat atau dima’zulkan kehabitat lamanya (NII), ada juga isu yang menyebut Helmi telah bergabung ke kelompok Syi’ah.

Akan tetapi pada kenyataanya Helmi Aminuddin bin Danu Muhammad Hasansebenarnya tetap menjadi orang nomor satu dan terpenting dalamkelompok gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin ini, hanya mungkin dimasa kini keberadaan namanya dirasa perlu untuk sementara waktusecara resmi ditarik dari peredaran gerakan Ikwan, bahkan nama HelmiAminuddin (tadinya) tidak diakui keberadaanya oleh para elite dan komunitasPKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang ada sekarang. Mungkin inilahcara mereka menyembunyikan struktur (Siriyyatu Tandzhim) pergerakanIkhwanul Muslimin di Indonesia.

Kini Helmi Aminuddin mengkonsentrasikan diri secara khusus mengelolapesantren dan Islamic village di kawasan Cinangka Banten ataskucuran dana diantaranya sebagaian dari Bimantara, dari Timur Tengahserta dari Soeripto sebagai akses dana Orde Baru Cendana. HelmiAminuddin memanage / mengendalikan gerakan Ikhwanul MusliminIndonesia dari balik layar. Pada tahun 1998 berkat dibidani tangandingin Soeripto mantan Bakin tsb gerakan Tarbiyyah Ikhwanul MusliminIndonesia berhasil ikut partisipasi merayakan pesta demokrasi denganmenjadi salah satu kontestan. Saat itu gerakan Tarbiyah IkhwanulMuslimin Indonesia merubah manhajnya dan berubah bentuk menjadiPartai Keadilan (PK) dan kemudian bermetamorfosis lagi menjadi PKS(Partai Keadlian Sejahtera). Meskipun terbentuknya PKS ini menuaipro dan kontra ditubuh gerakan Ikhwan, tetapi melalui MusyawarahSyuro mereka perubahan menjadi partai PK saat itu mendapat mayoritassuara, sehingga secara resmi gerakan Ikwan telah berubah menjadipartai (Partai Keadilan).

Di tahun 1987 – 1988 aparat intelejen memang sedang getol menggarapdengan serius dengan memberi peluang bagi lahirnya dua kubu kekuatandakwah yang mengatasnamakan Islam namun secara subtansi salingbertentangan, yang pertama adalah kekuatan dakwah Islam IkhwanulMuslimin Mesir di bawah sponsor dan control tokoh Bakin Soeripto.Sedang yang kedua adalah kekuatan dakwah beraliran NII KW IX AbuToto yang sesat dan bermisi merusak Islam umumnya dan khususnyamelemahkan NII yang sebenarnya, yaitu yg menjadi musuh nomor wahidNKRI.

PKS sebagai metamorfosis dari gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesiasecara resmi berdasarkan konstitusi Pancasila dan UUD ’45walaupun asas partainya Islam.

Dalam hal ini Soeripto tetap tidak bersedia menjawab soal hubungandan kedekatannya dengan Danu Muhammad Hasan di awal Orde Baru maupundengan sang putra Danu, yaitu Helmi Aminuddin yang disebutnyasebagai ustadz muda (mursyid Ikhwanul Muslimin Asia Tenggara) yangdimulai tahun 1984 selama beberapa tahun di rumah Mas Ton ( HartonoMardjono) hingga akhirnya berubah menjadi Partai Keadilan di tahun1999 dan pada tahun 2003 menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Soeriptosebagai kader BAKIN oleh komunitas Ikhwanul Muslimin Indonesiasangat diyakini telah bersih / tobat dan berhasil dibina dandimanfaatkan oleh elite Ikhwan. Padahal siapa yang dimanfaatkan dansiapa yang memanfaatkan menjadi tidak jelas. Harap diingat bahwadunia intelejen tidak mengenal apa yang diistilahkan dengan pensiun,demikian halnya Soeripto, masih belum terbukti pemihakannya terhadapIslam sebagai sebuah kontra RI.

Berita diatas pernah diklarifikasi oleh para tokoh dan pengurus PKSsecara apologi diplomatis yg dialamatkan ke Majalah Dewan Rakyatmelalui Majalah SAKSI. Padahal akurasi data dan informasi tentangberita diatas sebenarnya bias dikonfirmasikan kepada sekitar 15tokoh yg salah satu diantaranya sudah almarhum, yaitu Bung HartonoMardjono(mantan tokoh DDII, tokoh PBB versi awal).

Tulisan diatas bukan sebagai fitnah, tetapi sebagai bahan renungandan penyelidikan bagi setiap muslim dan muslimah yg dengan ikhlasberjuang dalam Islam akan tetapi masih buta hebatnya serta rumitnyadunia intelejen musuh. Saya yakin para ikhwan di PKS banyak ygikhlash berjuang, tapi keikhlasan tsb sangat disayangkan kalaudimanfaatkan atau dibiaskan musuh. Beberapa ikhwan di PKS pernahbilang kalau sampai tingkat DPC keberadaan ikhwan diragukan, dalamarti sudah banyak intel disana. Namun yang harus diwaspadai bahwaintel itu justeru menyusup lewat atas, langsung menempel kalanganelite atau atasan sehingga bisa mempengaruhi kebijakan-kebijakan /langkah-langkah perjuangan. Sebagai contoh dikalangan ikhwan PKSsudah sangat kental dikenal dan difahami kalau dalam dunia politiksekarang adalah kondisi yg pada jaman Rosulullah tidak dialami,sehingga dengan bermetamorfosisnya Tarbiyah IM menjadi Parpol adalahsuatu ijtihad yg tidak melanggar syar’I dan meminimalisirpertumpahan darah. Tapi bisa jadi itulah salah satu pengaruhkebijakan intel untuk menumpulkan ghiroh dan membelokkan cita-citaperjuangan Islam secara perlahan. Tapi jangan salah menilai bahwaperjuangan Islam itu harus radikal dan membabi buta, itu salah !!!akan tetapi belajarlah dan pelajarilah sejarah .

Wallohi a’lam bi shawab
Yang benarnya dari Allah dan kesalahan semata-mata datang dari kelemahan saya.

Wassalaamu’alaikum wr.wb.
Some one.

Ref6=> http://pkssharing.blogspot.com/

http://penumpasjalanan.multiply.com/journal/item/818

IM, PKS DAN FREEMASONRY

Oleh: Shinta Yuniar
(untuk akhirzaman.info)
Misteri memang, mencari informasi detail sebuah gerakan eksklusif (Secret Society). Terlebih lagi keberadaan Ikhwanul Muslimin. Banyak orang menyangka inilah gerakan paling shahih di era saat ini. Banyak media juga — terutama lembaga WAMY yang menerbitkan Ensiklopedi Gerakan Keagamaan dan Pemikiran — menyanjungnya seolah-olah inilah gerakan muslim terpadu. Lain halnya dengan gerakan JT, HT atau selainnya yang dianggap bahkan difitnah sebagai musuh olehnya.

Sedikit info yang harus dijadikan bahan telaah berikut ini:

  1. Secara geografi, gerakan ini (IM) resmi berdiri di tanah Mesir, wilayah Afrika Utara. Tepatnya di kota Ismailiyah. Menurut sejarah, dahulunya tempat ini merupakan Benteng Alamut yaitu wilayah berkuasanya kaum Syiah Ismailiyah Fatimiyah. Sekte sesat ini merupakan lawan terkuat bagi Daulah Abbasiyah yang Sunni. Dikenal sebagai Assasin, mereka bekerjasama dengan Ksatria Templar untuk menghancurkan kaum Muslimin. Bisa anda simak pernyataan Qaddafi di youtube.com perihal Afrika Utara sebagai kawasan Syiah:
  1. Secara politik, IM dibentuk oleh Inggris. Menurut David Livingstone dalam bukunya “Terrorism and The Illuminati”, Hasan Al-Banna adalah Freemason dan  agen Inggris yang berasal dari kelompok Sufi Mistik. IM sendiri justru lebih terbuka terhadap sistem Demokrasi yang sebetulnya merupakan pemikiran Barat Freemason. Sangat berbeda dengan Ulama Salaf maupun Khalaf yang lebih memilih Syariah sebagai pedoman hidup.
  1. Secara bahasa, inilah banyak orang lengah. Ketika Fatimiyah masih berkuasa, pimpinan Sekte Assasin Ismailiyah bernama Hasan As-Sabah dan mempunyai pasukan pembunuh Fidayin. Nama organisasi sekte Assasin sering disebut para orientalis sebagai Ikhwan As-Shafa. Sekarang, Ikhwanul Muslimin dibentuk oleh Hasan Al-Banna dan mempunyai brigade tempur bernama Fidayanul Muslimin. Agak-agak mirip bukan? Jika anda telusuri kata Al-Banna dalam kamus eletronik Al-Mufid versi 1.0 akan ditemukan arti Al-Banna adalah Tukang Batu. Tukang Batu juga dapat kita temukan pada kamus Inggris-Indonesia sebagai terjemahan dari kata Mason. Dalam buku Mahkota Sufi karangan Idris Shah, kata Al Banna sendiri diartikan sebagai kelompok sufi pembangun atau tukang bangunan. Hal ini tak bisa dibantah lagi karena dalam Ensiklopedi Keagamaan dan Pemikiran terbitan WAMY disebutkan bahwa IM dibangun atas tiga dasar yaitu Aqidah Salafi, Thariqat Sunni, Hakikat Sufi.
  1. Secara simbolik, kata  واعـدوا pada logo/simbol IM dalam hitungan matematika Qaballa mengandung angka 88. Huruf waw = 6, alif = 1, ain = 70, dal = 4, waw = 6, dan alif = 1. Jika dijumlah 6 + 1 + 70 + 4 + 6 + 1 = 88. Angka 88 sendiri jika keduanya dibelah secara vertikal akan menghasilkan angka 33, sebuah jumlah derajat kepangkatan dalam Freemasonry.
  1. Secara pemikiran, ideologi IM lebih banyak mengadopsi pola pikir dua tokoh Freemason yaitu Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh yang cenderung berpihak pada Modernisme-Sekulerisme. Runutan pemikirannya melalui tiga tahapan dimulai dari tahap Humanistik yaitu perjuangan pembebasan negeri-negeri timur dari penjajahan. Lalu tahap kedua yaitu Utilitarian atau Transisi sebagai tahap berinteraksinya Islam terhadap budaya modern Barat yang di-pelopori oleh Ikhwanul Muslimin pimpinan Hasan Al-Banna dengan metode gerakan Tarbiyah. Dan yang terakhir tahap Asimilasi yaitu ditundukkannya Islam dibawah Kapitalisme dengan dua tokoh sentralnya Khursid Ahmad dan Yusuf Qardhawi. (sumber buku: Ilusi Demokrasi karangan Zaim Saidi, penerbit Republika).
  1. Secara pembinaan, aktivis IM lebih banyak bergerak dibidang Ruhiyah dan meninggalkan pencerahan umat lewat pemikiran. Padahal saat ini pola pikir dan pola sikap kaum muslim sudah jauh dari Aqidah Islam. Akibatnya loyalitas umat terhadap Islam sangat rendah. Contoh yang tak bisa ditolak adalah ketika aktivisnya ditanya umat tentang masalah sosial kemasyarakatan seperti: mahalnya biaya pendidikan, privatisasi sektor migas dan BUMN, kerusakan sistem Kapitalisme dll, mereka akan diam seribu bahasa. Padahal masalah seperti ini harus dicarikan solusinya agar umat faham akan pentingnya penerapan hukum Islam secara total. Adapun semangat mereka menyoroti krisis Palestina hanyalah bersifat emosional dan temporal, selebihnya dikembalikan pada mekanisme Demokrasi Sekuler ala Freemason.

Saat ini di Indonesia, PKS yang merupakan cabang IM di negeri ini telah membuka diri sebagai Partai Sekuler. Terbukti dalam Munasnya yang ke II di hotel Ritz-Carlton, Jakarta, PKS mengangkat Caleg Kristen untuk wilayah Papua. Apakah ini bukti ber-kaitan pada point kelima bahwa mereka telah sampai pada tahap akhir yaitu Asimilasi?

Masihkah kita menaruh kepercayaan pada mereka?

Wallahu ‘alam bis shawab.

Ref7=> http://www.akhirzaman.info/islam/ikhwanul-muslimin/1786-im-pks-dan-freemasonry.html

Siapa Sebenarnya Pembangkit Radikalisme Dan Terorisme Modern Di Tengah Umat Islam?

Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA

Dunia internasinal secara umum dan negeri-negeri Islam secara khusus, telah digegerkan oleh ulah segelintir orang yang menamakan dirinya sebagai pejuang kebenaran. Dahulu, banyak umat Islam yang merasa simpatik dengan ulah mereka, karena sasaran mereka adalah orang-orang kafir, sebagaimana yang terjadi di gedung WTC pada 11 September 2001. Akan tetapi, suatu hal yang sangat mengejutkan, ternyata sasaran pengeboman dan serangan tidak berhenti sampai di situ. Sasaran terus berkembang, sampai akhirnya umat Islam pun tidak luput darinya. Kasus yang paling aktual ialah yang menimpa Pangeran Muhammad bin Nayif Alus Sa’ûd, Wakil Menteri Dalam Negeri Kerajaan Saudi Arabia.

Dahulu, banyak kalangan yang menuduh bahwa pemerintah Saudi berada di belakang gerakan tidak manusiawi ini. Mereka menuduh bahwa paham yang diajarkan di Saudi Arabia telah memotivasi para pemuda Islam untuk bersikap bengis seperti ini. Akan tetapi, yang mengherankan, tudingan ini masih juga di arahkan ke Saudi, walaupun telah terbukti bahwa pemerintah Saudi termasuk yang paling sering menjadi korbannya?

Melalui tulisan ini, saya mengajak saudara sekalian untuk menelusuri akar permasalahan sikap ekstrim dan bengis yang dilakukan oleh sebagian umat Islam ini. Benarkah ideologi ini bermuara dari Saudi Arabia?

Harian “Ashsharqul-Ausat” edisi 8407 tanggal 4/12/2001 M – 19/9/1422 H menukil catatan harian Dr. Aiman al-Zawâhiri, tangan kanan Usâmah bin Lâdin. Di antara catatan harian Dr Aiman al-Zawâhiri yang dinukil oleh harian tersebut ialah:

أَنَّ سَيِّدَ قُطُبٍ هُوَ الَّذِيْ وَضَعَ دُسْتُوْرَ التَّكْفِيْرِييِْنَ الْجِهَادِيِيْنَ) فِيْ كِتَابِهِ الدِّيْنَامِيْتِ مَعَالِمَ عَلَى الطَّرِيْقِ، وَأَنَّ فِكْرَ سَيِّدٍ هُوَ (وَحَدَهُ) مَصْدَرُ اْلأَحْيَاءِ اْلأُصُوْلِيْ، وَأَنَّ كِتَابَهُ الْعَدَالَةَ اْلاِجْتِمَاعِيَّةَ فِيْ اْلإِسْلاَمِ يُعَدُّ أَهَمَّ إِنْتَاجٍ عَقْلِيٍّ وَفِكْرِيٍّ لِلتَّيَّارَاتِ اْلأُصُوْلِيَّةِ، وَأَنْ فِكْرَ سَيِّدٍ كاَنَ شَرَارَةَ الْبَدْءِ فِيْ إِشْعَالِ الثَّوْرَةِ (الَّتِيْ وَصَفَهَا بِاْلإِسْلاَمِيَّةِ) ضِدَّ (مَنْ سَمَّاهُمْ) أَعْدَاءَ اْلإِسْلاَمِ فِيْ الدَّاخِلِ وَالْخَارِجِ، وَالَّتِيْ مَا زَالَتْ فَصُوْلُهَا الدَّامِيَةُ تَتَجَدَّدُ يَوْماً بَعْدَ يَوْمٍ

“Sesungguhnya Sayyid Quthub dalam kitabnya yang bak bom waktu “Ma’âlim Fî At-Tharîq’ meletakkan undang-undang pengkafiran dan jihad. Gagasan-gagasan Sayyid Quthublah yang selama ini menjadi sumber bangkitnya pemikiran radikal. Sebagaima kitab beliau yang berjudul ” Al-’Adâlah Al-Ijtimâ’iyah fil Islâm” merupakan. Hasil pemikiran logis paling penting bagi lahirnya arus gerakan radikal. Gagasan-gagasan Sayyid Quthub merupakan percikan api pertama bagi berkobarnya revolusi yang ia sebut sebagai revolusi Islam melawan orang-orang yang disebutnya musuh-musuh Islam, baik di dalam atau di luar negeri. Suatu perlawanan berdarah yang dari hari ke hari terus berkembang.”

Pengakuan Dr Aiman al-Zawâhiri ini selaras dengan pernyataan Menteri Dalam Negeri Saudi Arabia, Pangeran Nayif bin Abdul Azîz al-Sa`ûd. Pangeran Nayif menyatakan kepada Hariah “As-Siyâsah Al-Kuwaitiyah” pada tanggal 27 November 2002 M.

“Tanpa ada keraguan sedikitpun, aku katakan bahwa sesungguhnya seluruh permasalahan dan gejolak yang terjadi di negeri kita bermula dari organisasi Ikhwânul Muslimîn. Sungguh, kami telah banyak bersabar menghadapi mereka walaupun sebenarnya bukan hanya kami yang telah banyak bersabar. Sesungguhnya mereka itulah penyebab berbagai masalah yang terjadi di dunia arab secara khusus dan bahkan meluas hingga ke seluruh dunia Islam. Organisasi Ikhwânul Muslimîn sungguh telah menghancurkan seluruh negeri Arab.”

Lebih lanjut Pangeran Nayif menambahkan:

“Karena saya adalah pemangku jabatan terkait, maka saya rasa perlu menegaskan bahwa ketika para pemuka Ikhwânul Muslimin merasa terjepit dan ditindas di negeri asalnya (Mesir-pen), mereka mencari perlindungan dengan berhijrah ke Saudi, dan sayapun menerima mereka. Dengan demikian, -berkat karunia Allah Azza wa Jalla – mereka dapat mempertahankan hidup, kehormatan dan keluarga mereka. Sedangkan saudara-saudara kita para pemimpin negara sahabat dapat memaklumi sikap kami ini. Para pemimpin negara sahabat menduga bahwa para anggota Ikhwânul Muslimin tidak akan melanjutkan gerakannya dari Saudi Arabia. Setelah mereka tinggal di tengah-tengah kita selama beberapa tahun, akhirnya mereka butuh mata pencaharian. Dan kamipun membukakan lapangan pekerjaan untuk mereka. Dari mereka ada yang diterima sebagai tenaga pengajar, bahkan menjadi dekan sebagian fakultas. Kami berikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi tenaga pengajar di sekolah dan perguruan tinggi kami. Akan tetapi, sangat disayangkan, mereka tidak melupakan hubungan mereka di masa lalu. Mulailah mereka memobilisasi masyarakat, membangun gerakan dan memusuhi Kerajaan Saudi.”

Dan kepada harian Kuwait “Arab Times” pada hari Rabu, 18 Desember 2002 M, kembali pangeran Nayif berkata: “Sesungguhnya mereka (Ikhwânul Muslimîn) mempolitisasi agama Islam guna mencapai kepentingan pribadi mereka.”

Sekedar membuktikan akan kebenaran dari pengakuan Dr Aiman Al-Zawâhiri di atas, berikut saya nukilkan dua ucapan Sayyid Quthub:

Nukilan 1 :

نَحْنُ نَدْعُوْ إِلَى اسْتِئْنَافِ حَيَاةٍ إِسْلاَمِيَّةٍ فِيْ مُجْتَمَعٍ إِسْلاَمِيٍّ تَحْكُمُهُ الْعَقِيْدَةُ اْلإِسْلاَمِيَّةُ وَالتَّصَوُّرُ اْلإِسْلاَمِيُّ كَمَا تَحْكُمُهُ الشَّرِيْعَةُ اْلإِسْلاَمِيَّةُ وَالنِّظَامُ اْلإِسْلاَمِيُّ. وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ الْحَيَاةَ اْلإِسْلاَمِيَّةَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ قَدْ تَوَقَّفَتْ مُنْذُ فَتْرَةٍ طَوِيْلَةٍ فِيْ جَمِيْعٍ ِلأَنْحَاءِ اْلأَرْضِ، وَإِنَّ وُجُوْدَ اْلإِسْلاَمِ ذَاتِهُ مِنْ ثَمَّ قُدْ تَوَقَّفَ كَذَالِكَ

“Saya menyeru agar kita memulai kembali kehidupan yang islami di satu tatanan masyarakat yang islami. Satu masyarakat yang tunduk kepada akidah Islam, dan tashawur (pola pikir) yang islami pula. Sebagaimana masyarakat itu patuh kepada syari’at dan undang-undang yang Islami. Saya menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan semacam ini telah tiada sejak jauh-jauh hari di seluruh belahan bumi. Bahkan agama Islam sendiri juga telah tiada sejak jauh-jauh hari pula.” [Al 'Adâlah Al-Ijtimâ'iyah 182].

Nukilan 2 :

وَحِيْنَ نَسْتَعْرِضُ وَجْهَ اْلأَرْضِ كُلَّهُ اْليَوْمَ عَلَى ضَوْءِ هَذا التَّقْرِيْرِ اِْلإلَهِيْ لِمَفْهُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلإِسْلاَمِ، لاَ نَرَى لِهَذَا الدِّيْنِ وُجُوْدًا

“Dan bila sekarang kita mengamati seluruh belahan bumi berdasarkan penjelasan ilahi tentang pemahaman agama dan Islam ini, niscaya kita tidak temukan eksistensi dari agama ini.” [Al- 'Adâlah Al-Ijtimâ'iyah hlm. 183].

Saudaraku! sebagai seorang Muslim yang beriman, apa perasaan dan reaksi anda setelah membaca ucapan ini?

Demikianlah, ideologi ekstrim yang diajarkan oleh Sayyid Quthub melalui bukunya yang oleh Dr Aiman Al-Zawâhiri disebut sebagai “Dinamit”. Pengkafiran seluruh lapisan masyarakat yang tidak bergabung ke dalam barisannya.

Mungkin karena belum merasa cukup dengan mengkafirkan masyarakat secara umum, Sayyid Quthub dalam bukunya “Fî Zhilâlil Qur’ân” ketika menafsirkan surat Yûnus ayat 87, ia menyebut masjid-masjid yang ada di masyarakat sebagai “Tempat peribadahan Jahiliyah”. Sayyid Quthub berkata:

اعْتِزَالُ مَعَابِدِ الْجَاهِلِيَّةِ وَاتِّخَاذُ بُيُوْتِ الْعِصْبَةِ الْمُسْلِمَةِ مَسَاجِدَ. تُحِسُّ فِيْهَا بِاْلاِنْعِزَالِ عَنِ الْمُجْتَمَعِ الْجَاهِلِيِّ؛ وَتُزَاوِلُ فِيْهَا عِبَادَتَهَا لِربِّهَا عَلَى نَهْجٍ صَحِيْحٍ؛ وتُزَاوِلُ بِالْعِبَادَةِ ذَاتِهَا نَوْعاً مِنَ التَّنْظِيْمِ فِيْ جَوِّ الْعِبَادَةِ الطَّهُوْرِ

“Bila umat Islam ditindas di suatu negeri, maka hendaknya mereka meninggalkan tempat-tempat peribadahan jahiliyah. Dan menjadikan rumah-rumah anggota kelompok yang tetap berpegang teguh dengan keislamannya sebagai masjid. Di dalamnya mereka dapat menjauhkan diri dari masyarakat jahiliyah. Di sana mereka juga menjalankan peribadahan kepada Rabbnya dengan cara-cara yang benar. Di waktu yang sama, dengan mengamalkan ibadah tersebut, mereka berlatih menjalankan semacam tanzhîm dalam nuansa ibadah yang suci.”

Yang dimaksud “Ma`âbid Jâhiliyah”(tempat-tempat ibadah jahiliyah) adalah masjid-masjid kaum Muslimin yang ada. Bisa bayangkan! Para pemuda, yang biasanya memiliki idealisme tinggi dan semangat besar, lalu mendapatkan doktrin semacam ini, kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Benar-benar Sayyid Quthub menanamkan ideologi teror pada akal pikiran para pengikutnya.

Dan sudah barang tentu, ia tidak berhenti pada penanaman ideologi semata. Ia juga melanjutkan doktrin terornya dalam wujud yang lebih nyata. Simaklah, bagaimana ia mencontohkan aplikasi nyata dari ideologi yang ia ajarkan:

لِهَذِهِ اْلأَسْبَابِ مُجْتَمِعَةً فَكَّرْنَا فِيْ خِطَّةٍ وَوَسِيْلَةٍ تَرُدُّ اْلاِعْتَِدَاءَ .. وَالَّذِيْ قُلْتُهُ لَهُمْ لِيُفَكِّرُوْا فِيْ الْخِطَّةِ وَالْوَسِيْلَةِ بِاعْتِبَارِ أَنَّهُمْ هُمُ الَّذِيْنَ سَيَقُوْمُوْنَ بِهَا ِبِمَا فِيْ أَيْدِيْهِمْ مِنْ ِإمْكَانِيَاتٍ لاَ أَمْلِكُ أَنَا مَعْرِفَتَهَا بِالضَّبْطِ وَلاَ تَحْدِيْدَهَا…….. .. وَهَذِهِ اْلأَعْمَالُ هِيَ الرَّدُّ فَوْرَ وُقُوْعِ اعْتِقَالاَتٍ ِلأَعْضَاءِ التَّنْظِيْمِ بِإِزَالَةِ رُؤُوْسٍ فِيْ مَقْدَمَتِهَا رَئِيْسُ الْجُمْهُوْرِيَّةِ وَرَئِيْسُ الْوِزَارَةِ وَمُدِيْرُ مَكْتَبِ الْمُشِيْرِ وَمُدِيْرُ الْمُخَابِرَاتِ وَمُدِيْرُ اْلبُوْلِيْسِ الْحَرْبِيْ، ثُمَّ نَسْفٌ لِبَعْضِ الْمَنْشَآتِ الَّتِيْ تَشِلُ حَرَكَةً مَوَاصَلاَتِ الْقَاهِرَةِ لِضِمَانِ عَدَمِ تَتَبًّعِ بَقِيَّةِ اْلإِخْوَانِ فِيْهَا وَفِيْ خَارِجِهَا كَمَحَطَّةِ الْكَهْرَبَاءِ وَالْكِبَارِيْ،

“Menimbang berbagai faktor ini secara komprehensif, saya memikirkan suatu rencana dan cara untuk membalas perbuatan musuh. Aku pernah katakan kepada para anggota jama`ah: “Hendaknya mereka memikirkan suatu rencana dan cara, dengan mempertimbangkan bahwa mereka pulalah yang akan menjadi eksekutornya. Tentunya cara itu disesuaikan dengan potensi yang mereka miliki. Saya tidak tahu dengan pasti cara apa yang tepat bagi mereka dan saya juga tidak bisa menentukannya …… Tindakan kita ini sebagai balasan atas penangkapan langsung beberapa anggota organisasi Ikhwânul Muslimîn. Kita membalas dengan menyingkirkan pimpinan-pimpinan mereka, terutama presiden, perdana mentri, ketua dewan pertimbangan agung, kepala intelijen dan kepala kepolisian. Balasan juga dapat dilanjutkan dengan meledakkan mengebom berbagai infrastruktur yang dapat melumpuhkan transportasi kota Kairo. Semua itu bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada anggota Ikhwânul Muslimîn di dalam dan luar kota Kairo. Serangan juga dapat diarahkan ke pusat pembangkit listrik dan jembatan layang.” [Limâzâ A'adamûni oleh Sayyid Quthub hlm: 55]

Pemaparan singkat ini menyingkap dengan jelas akar dan sumber pemikiran ekstrim yang melekat pada jiwa sebagian umat Islam di zaman ini.

Hanya saja, perlu diketahui bahwa menurut beberapa pengamat, gerakan Ikhwânul Muslimîn dalam upaya merealisasikan impian besarnya, telah terpecah menjadi tiga aliran:

1. Aliran Hasan al-Banna

Dalam mengembangkan jaringannya, Hasan al-Banna lebih mementingkan terbentuknya suatu jaringan sebesar-besarnya, tanpa perduli dengan perbedaan yang ada di antara mereka. Kelompok ini senantiasa mendengungkan slogan:

نَجْتَمِعُ عَلَى مَا اتَّفَقْنَا عَلَيْهِ وَيَعْذِرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيْمًا اخْتَلَفْنَا فِيْهِ

“kita bersatu dalam hal yang sama, dan saling toleransi dalam setiap perbedaan antara kita”.

Tidak mengherankan bila para penganut ini siap bekerja sama dengan siapa saja, bahkan dengan non Muslim sekalipun, demi mewujudkan tujuannya. Prinsip-prinsip agama bagi mereka sering kali hanya sebatas pelaris dan pelicin agar gerakannya di terima oleh masyarakat luas. Tidak heran bila corak politis nampak kental ketimbang agamis pada kelompok penganut aliran ini. Karenanya, dalam perkumpulan dan pengajian mereka, permasalahan politik, strategi pergerakan dan tanzhîm sering menjadi tema utama pembahasan.

2. Aliran Sayyid Quthub

Setelah bergabungnya Sayyid Quthub ke dalam barisan Ikhwânul Muslimîn, terbentuklah aliran baru yang ekstrim pada tubuh Ikhwânul Muslimîn. Pemikiran dan corak pergerakannya lebih mendahulukan konfrontasi. Ia menjadikan pergerakan Ikhwânul Muslimîn terbelah menjadi dua aliran. Melalui berbagai tulisannya Sayyid Quthub menumpahkan ideologi ekstrimnya. Tanpa segan-segan ia mengkafirkan seluruh pemerintahan umat Islam yang ada, dan bahkan seluruh lapisan masyarakat yang tidak sejalan dengannya. Karenanya ia menjuluki masjid-masjid umat Islam di seluruh penjuru dunia sebagai “Tempat peribadatan jahiliyyah”.

Dan selanjutnya, tatkala pergerakannya mendapatkan reaksi keras dari penguasa Mesir di bawah pimpinan Jamal Abdun Nâsir, ia pun menyeru pengikutnya untuk mengadakan perlawanan dan pembalasan, sebagaimana diutarakan di atas.

3. Aliran Muhammad Surûr Zaenal Abidin

Setelah pergerakan Ikhwânul Muslimîn mengalami banyak tekanan di negeri mereka, yaitu Mesir, Suria, dan beberapa negeri Arab lainnya, mereka berusaha menyelamatkan diri. Negara yang paling kondusif untuk menyelamatkan diri dan menyambung hidup ketika itu ialah Kerajaan Saudi Arabia. Hal itu itu karena penguasa Kerajaan Saudi saat itu begitu menunjukkan solidaritas kepada mereka yang ditindas di negeri mereka sendiri. Lebih dari itu, pada saat itu kerajaan Saudi sedang kebanjiran pendapatan dari minyak buminya, mereka membuka berbagai lembaga pendidikan dalam berbagai jenjang, sehingga mereka kekurangan tenaga pengajar. Jadi, keduanya saling membutuhkan. Untuk itu, mereka diterima dengan dua tangan terbuka oleh otoritas Pemerintah Saudi Arabia. Selanjutnya, mereka pun dipekerjakan sebagai tenaga pengajar di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di sana.

Di sisi lain, Pemerintah Mesir, Suria dan lainnya merasa terbebaskan dari banyak pekerjaannya. Mereka tidak berkeberatan dengan sikap Pemerintah Saudi Arabia yang memberikan tempat kepada para pelarian Ikhwânul Muslimîn, sebagaimana ditegaskan oleh Pangeran Nayif bin Abdul Azîz di atas.

Selama tinggal di Kerajaan Saudi Arabia inilah, beberapa tokoh gerakan Ikhwânul Muslimîn berusaha beradaptasi dengan paham yang diajarkan di sana. Sebagaimana kita ketahui, Ulama’-Ulama’ Saudi Arabia adalah para penerus dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb rahimahullah yang anti-pati dengan segala bentuk kesyirikan dan bid’ah. Sehingga, selama mengembangkan pergerakannya, tokoh-tokoh Ikhwânul Muslimîn turut menyuarakan hal yang sama. Hanya dengan cara inilah mereka bisa mendapatkan tempat di masyarakat setempat. Inilah faktor pembeda antara aliran ketiga dari aliran kedua, yaitu adanya sedikit perhatian terhadap tauhid dan sunnah. Walaupun pada tataran aplikasinya, masalah tauhid acap kali dikesampingkan. Karenanya, di antara upaya Kerajaan Saudi Arabia dalam menanggulangi ideologi sesat ini ialah dengan berupaya membersihkan pemikiran masyarakatnya dari doktrin-doktrin Sayyid Quthub yang terlanjur meracuni pemikiran sebagian mereka. Di antara terobosan yang menurut saya cukup bagus dan layak di tiru ialah:

1. Menarik kitab-kitab yang mengajarkan ideologi ekstrim dari perpustakaan sekolah. Di antara kitab-kitab yang di tarik ialah kitab: Sayyid Quthub Al-Muftarâ ‘alaih dan kitab Al-Jihâd Fî Sabîlillâh

2. Membentuk badan rehabitilasi yang beranggotakan para Ulama’ guna meluruskan pemahaman dan menetralisasi doktrin ekstrim yang terlanjur meracuni akal para pemuda.

Terobosan kedua ini terbukti sangat efektif, dan berhasil menyadarkan ratusan pemuda yang telah teracuni oleh pemikiran ekstrim, sehingga mereka kembali menjadi anggota masyarakat yang sewajarnya.

Mengakhiri pemaparan ringkas ini, ada baiknya bila saya mengetengahkan pernyataan Pangeran Sa’ûd al-Faisal, Menteri Luar Negeri Kerajaan Saudi Arabia, pada pertemuan U.S.-Saudi Arabian Business Council (USSABC) yang berlangsung di kota New York, pada tanggal 26 April 2004. Pangeran Sa’ûd berkata: “Menanggapi tuduhan-tuduhan ini, sudah sepantasnya bila anda mencermati fenomena jaringan al-Qaedah bersama pemimpinnya bin Lâdin. Walaupun ia terlahir di Saudi Arabia, akan tetapi ia mendapatkan ideologi dan pola pikirnya di Afganistan. Semuanya berkat pengaruh dari kelompok sempalan gerakan Ikhwânul Muslimîn. Saya yakin, hadirin semua telah mengenal gerakan ini. Fakta ini membuktikan bahwa Saudi Arabia dan seluruh masjid-masjidnya terbebas dari tuduhan sebagai sarang ideologi tersebut.

Dan kalaupun ada pihak yang tetap beranggapan bahwa Saudi Arabia bertanggung jawab atas kesalahan yang telah terjadi, maka sudah sepantasnya Amerika Serikat juga turut bertanggung jawab atas kesalahan yang sama. Dahulu kita bersama-sama mendukung perjuangan mujahidin dalam membebaskan Afganistan dari penjajahan Uni Soviet. Dan setelah Afganistan merdeka, kita membiarkan beberapa figur tetap bebas berkeliaran, sehingga mereka dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak jelas. Kita semua masih mengingat, bagaimana para mujahidin disambut dengan penuh hormat di Gedung Putih. Bahkan tokoh fiktif Rambo dikisahkan turut serta berjuang bersama-sama dengan para mujahidin.” [Sumber situs resmi Kementerian Luar Negeri Kerajaan Saudi Arabia: http://www.mofa.gov.sa/Detail.asp?InNewsItemID=39825%5D

Semoga pemaparan singkat ini dapat sedikit membuka sudut pandang baru bagi kita dalam menyikapi berbagai ideologi, sikap dan pergerakan ekstrim yang berkembang di tengah masyarakat kita. Salawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan Sahabatnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10//Tahun XIII/1431H/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Ref8: http://www.almanhaj.or.id/

Ketua PKS Pengajar di Harvard

Zulkieflimansyah (www.zulkieflimansyah.com)

VIVAnews - Sikap Partai Keadilan Sejahtera yang perhatian dengan Palestina sering disalahartikan tidak menyukai yang berbau Amerika Serikat. Zulkieflimansyah, salah satu Ketua PKS, menjadi bukti pemahaman itu tak benar.

Zul, yang lahir di Sumbawa Besar, 18 Mei 1972, bahkan mengaku menjadi pengajar tamu di Universitas Harvard, salah satu perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat. Doktor Ekonomi Industri jebolan Department of Economics, University of Strathclyde, Glasgow, Inggris, ini memang selain aktif berpolitik juga tercatat sebagai salah satu dosen di Universitas Indonesia, tempat dia meraih sarjana ekonomi.

“PKS itu cukup sering disalahpahami di Amerika,” kata Zul kepada VIVAnews.com, Selasa 19 April 2011 malam. “Saya cukup sering ke Amerika, saya masih jadi pengajar di Harvard University,” katanya.

Zul adalah senior research fellow di Kennedy School of Government di Harvard University, Amerika Serikat. Sebelumnya dia pernah menjalani kuliah non gelar di sana.

“Menurut saya, sama-sama saling memanfaatkanlah, saling menuai manfaat. Jadi PKS itu bisa mengenal lebih banyak orang di luar partai. Harus diakui Amerika maju sekali. Kalau teman-teman Amerika juga tidak melulu memandang PKS kaum konservatif, tapi memahami PKS sebagai [kumpulan] manusia biasa terdiri berbagai latar belakang pemikiran,” kata Zul yang pernah mencalonkan diri jadi Wakil Gubernur Banten itu.

Namun, Zul memahami, banyak teman-teman separtainya masih apriori dengan Amerika Serikat atau yang berbau ‘Barat’. “Sedikit-sedikit ini rekayasa Israel, rekayasa Yahudi, ini stereotyping seperti itu nggak benar,” kata Zul.

Cara pandang ini, menurut Zul,  untuk mengubahnya pelan-pelan, mungkin dengan kerja sama, saling berinteraksi itu akan menemukan kesepahaman bahwa  tidak boleh mengklaim diri paling suci, paling benar. “Anasir kebaikan itu ada di mana-mana, PKS tidak boleh menjadikan dirinya centre of the world,” kata Zul yang pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia itu.

Dan Zul mengaku, kini kerap berperan sebagai jembatan antara PKS dengan dunia ‘Barat’ seperti dengan pihak Amerika Serikat. “Radikalisme itu tidak bisa menyelesaikan masalah, justru tidak mendapat tempat,” kata Zul yang mengenyam sekolah menengah atas di Australia selama setahun itu. (sj)

• VIVAnews Bangga ada orang indonesia bisa ngajar di harvard.. ngga kaya orang-orang yg komen di mari..banyak omong tapi ga ada kontribusinya buat Indonesia.manchesteria | 21/04/2011
mungkin om zul jg tw intisari seniperang suntzu “keunggulan tertinggi adalah kemampuan menembus pertahanan musuh tanpa harus berperang..” “Anasir kebaikan itu ada di mana-mana, PKS tidak boleh menjadikan dirinya centre of the world,”..moga moga aja kader PKS tau apa yang dimaksud ..kepentingan bangsa dan negara ini yg harus diutamakan.Jangan hanya membesarkan nama partai doang..Saya khawatir tokoh Islam Liberal seperti Abdul Moqsith Ghazali, M. Luthfie Assyaukanie, Nong Darol Mahmada, Siti Musdah Mulia, Ulil Abshar-Abdalla dll, kedepan nantinya bisa menjadi kader PKS. Ini resiko PKS menjadi partai inklusif.wong_alit | 20/04/2011
Ini menunjukan sudah ada benih pemahaman Pluralisme dan Liberalisme dalam yg tumbuh di sebagian kecil kader PKS.. wong_alit | 20/04/2011
Anggota DPR dari fraksi PKS Nasir Djamil, mengutip dari Injil Mathius18:5 untuk membenarkan argumennya dlm pembacaan pandangan fraksi-fraksi di Komisi Hukum DPR terhadap RUU Peradilan Anak, Senin (28/3/2011). Kenapa tidak diambil dali dari Al Qur’an??? genitdotcom | 20/04/2011
Insya allah gak mungkin… karena di PKS ada sistem pengkaderan yang cukup lama dengan interaksi satu dengan yang lain baik dari pemikiran, ide, pandangan ato sikap2nya dalam pertemuan mingguan. sangat susah. “Zul mengaku, kini kerap berperan sebagai jembatan antara PKS dengan dunia ‘Barat’” artinya, rela menjadi kacung Amrik. Dapat apa, sih Zul, jual partai ini untuk kepentingan Amrik?arazid | 20/04/2011
Mengagajar di harvard belum tentu jadi kucing Amrik,,, wajar karena dia orang pintar. Jadi profesional. siapa tahu dia mau memperkenalkan islam lebih dekat. surrender | 20/04/2011
Bagi yang mau berprasangka baik kepada orang-orang seperti Zul ini, baca lagi qs ali imran:118.

Ref9=> http://beritaterkinigratis.com/2011/04

Membaca Aliran Politik PKS Pasca Ritz Carlton

Tulisan ini, sesuai judulnya, mencoba membaca apa yang sebenarnya terjadi dalam diri PKS, khususnya pasca MUNAS 2, 17–20 Juni 2010 di Ritz Carlton. Banyak analisa dan prediksi terhadap nasib dan masa depan PKS setelah para petingginya mendeklarasikan PKS sebagai partai terbuka dari sebelumnya sebagai Partai Dakwah.

Perubahan tersebut tak pelak membuat ramai dunia perpolitikan Indonesia sehingga sepekan setelah MUNAS ke-2 yang diadakan di hotel asing super mewah tersebut, PKS masih menjadi headlines media massa dan menjadi perbincangan banyak kalangan.

Semua yang dilakukan PKS dalam MUNAS ke-2 kali ini sebenarnya —sesuai penjelasan para petinggi PKS, termasuk melakukan perubahan paradigma dan AD-ART— hanyalah sebuah deklarasi dari hajat besar mereka yang sudah terpendam sejak lama; menjadikan PKS sebuah partai terbuka yang fenomenanya sudah dapat dilihat sejak MUKERNAS Bali 2008 yang lalu.

Sedangkan motivasi utamanya tak lain ialah bahwa elite PKS sangat berharap partai mereka menjadi besar, paling tidak meraih tiga besar dalam Pemilu 2014 yang akan datang, seperti yang dijelaskan para elitenya dalam berbagai kesempatan.

Jika harapan di atas tercapai, PKS kemungkinan besar akan meraih tampuk tertinggi kepemimpinan negeri yang berpenduduk 240 juta jiwa ini, yakni Presiden RI, atau paling apes Wapres RI di tahun 2014 yang akan datang.

Sebab itu, satu-satunya jalan di mata para elite PKS (grassroots-nya belum tentu demikian), ialah dengan memutuskan sebagian ikatan tali Islam dan menggantinya dengan ikatan tali Nasionalisme. Artinya, PKS memiliki dua ikatan dalam waktu yang bersamaan. Konsekuensinya ialah mereka harus mendeklarasikan PKS menjadi partai terbuka dari sebelumnya sebagai Partai Dakwah.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah dengan menjadi partai terbuka itu PKS dijamin akan menjadi partai 3 besar yang akan menyaingi Partai Demokrat, Partai Golkar dan PDIP? Bukankah sebelumnya PKB dan PAN sudah menempuh jalan yang sama, akan tetapi tetap saja menjadi partai yang sulit berkembang apalagi membesar?

Bahkan nyatanya semakin hari semakin menciut. Bukankah kedua partai tersebut memiliki basis masyarakat –NU dan Muhammadiyah– terbesar dibanding dengan partai-partai lain dan pemimpin mereka –Gus Dur dan Amien Rais– adalah dikenal sebagai tokoh nasional. Di sinilah letak persoalannya sehingga banyak kalangan yang tidak atau belum mampu memahami jalan fikiran para elite PKS itu.

Membangun Citra Partai

Membangun citra partai. Itulah kata-kata yang sering didengungkan oleh para elite PKS, khususnya saudara saya Anis Matta. Sebab itu, Anis Matta dan kawan-kawannya perlu meluruskan beberapa pemahaman kader PKS yang selama ini dianggapnya sebagai belenggu yang menghalangi PKS menjadi partai besar alias berkuasa.

Di antara paham yang harus dibuang ialah cara pandang terhadap harta yang selama belasan tahun atau puluhan tahun diajarkan kepada kader PKS. Kesederhanaan atau zuhud pada dunia yang diajarkan belasan tahun harus dibuang jauh-jauh.

Sebab itu, life style para qiyadah (lebih tepat para elite dan tokoh) PKS harus dirubah dari sederhana menjadi perlente, berlimpah dan bergelimang harta fasilitas hidup, serta sangat borjuis. Tuidak sedikitpun menampakkan sebagai pemimpin partai dakwah. Dalam mengadakan acara-acara resmi PKS, seperti yang kita lihat pada Mukernas Bali 2008 dan MUNAS ke-2 di Ritz Carlton itu, harus dengan menampilkan kemewahan.

Di antara ungkapan yang selalu mereka gunakan untuk meyakinkan para kader partai dalam masalah ini ialah: Menyesuaikan diri. Sebab itu, dalam taujihat (pengarahan-pengarahan) DPP atau DPW dan sebagainya terhadap para kader intinya, sering menyetir cerita onta Nabi Saw adalah yang paling bagus atau mahal, kesuksesan bisnis Abdurrahman Bin Auf dan semua yang terkait dengan kekayaaan dunia lainnya.

Hal ini sangat kontra dengan saat dakwah dimulai tahun 80an dan sampai akhir 90an. Cerita yang diangkat saat itu adalah terkait keikhlasan, kesederhanaan dan keteguhan iman dan akhlak para Sahabat Rasul Saw. dan kehebatan tokoh-tokoh dakwah Ikhwanul Muslimin lainnya. Ada istilah yang dipopulerkan Ust. Hilmi di tahun 80an yakni, tidak perlu memiliki, cukup menikmati saja.

Dengan penampilan perlente dan serba mewah dalam mengadakan acara-acara resmi partai serta uang yang melimpah itu, para elite PKS meyakini akan membuat masyarakat kagum dan kesengsem pada PKS dan para elitenya. Pada akhirnya masyarakat berbondong-bondong akan memilih PKS dalam pemilu tahun 2014 yang akan datang dan Pemilukada lainnya, melebihi dukungan masyarakat terhadap MASYUMI tahun 1955 yang hanya dengan mengusung Islam.

Yang perlu dicermati ialah, dari mana harta dan semua fasilitas itu diraih, para elite PKS sama sekali tidak mempersoalkannya, tsiqoh (percaya) sajalah, yang penting kontribusi (infaknya) pada partai. Penulis tahu persis pemahaman seperti ini sesungguhnya berakar dari pemahaman ketua Majelis Syuro PKS, Ust. Hilmi Aminuddin.

Sebelumnya, Anis Matta tidak punya pemahaman seperti itu kecuali setelah kenal dan berinteraksi intensif dengan beliau sekitar akhir tahun 90an. Sampai akhir tahun 1998, saat bertemu dan berbincang-bincang dengan Anis Matta, dia selalu katakan kepada penulis bahwa bisnis dan harta itu hanya akan menimbulkan perpecahan dan menjaukan seseorang dari dakwah. Bahkan pernah beberapa kali mengakatakan pada penulis; “sudahlah akhi… tinggalkanlah bisnis itu, konsentrasi saja pada dakwah…”

Sesungguhnya pemahaman yang diyakini para elite PKS terkait dengan keduniaan itu disebabkan mereka merasa kurang pede (percaya diri) dengan nilai-nilai orisinil Islam yang mereka yakini saat memulai dakwah ini di awal tahun 80an. Atau mereka sudah jatuh cinta pada berbagai atribut keduniaan, khususnya harta, kedudukan dan ketenaran, atau disebut juga terjangkit virus al-wahn (cinta dunia dan takut mati).

Secara fakta dan tidak terbantahkan, kesejahteraan hidup dan manisnya bunga dunia dan sebagainya baru mereka rasakan setelah terjun di dunia politik praktis selama 12 tahun belakangan, khususnya sejak tahun 2004. Penulis kenal betul setiap pribadi para petinggi PKS, khususnya mereka yang terlibat sebelum 1998, yang dahulunya miskin-miskin.

Membangun Citra dari Positif ke Negatif

Sesungguhnya membangun citra partai atau diri adalah sesuatu yang tidak terlarang. Namun cara PKS yang lahir dari sebuah gerakan dakwah —yang di hadapan kadernya memakai nama gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin— membangun citra partai mengundang penulis untuk membaca aliran politik dan mengomentarinya. Khususnya setelah banyak kalangan yang sulit memahami logika dan jalan fikir para elite PKS.

Lazimnya dalam dunia politik, bahwa seorang politisi akan membangun citra diri dan partainya sesuai dengan ideologi yang dianutnya. Manuver-manuver yang dilakukan dalam membangunan citra itu biasanya dibangun dari negatif menjadi positif berdasarkan paradigma dan pemikiran komunitas atau konstituen yang dibidik, tanpa harus merubah dasar ideologinya.

Kemudian, pencitraan itu dilakukan sejak awal merancang partai yang mereka dirikan atau sejak mereka berniat memasuki dunia poltik, bukan dilakukan di tengah jalan seperti para olahragawan mengganti baju mereka di ruang ganti pakaian saat istirahat.

Kalau pertimbangannya hanya sebuah kemenangan Pemilu, sebenarnya citra yang sangat laku dijual di hampir seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia, adalah yang berbau nasionlis-religius, karena mayoritas Muslim belum meyakini Islam sebagai ideologi negara (The Way of Life) yang mampu menjawab semua persoalan kehidupan modern. Pada waktu yang sama, mereka juga tidak mau kehilangan formalitasnya sebagai Muslim.

Kondisi psikologis masyarakat Muslim seperti itu biasanya disebut dengan sekular atau masih mendua. Kegagalan partai-partai Islam —termasuk PKS sebelum berganti baju— dalam melakukan terobosan-terobosan besar dan kreatif dalam berbagai hal kehidupan telah pula menambah keyakinan kaum Muslimin nasionalis untuk istiqomah dengan nasionalisme atau sekularisme mereka.

Di seluruh dunia Islam diperhitungkan terdapat sekitar 20% dari seluruh masyarakat Muslim memahami atau paling tidak meyakini Islam sebagai solusi. Namun mereka terpolarisasi dalam berbagai gerakan dakwah.

Kecuali di Palestina mencapai 60% dan di Aljazair jumlahnya sekitar 80%. Sebab itu, HAMAS menang dalam pemilu tahun 2006 dengan mengantongi sekitar 60% suara, demikian juga FIS menang di pemilu Aljazair tahun 1994 dengan meraih sekitar 80% suara.

Adapun di Turki Partai Keadilan dan Pembangunan yang sebelumnya bernama Partai Refah (Kesejahteraan) meraih suara sekitar 20% dalam pemilu 15 tahun belakangan, dan jauh sebelumnya MASYUMI di Indonesia menang dalam pemiliu tahun 1955 dengan meraih 20% suara.

Sebenarnya contoh terbaik bagi PKS dalam membangun citra adalah mendiang Benazir Buthoo saat memasuki kancah politik Pakistan tahun 1989, yakni setelah Presiden Ziaulhaq terbunuh dalam peristiwa peledakan pesawat yang ditumpanginya Agustus 1988. Benazir Butho membangun citra pribadi dan partainya Pakistan People Party (PPP) yang sosialis dengan tampilan nasionalis-religius, padahal semua orang Pakistan tahu dia adalah seorang nasionalis-sosialis.

Sebelum memasuki dunia politik Pakistan, Benazir Butho mengangkat Mark Siegel, mantan staf Gedung Putih yang menduduki jabatan Jewish Liaison, dan pensiun tahun 1978 sebagai konsultan politiknya.

Mark Siegel adalah seorang Yahudi yang memiliki hubungan kuat dengan Gedung Putih dan para pemilik modal serta media massa. Mark Siegel berhasil membangun citra Benazir dari negatif menjadi positif.

Di antaranya, Benazir yang sebelumnya suka berpakaian mini (baca: terbuka) harus rela tampil sepanjang hari dengan pakaian wanita ala Pakistan yang serba panjang dan dengan kerudung (selendang) yang selalu menempel di atas kepalanya sehingga terkesan Benazir adalah seorang wanita Muslimah nasionalis yang religious dan jauh dari kesan fundamentalis.

Dengan menggunakan semua media yang ada, Mark Siegel berhasil meniupkan “terompet pencitraan” bagi seorang Benazir di tengah masyarakat Pakista dan bahkan suara terompet itu nyaring kedengaran sampai keseluruh penjuru dunia. Suara nyaring itu meniupkan pesan bahwa Benazir adalah calon pemimpin wanita Muslimah pertama dari Timur (dunia Islam) yang akan mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di Pakistan.

Dengan performance (penampilan), bahasa dan gaya yang di-setting Mark Siegel, Benazir dikesankan sebagai seorang nasionalis-religius atau dalam terminologi Yahudi dan Amerikanya: Muslimah baik-baik dan tidak akan menjadi ancaman bagi kepentingan mereka jika ia berkuasa dan bahkan bisa dijadikan agen atau boneka di Pakistan dan kawasan sekitarnya.

AKhirnya, dalam waktu yang relatif singkat, Benazir berhasil memenangkan pemilu Pakistan 1989. Benazir pun dilantik menjadi Presiden, kendati secara umum sebelumnya masyarakat Pakistan mengetahui Benazir sebagai seorang penganut paham sosialis, perilakunya saat tinggal di luar negeri dengan pakaian mininya, hobi ke diskotik dan sebagainya seperti yang pernah dibeberkan oleh koran Jank, sebuah berita harian Pakistan.

Semua imej dan kesan negatif yang bersemayam dalam diri Benazir berpuluh-puluh tahun itu sirna hanya dengan proses pencitraan ala Mark Siegel dalam waktu sekitar setahun saja. Benazir pun diangkat jadi Presiden Pakistan dan menjadi agen atau boneka Yahudi dan Amerika. Hal itu terbukti bahwa program 100 hari dalam pemerintahannya (meminjam istilah pemerintahan SBY) adalah mengumpulkan data-data nuklir Pakistan yang dibangun Ziaulhaq puluhan tahun untuk diserahkan ke Yahudi dan Amerika.

Ajaibnya, ini pulalah dosa besar Benazir di mata militer dan masyarakat Pakistan sehingga pemerintahannya dikudeta dan kemudian dipenjara dan akhirnya mati terbunuh dalam sebuah ledakan bom beberapa tahun lalu saat berkampanye di Rawal Pindi, kota kembar Islamabad. Riwayat Benazir pun tamat untuk selamanya.

Kalau kita lihat dengan teliti, sebenarnya ada tiga faktor yang menentukan kemenangan Benazir saat itu. Pertama, pencitraan diri dari negatif menjadi positif. Kedua, peran media massa dunia, baik lokal maupun internasional —yang memang sampai saat ini dikuasai Yahudi— dalam mengekspos Benazir sebagai pemimpin besar Dunia Islam dengan format nasionalis-religius. Ketiga yang tak kalah pentingnya ialah Benazir dimodali oleh kelompok kapitalis yang dilobi oleh Mark Siegel sehingga serangan fajar (money politic) sangat efektif untuk meraup suara, khususnya di wilayah-wilayah yang tingkat pendidikan masyarakatnya masih rendah.

Semua itu tak terlepas dari kehebatan gocekan cerdas seorang Yahudi yang bernama Mark Siegel yang konon mendapatkan bayaran $ 40.000 perbulan di luar biaya-biaya lain yang harus digelontorkan Benazir Butho kepada sang konsultan kawakan itu. Dari mana Benazir mendapatkan dananya?

Di samping suaminya Ali Zardari yang jadi Presiden Pakistan Sekarang adalah seorang pengusaha, dana pihak Bandar kapitalis dunia yang siap memodali Benazir berapapun, asalkan ada kompensasinya setelah menang Pemilu dan behasil jadi Presiden.

Di Indonesia dunia para bandar kapitalis seperti itu tidaklah asing, bahkan sampai ke tingkat pemilihan kepala daerah seperti Gubernur dan Bupati.

Kalau kita cermati dengan teliti, model pencitraan seperti ini pulalah sebenarnya yang menyebabkan SBY menang dalam pemilu 2004 dan 2009. Bahkan kemenangan Anas Urbaningrum —mantan petinggi HMI yang nasionalis-religius— sebagai Ketua Partai Demokrat beberapa waktu lalu dapat pula dibaca sebagai kelanjutan pencitraan SBY dalam membangun Partai Demokrat yang masih tetap menjaga citra nasionalis-religiusnya.

Akan lain halnya jika Marzuki Ali atau Andi Malarangeng yang terpilih, maka citra religius partai Demokrat bisa hilang di mata masyarakat. Untuk menang Pemiliu di Indonesia, khususnya di tengah terpecahnya suara kaum Muslimin yang meyakini Islam sebagai The Way of Life ke dalam beberapa partai, maka nasionalis saja tidak cukup seperti yang ditampilkan PDIP. Diperlukan kata religius agar bisa memikat hati mayoritas Muslim yang masih sekuler dan fanatik pada kelompok masing-masing.

Aliran Politik

Untuk memahami manuver politik elite PKS dan juga partai-partai politik lainnya haruslah dilihat aliran politik apa yang mereka anut. Kalau tidak, kita akan kesulitan membacanya dengan pas dan baik. PKS adalah partai politik Islam-Nasionalis.

Paling tidak, itulah coba dikesankan oleh para elitenya dalam perhelatan akbar di hotel Ritz Carlton sepekan yang lalu. Sebab itu, tidak perlu heboh jika para elitenya mengumumkan PKS adalah partai terbuka bagi siapa saja dan apa saja agamanya.

Pengakuan mereka terhadap pancasila adalah final dan sebagainya juga tak perlu diperdebatkan. Memang demikianlah konsekuensi menjadi partai nasionalis Indonesia.

Demikian pula gaya hidup para elitenya yang berlimpah harta dan mengadakan berbagai kegiatan yang menghabiskan dana puluhan milyar rupiah di tengah mayoritas kader dan simpatisannya hidup miskin, kalau tidak dikatakan di bawah garis kemiskinan tidak perlu diperdebatkan, karena demikianlah gaya partai-partai politik nasionalis yang haus kekuasaan dan harta.

Kebingungan kebanyakan kader saat ber-istinjak (istilah fiqih dalam bersuci dari hadas dan najis) di hotel mewah Ritz Carlton sehingga memerlukan ember tidak perlu dicermati, karena kalau kader mau maju harus membiasakan diri dengan keduniaan dan kemewahan kendati syarat-syarat fiqh Islamnya tidak terpenuhi. Gak apalah kali ini pake ember untuk bersuci. Toh di masa yang akan datang mereka sudah mengerti bagaimana bersuci ala barat Ritz Carlton dan sejenisnya.

Begitu juga bagaimana disorot kamera tv yang melansirkan diri mereka ke seluruh penjuru tanah air sperti saat Rahma Sarita dari TV One mewawancara beberapa elite PKS.

Wajah-wajah lugu dan sumringah muncul dan berdesak-desakkan sampai menempel dengan Rahmah Sarita. Persoalan ikhtilath —cambur baur dengan lawan jenis yang tidak mahram— tidak perlu dikritik. Kan sudah partai terbuka dan nasionalis?

Bagaimana cara menjalankan kaderisasi partai sehingga mesin partainya efektif dengan dua dunia yang berbeda karakternya (Muslim dengan konsep dakwah dan non Muslim konsep partai) kita juga tidak perlu khawatir. Toh ada sapu jagatnya dengan prinsip semua agama sama seperti yang diajarkan oleh para tokoh sekular dan nasionalis negeri ini. Pokoknya semua yang haram dalam pandangan Partai Dakwah akan menjadi halal dalam pandangan Partai Nasionalis.

Seharusnya para elite PKS men-setting partai mereka menjadi partai nasionalis tulen dan sejati dan jangan setengah-setengah jika benar-benar ingin memenangkan pemilu 2014 sebagaimana yang dilakukan Benazir Butho dengan PPP-nya tahun 1989 dan SBY dengan PD-nya pada tahun 2004 dan 2009.

Keduanya meraih tampuk kepemimpinan tertinggi Negara dalam waktu yang relatif singkat, yakni antara satu sampai tiga tahun saja. Bandingkan dengan para elite PKS yang sudah berpolitik praktis sejak 12 tahun lalu, mereka masih sibuk tukar pakaian (fashion), obral statement, menempel dan menjilat penguasa sehinga ketua Majlis Syuranya berani mengatakan dalam MUNAS ke-2: “Bapak Presiden SBY, bagi kami kebersamaan dalam koalisi ini bukan sekedar agenda program poltik kami. Tetapi itu merupakan aqidah kami, iman kami.”

Sebenarnya PKS sudah memilki pilar-pilar untuk memenangkan pemilu 2014, seperti partai sudah menjadi nasionalis, Pancasila sudah diakui final, UUD 45 sudah diakui sebagai landasan bernegara, cara-cara mengembangkan partai, memperluas jaringan anggota dan gaya hidup para elitenya sudah meniru cara-cara partai nasionalis lainnya.

Namun demikian ada yang kurang dari PKS sebagai sebuah partai nasionalis dan terbuka, yakni pemimpin atau tokoh yang bisa dipoles (baca: direkayasa) menjadi pemimpin nasional versi nasionalisme sejati seperti yang dimiliki oleh PPP di Pakistan pada 1989 dan PD pada 2004 dan 2009. Jika PPP punya Benazir Butho dan PD punya SBY, maka PKS punya siapa?

Menurut hemat penulis hanya Ketua Majelis Syuro PKS yang pantas menjadi tokoh itu. Penilaian ini berdasarkan pengenalan penulis terhadap diri beliau sejak 1987. Beliaulah yang punya bakat dan talenta untuk menjdi pemimpin versi PKS yang nasionalis dan terbuka itu. Selama beliau masih hidup, tidak akan ada yang mampu menyainginya, apalagi menggantikannya.

Beliau tidak akan berkembang lebih besar lagi dari yang ada sekarang dengan paradigma PKS sebagai Partai Dakwah. Akan tetapi mungkin saja berhasil membawa PKS menjadi partai besar dan menjadi Presiden RI dalam wadah PKS sebagai partai nasionalis. Namun, kata kuncinya terletak pada konsultan yang dipakai. Kalau konsultannya kelas lokal, mungkin akan masih sulit.

Tapi jika konsultan politiknya dari mancanegara, katakanlah sekelas Mark Siegel seperti yang dilakukan Benazir Butho sangat mungkin sekali. Soal background masa lalu tidak jadi masalah. Semuanya bisa diatur oleh konsultan tersebut, termasuk soal kucuran dana pemilu dan sebagainya.

Fatamorgana

Melihat PKS sebagai Partai Dakwah amatlah musykil. Sebab itu, jika ada yang berharap PKS akan memperjuangkan nilai-nilai Islam secara totalitas sampai ke akarnya sehingga negeri ini menjadi Baldatun Thayyibatun Warobbun Ghafur (bersih, peduli dan profesional —meminjam istilah PKS sebelumnya— dan Allah pun ridha) adalah merupakan fatamorgana, seperti yang mereka cantumkan di dalam platform kebijakan pembangunan dengan judul memperjuangkan masyarat madani.

Buku setebal 643 halaman itu dalam membahas Dialektika Islam dan Negara pada halaman 72 tercantum sebagai berikut:

“Dalam konteks ini maka pilihannya bukan negara Islam yang menerapkan syariah, atau negara sekuler yang menolak syariah. Tapi yang kita inginkan adalah negara Indonesia yang merealisasikan ajaran agama yang menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan universal melalui perjuangan konstitusional dan demokrasi agar dapat hadir masyarakat madani yang dicitakan itu.”

Karena Partai Dakwah itu memiliki prinsip-prinsip sendiri, seperti wala’ kepada kepada Allah, Rasul-Nya, kaum Mukminin dan baro’ kepada setiap sistem tuhan selain Allah, ideologi dan sistem selain Islam.

Strategi dan sarananya tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Islam, program kerja harus jelas dan memberikan manfaat bagi masyarakat dan negeri secara keseluruhan, penegakkan keadilan versi Allah dan Rasul-Nya.

Terkait mewujudkan kesejahteraan rakyat haruslah berdasarkan cara-cara yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. Partai Dakwah tugas utamanya adalah menyeru dan mengajak masyarakat dan pemerintah agar selamat di dunia dan akhirat.

Keselamatan dunia dan akhirat itu hanya dengan sistem Allah. Semua itu dilakukan hanya karena Allah, bukan harta benda dan kekuasaan. Kapan akan meraih kekuasaan atau pemerintahan bukanlah kewajiban Partai Dakwah yang menentukannya, karena yang demikian hanya Allah saja yang tahu dan kapan waktu yang Dia takdirkan. Yang penting, Partai Dakwah bekerja keras sesuai cara, jalan, strategi yang Allah dan Rasul-Nya titahkan.

Buah dan balasan perjuangan tersebut, kalaupun tidak dapat di dunia, maka di akhirat pasti seperti yang Allah janjikan. Sebab itu, kalau kita membaca PKS dengan kacamata Partai Dakwah, maka kita akan kebingungan sendiri.

Kalau kita bingung, jangan salahkan mereka, salahkanlah diri sendiri. Oleh karena itu, bacalah PKS dengan menggunakan kacamata nasionalis (sekuler), dijamin anda tidak akan bingung lagi.

Jadi prinsip ‘al hizbu huwal jama’ah, dan al jama’ah hiyal hizbu (Jama’ah adalah partai, dan partai adalah jama’ah), di mana PKS dahulu itu merupakan wujud dari Jama’ah Ikhwan, dan prinsiip itu  sekarang menjadi sejarah masa lalu.  Allahu A’lam.

Ref10: http://www.eramuslim.com/berita/analisa/membaca-aliran-politik-pks-pasca-ritz-carlton.htm

Berakhirnya Era Partai Dakwah

Oleh : Ridwansyah Yusuf Achmad

Seiring dengan berlangsungnya Munas ke-2 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kedua di salah satu hotel termahal di Nusantara ini, Hotel Ritz-Carlton Jakarta, berakhir pula era partai yang menjadikan dakwah Islam sebagai basis gerakannya. Ini tentu menjadi pukulan telak bagi kalangan yang mengharapkan perubahan dimulai dari gerakan yang berbasis moral dan menjadikan agama sebagai ruh dari gerakan itu.

Ditabuhnya gema reformasi di tahun 1998 memunculkan partai partai bernuansakan Islam baru untuk mendampingi PPP sebagai representatif Islam di masa Orde Baru. Lahirnya PKB, PAN, PBB, dan PKS di era reformasi lalu seakan ingin menjawab kerinduan masa lalu akan romantika kejayaan Partai Masyumi.

Semua partai seakan menggadang-gadang akan menjadi pemersatu partai-partai Islam di Indonesia dengan menjadi idelogi (pure) Islam sebagai basis gerakannya. Akan tetapi seiring waktu satu per satu partai ini berguguran dan mulai menyandingkan istilah nasionalis-religius sebagai citra dari partai tersebut.

Perlahan namun pasti partai Islam ini tidak lagi menjadikan Islam sebagai citra dan ruh pergerakan dari partai tersebut. Tersisalah pada akhir 2004 hanya PKS yang masih cukup berani mencitrakan sebagai partai dakwah Islam.

Pemilu 2009 pun berakhir dengan bisa dikatakan kekalahan dari partai Islam. Semua partai turun dalam peraihan suara kecuali PKS yang hanya naik beberapa poin saja. Hal ini yang mungkin menjadi alasan kenapa pula pada akhirnya PKS menjual semangat dakwahnya menjadi semangat meraih kemenangan suara yang cenderung sangat mengejar popularitas.

Pergeseran pola gerak PKS mulai tampak dengan sangat sejak periode pemerintahan 2009-2014 ini. PKS mulai tampak pragmatis dalam beberapa isu yang ada serta lebih memilih diam atas isu-isu yang memungkinkan PKS terganggu stabilitas koalisi dengan partai pemenang Pemilu 2009. Ini menjadi sebuah pertanyaan bagi kalangan yang berharap banyak pada partai dakwah yang mengklaim dirinya sebaga partai yang bersih peduli dan profesional. PKS seakan saat ini tidak tegas dan keras dalam menegakkan kebenaran.

Jika menilik saat Pemilu 1999 PK (nama sebelum PKS) hanya mengirimkan 7 politisi Islam militan ke Senayan dan seorang Nur Mahmudi Ismail sebagai Menteri Kehutanan. Akan tetapi perubahan yang terasa karena ruh dakwah setiap individu ini berbuah hasil yang signifikan. Sebutlah Menteri Kehutanan Nur Mahmudi Ismail yang dikenal sederhana dan membersihkan koruptor di Kementerian Kehutanan saat itu.

PKS pun tampaknya mulai menggeser beberapa nama kader yang dulu membesarkan partai ini dengan politisi muda yang tampak populis dan pragmatis. Sebutlah nama Hidayat Nur Wahid yang sekarang hilang ditelan bumi. Padahal sebelumnya beliau seorang Ketua MPR. Atau didepaknya nama Saiful Islam yang dikenal sebagai seorang yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari PKS.

Perubahan lain pun terjadi dari pola pergerakan PKS adalah semangat yang ditularkan kepada kadernya. PKS dulu mendoktrin kadernya untuk mengajak masyarakat berislam dengan baik atau berdakwah secara utuh. Akan tetapi kini semangat yang ditularkan adalah untuk mengajak sebanyak-banyaknya orang yang mencoblos PKS. Proses pergerakannya pun hanya sebatas saat pemilu kepala daerah atau pemilu nasional sehingga semakin membenarkan PKS semakin berpikir instan dan pragmatis untuk merebut kemenangan.

Jika dulu semangatnya adalah ilallah (untuk Allah) maka sekarang adalah ilal hizb (untuk partai). Semangat pelayanan dan pengabdian masyarakat yang menjadi jiwa ‘peduli’ PKS pun juga semakin berkurang dan tergantikan dengan politik pencitraan yang menghabiskan banyak uang dan cenderung populis.

Hingga terakhir saat Munas ke-2 ini PKS akhirnya mengorbankan dana sangat besar untuk untuk mengadakan acara di hotel yang memiliki tarif rata-rata kamarnya sekitar 3 juta rupiah. Turut diundangnya Dubes Amerika Serikat dan memberikan kesempatan baginya untuk berbicara menjadi pertanyaan.

Apakah PKS akan bersahabat dengan Amerika Serikat? Jika iya jawabannya maka jelas sangat pragmatisme partai ini dan semakin tampak bahwa PKS bukan lagi partai dakwah. Akan tetapi hanya sekedar partai politik biasa yang mencoba merangkul semua kalangan untuk meraih kemenangan.

ref11: http://al-ikhwany.blogspot.com/2010/06/oleh-ridwansyah-yusuf-achmad-seiring.html)

Segala Cita-Cita Berakhir di Ritz Carlton

Oleh : Muhammad Fatih

Segala cita-cita PKS berakhir di Hotel The Ritz Calrton. Partai PKS tidak lagi menjadi partai dakwah, yang memiliki jargon ‘bersih, peduli, dan profesional’, dan kemudian menjadi partai ‘terbuka’, yang dioreintasikan bagi semua golongan.

Di tempat yang sangat ekslusif, dan hanya dapat dikunjungi oleh kalangan terbatas, di The Ritz Carlton itu, teka-teki tentang kepemimpinan, sasaran, arah, kebijakan, langkah masa depan yang akan dituju Partai PKS, semuanya menjadi ‘clear’. Semuanya sudah terekpresikan dalam Munas II itu.

Dari kepemimpinan tidak ada perubahan tetap wajah-wajah lama, termasuk Ketua Majelis Syuro, yaitu tetap Hilmi Aminuddin. Sasaran yang ingin diraih PKS menjadi partai tiga besar di pemilu 2014. Arah yang dituju PKS menjadi partai terbuka, inklusif, dan mewadahi semuanya golongan dan agama di Indonesia. Tidak eksklusif. Artinya PKS akan menjadi wadah semua golongan dan agama, melepaskan diri dari jati dirinya sebagai partai dakwah, yang membawa cita-cita dan prinsip-prinsip yang ingin menegakkan Islam. Adapun kebijakan PKS tetap menjadi ‘backbone’ (tulang punggung) pemerintahan SBY, dan sekarang mengarah lebih dekat dengan AS. Itulah kesimpulan Munas II PKS, yang baru usai.

PKS yang baru saja selesai melaksanakan Munas II, di Hotel The Ritz Carlton dengan biaya Rp 10 miliar, di mana sebelumnya telah melangsungkan musyawarah Majelis Syura, yang berlangsung medio Mei, di hotel mewah JW Marriott, Kuningan. Pertemuan di JW.Marriot menandai berakhirnya anggota Majelis Syuro, periode 2005-2010, dan sekaligus melantik anggaota Majelis Syuro yang baru, periode 2010-2015.

Dengan disyahkannya anggota Majelis Syuro yang baru itu, selanjutnya dilangsungkan pemilihan Ketua Majelis Syuro, dan pengukuhan presiden partai, pengukuhan ketua MPP (Majelis Pertimbangan Partai), pengukuhan ketua DSP (Dewan Syariah Pusat), dan pengukuhan Ketua Majelis Syuro, Hilmi Aminuddin. Semunya hanya tinggal ‘ketok palu’. Berjalan dengan lancar, dan tidak ada ‘dissent’ (perbedaan), setuju secara aklamasi.

Barangkali inilah sebuah pesta politik luar biasa bagi sebuah partai politik Islam yang selama ini mengusung nilai-nilai da’wah berupa kejujuran, kesederhanaan dan kebersahajaan. Hanya dalam waktu sepuluh tahun, PKS yang awal berdirinya menggunakan prinsip “al-hizbu huwal jama’ah, wal jama’ah hiyal hizb” (partai adalah jama’ah, dan jama’ah adalah partai), di mana PKS yang hakikatnya representasi Jamaah Ikhwan itu, kini telah mengambil jalan baru, yang ingin dicitrakan lebih inklusif, dan tidak eksklusif, kemudian memilih sebagai partai : terbuka.

Ketua Majelis Syuro Hilmi Aminuddin, menegaskan, inklusifitas yang dibangun PKS saat ini sebagai bagian dari konsekuensi pelaksanaan ajaran Islam. Ajaran Islam, kata Hilmi, harus menerima pluralitas sebagai kesadaran positif mendorong dinamika kehidupan. “Inklusif ini bukan taktik atau strategi, tapi pelaksanaan ajaran Islam yang hakiki”, tegasnya. Hilmi Aminuddin, menambahkan, bahwa cita-cita untuk menjadikan PKS sebagai partai terbuka, sejatinya sudah sejak Munas di Bali tahun 2008.

Pernyataan yang lebih ambisius, secara ekplisit disampaikan oleh Sekjen PKS Anis Matta, yang menyatakan, “Kami harus mengadakan lompatan besar untuk masuk menjadi tiga besar pada pemilu 2014”, ujar Anis Matta. “Parpol Islam harus tidak lagi menampilkan citra yang kaku, eksklusif dan ideologis, melainkan justru tampil segar, ringan, pluralis”, tegasnya.

“Isu ‘Negara Islam’ dan ‘Piagam Jakarta’ tak mampu menguatkan identifikasi pemilih muslim kepada parpol Islam. Perubahan substansial harus dilakukan parpol Islam”, tambah Fahri Hamzah, Wakil Sekjen PKS.

PKS memang bertekad melakukan perubahan mendasar dalam gerakan politiknya ke depan, dengan mulai membuka diri sebagai partai politik yang lebih terbuka dari berbagai kalangan. Hal itu terlihat dari sikap PKS yang ingin merangkul non-muslim, bukan saja sebagai anggota partai atau anggota legislatif, tetapi juga pengurus partai dari DPC hingga DPP. Ini terkait dengan langkah kebijakan yang menginginkan PKS menjadi partai tiga besar.

“Apapun agamanya (Yahudi, Nashara, Hindu, Budha) sepanjang memiliki garis perjuangan yang sama, adalah warga PKS”, kata Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq menjelang pembukaan Munas. Dia tidak menampik ada rencana perubahan AD/ART PKS terkait dengan pengakomodasian kalangan non-muslim untuk menjadi pengurus dan pimpinan PKS di setiap level struktural partai.

Menanggapi hal itu, pengamat politik dari Universitas Paramadina, Burhanuddin Muhtadi, menilai sikap PKS yang mengakomodasi kalangan non-muslim sebagai strategi meraih suara lebih besar pada pemilu 2014, “Itu bagian dari strategi PKS untuk memperbesar ceruk pemilih,” katanya.

Untuk menunjang pencapaian target tersebut, PKS menginginkan agar koalisinya dengan pemerintah tetap terjaga dan solid hingga Pemilu 2014 mendatang. “Bapak Presiden SBY, bagi kami kebersamaan dalam koalisi ini bukan sekedar agenda program politik kami, tetapi itu merupakan aqidah kami, iman kami,” tegas Ketua Majelis Syura PKS, Hilmi Aminuddin. “Kalimat itu masih tetap berkobar. Dalam dua masa jabatan SBY itu, kami tetap berkomitmen melanjutkan koalisi permanen dengan SBY,” ujarnya.

Hilmi mengakui banyak pihak yang berusaha mengganggu hubungan PKS dengan SBY. “Banyak yang iri, mengapa utadz Hilmi gampang sekali mondar-mandir ke Cikeas. Tetapi percayalah Pak SBY, bahwa koalisi PKS adalah koalisi dengan Soesilo Bambang Yudhoyono.” kata Hilmi Aminuddin, yang disambut tepuk tangan gemuruh peserta Munas. “Koalisi ini adalah backbone (tulang punggung), apabila patah, maka kaki tidak bisa digerakkan, tangan lunglai, dan kepala terkulai.” tegas Ketua Majelis Syuro.

Dalam pembukaan Munas yang dibuka oleh Presiden SBY dan dihadiri para menteri kabinet, para elit partai politik dan Duta Besar negara sahabat, yaitu Amerika Serikat, Australia dan Jerman, Presiden SBY menasihati Presiden PKS yang mengeluh dengan banyaknya kritikan terhadap PKS sembari mengutip pernyataan Presiden Amerika, Abraham Lincoln, “Apabila besok pagi Presiden Amerika bisa berjalan di atas air, niscaya rakyat Amerika akan berkomentar, “Itu kan karena Presiden tidak bisa berenang”; agar Pak Luthfi sabar dan terus bekerja keras. “Anda belum setahun dikritik. Sedang saya sudah lebih dari lima setengah tahun dikritik”, ujar SBY.

Dalam Sidang Majelis Syura PKS, Rabu (6 Juni), dengan agenda amandemen anggaran dasar/ anggaran rumah tangga (AD/ART) terjadi perdebatan terkait dengan usulan melegal-formalkan keanggotaan dan kepengurusan non-muslim dalam PKS.

Sidang yang berjalan lambat lantaran masih ada anggota Majelis Syura yang keberatan dengan usulan keanggotaan non-muslim. Mereka khawatir pembukaan ruang bagi kalangan non-muslim akan berimbas terhadap basis massa PKS yang berasal dari kalangan Muslim. Namun, pada sidang sesi ke-2 sekitar pukul 23.00, “Semua anggota Majelis Syura akhirnya sepakat melegal-formalkan non-muslim dalam keanggotaan/kepengurusan PKS.” jelas Mahfud Shiddiq, salah seorang panitia Munas II PKS.

Nampaknya, PKS untuk mencapai ambisi politiknya menjadi partai tiga besar dalam pemilu 2014, melakukan ‘double cover’ dalam berpolitik. Partai PKS menjadikan Presiden SBY bukan hanya sebagai ‘patron’nya, tetapi juga menjadikan SBY sebagai ‘midholah’ (pelindung) politiknya, agar PKS terus dapat melaksanakan tujuan-tujuan politiknya, mencapai pusat kekuasaan.

Apakah dengan dukungan PKS sebagai ‘backbone’ pemerintahan SBY, PKS harus mengorbankan kasus Bank Century? Padahal, PKS yang sangat berapi-api, ketika membahas kasus bail out Bank Century, dan menghasilkan keputusan opsi C di dalam Paripurna DPR. Tapi, sesudah Menkeu Sri Mulyani mengundurkan dari jabatannya, dan menjadi Managing Direktur Bank Dunia, kemudian terbentuknya Setgab, yang dipimpin Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie, PKS menyetujui kasus Century di tutup. Melalui sebuah kesepakatan antara anggota koalisi, akhirnya mereka menandatangi sebuah fakta, yang PKS di wakili Sekjen PKS, Anis Matta menandatangani penutupan kasus Century. Padahal, jutaan rakyat Indonesia mengharapkan adanya penegakkan hukum. Tetapi, segalanya berakhir dengan adanya dukungan PKS kepada Presiden SBY, kasus Century menjadi bagian masa lalu. Ini sebuah ironi.

Pendekatan PKS kepada AS juga termasuk bagian dari langkah politiknya untuk memudahkan menuju ke pusat kekuasaan. PKS masih merasa tidak cukup dengan dukungan politik dari SBY, yang sebenarnya juga pro-Barat (AS), dan lima tahun ke depan SBYakan berakhir, maka partai yang sebelumnya sebagai partai dakwah ini, bukan hanya melakukan komunikasi politik, tetapi juga mungkin negosiasi politik dengan AS.

Dikalangan elite politik PKS masih memiliki paradigma tidak ada kekuasaan baru di negara Dunia Ketiga yang tanpa restu dari Washington. Mungkin ini adalah sebuah ‘common sense’ dari elite PKS, karena paradigma yang masih melekat dalam ‘mindset’ mereka, di mana AS masih digambarkan sebagai ‘adi daya’ (super power). Kehadiran Dubes AS Cameron Hume, di arena Munas, sebagai sinyal akan adanya langkah-langkah ke arah ‘mutual trust’ antara PKS dengan AS.

Pandangan elite PKS, sebelum mereka mengelola kekuasaan di masa depan, mereka berpendapat harus ada semacam ‘guarantee’ (jaminan), yang sifatnya dukungan politik dari AS. Dengan dukungan politik dari AS, maka PKS akan mampu mengelola negara secara efektif.

Memang, faktanya banyak rejim di negara-negara Dunia Ketiga, yang tidak sejalan dengan ideologi, kepentingan, dan kebijakan luar negeri AS, nasibnya menjadi malang, di turunkan. Belajar sejarah politik dan kondisi global inilah, PKS mencoba melakukan ‘preparing’ (persiapan) dalam menapaki jalan menuju kekuasaan. Pendekatan politik dengan AS, sebagai pandangan yang memang keharusan bagi elite PKS, karena AS di mata mereka sebagai kekuatan yang mempunyai pengaruh politik secara global.

Padahal, segalanya telah berubah, dan AS tidak lagi menjadi kekuatan ‘adi daya’ (super power), dan sekarang semakin melemah. AS memiliki utang luar negeri 360 persen dari total PDB nya. AS mengalami defisit anggaran (APBN) yang lebh dari $ 1 triliun dolar. AS juga mengalami defisit perdagangan dengan negaranya mitranya. AS dihentakkan oleh resesi ekonomi, yang sampai sekarang belum pulih. AS harus memikul beban biaya militernya di luar negeri, seperti di Irak, Afghanistan, Jepang, dan Uni Eropa. Tanda-tanda kebangkrutan AS sudah sangat nampak.

Tapi, mengapa elite PKS masih mengharapkan dukungan politik, bukan hanya dari Presiden SBY, tetapi juga dari AS, yang notabene sudah mengalami kebangkrutan? AS tidak lagi menjadi ‘adi daya’ (super power) tunggal, dan sekarang muncul konfigurasi politik baru, atau munculnya regionalisme baru di berbagai kawasan. AS sudah mulai ditinggalkan sekutu-kutunya.

Mengapa pragmatisme politik, yang dilakukan bukan hanya menjadikan SBY sebagai patron politiknya, tetapi juga pelindungnya, dan sekaligus ingin mendapatkan ‘guarentee dari AS, yang masih dalam ‘mindset’ dapat menjadi jaminan untuk mencapai tujuan politik di masa depan? Langkah-langkah yang sekarang diambil oleh elite PKS itu sebenarnya, tidaklah selamanya menguntungkan karena mengabaikan nilai-nilai prinsip. “Walau petinggi PKS membantah partainya pragmatis, selama beberapa tahun terakhir, PKS memang lebih pragmatis dalam berpolitik. Sama seperti semua partai lainnya karena tujuannya sama, yaitu untuk berkuasa”, kata seorang pengamat politik.

Dalam survei Litbang Kompas, 16 Jnui, terungkap bahwa PKS ternyata merupakan partai yang “Paling Tidak Konsisten” dalam sikap politiknya di DPR dibanding partai-partai koalisi pemerintah lainnya. Kalau survei ini benar, berarti pernyataan Ketua Majelis Syura PKS, Hilmi Aminuddin, di depan Presiden SBY dan ribuan peserta Munas, apakah bisa dipertanyakan?

Apakah dengan dukungan politik SBY dan AS, di masa depan PKS akan menjadi patai tiga besar? Sehingga, harus melakukan pragmatisme politik, dan mengubah esensinya partai, seperti sekarang menjadi partai terbuka? Sebuah langkah penuh dengan ‘gambling’, karena hanya terobsesi dengan kekuasaan, sementara prinsip-prinsip dalam berpolitik, sebagai partai dakwah ditanggalkannya.

Mestinya, para elite PKS tidak harus menjadikan SBY sebagai ‘midholah’nya, dan mencari jaminan politik dari Washington. Cukup dengan kerja keras dengan membela seluruh kepentingan rakyat, elite politik hidup dengan jujur, bersih, peduli, bersahaja, tidak bergaya kosmopolitan, yang tidak sesuai dengan kondisi rakyat yang ada. Cara ini lebih masuk akal untuk menapaki jalan menuju kekuasaan.

Tapi, segalanya telah berlalu, dan hanya dapat mengucapkan ‘say good bye to PKS’.

Mohammad Fatih.

Wallahu’alam

Ref12: http://al-ikhwany.blogspot.com/2010/06/segala-cita-cita-berakhir-di-ritz.html

Amerika dan PKS Akui Saling Mendekat untuk Kerja Sama

Selasa, 15 Juni 2010 | 09:17 WIB
Juru bicara Kedutaan Besar Amerika, Paul Belmont, mengatakan pihaknya menyambut baik undangan untuk menjelaskan sikap politik Presiden Amerika Barack Obama terhadap dunia Islam dalam Musyawarah Nasional PKS.

“Hadir memberikan pidato akan menjadi kesempatan yang baik sekali untuk lebih terlibat dalam dunia muslim,” kata Belmont kepada Tempo kemarin.

PKS akan menggelar munas keduanya pada 16-20 Juni di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta. Ritz-Carlton selama ini dianggap simbol Amerika dan berkali-kali menjadi target serangan teroris anti-Amerika.

Pada munas kali ini, PKS pun akan mengundang Duta Besar Amerika Cameron R. Hume untuk menjadi salah satu pembicara. Panitia munas juga akan menggelar lomba menulis surat untuk Obama.

Menurut Belmont, Duta Besar Cameron R. Hume tidak bisa menghadiri Munas PKS karena sedang berada di luar Jakarta. Namun Kedutaan Amerika akan mengirim Deputy Chief of Mission Theodore G. Osius untuk berpidato menggantikan Hume. “Tugas Deputy Chief of Mission memang menggantikan Duta Besar saat Duta Besar tak berada di tempat,”ujar Belmont.

Belmont menambahkan, pidato Osius akan memiliki semangat yang sama dengan pidato Obama di Universitas AlAzhar, Kairo, Mesir, beberapa waktu lalu. Saat itu Obama mengemukakan bahwa Amerika Serikat berharap bisa menutup jarak dengan dunia muslim.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu PKS Jawa Tengah Muhammad Haris mengakui keinginan partainya untuk bisa dekat dengan dunia internasional, terutama Amerika Serikat, yang menjadi negara adikuasa. “PKS sekarang sudah menjadi partai agak besar. Wajar jika ingin bersuara di tingkat internasional,” kata Haris di Semarang kemarin.

Agar aspirasi yang digelorakan PKS didengarkan masyarakat internasional, menurut Haris, perlu berbagai upaya pendekatan. “Ke depan harus dekat dengan mereka agar didukung,” ujarnya.

Haris menambahkan, PKS sejauh ini belum puas dengan politik internasional Obama. Tapi PKS menganggap Amerika harus didekati.“Kami akan menuntut lebih banyak lagi, seperti penyelesaian kasus Jalur Gaza dan kemerdekaan Palestina,”ujar Haris.

Haris mengaku tidak khawatir jika “kemesraan”dengan Amerika bisa menggerus dukungan pemilih PKS yang militan. Dia pun mengklaim, pemilih PKS adalah pemilih rasional yang memberi dukungan karena mengetahui kiprah partai.

Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Wilayah PKS Jawa Barat Yudi Widiana Adia juga mendukung strategi pengurus pusat partai untuk menjalin hubungan dengan Amerika.

Menurut dia, penjelasan politik luar negeri Amerika setelah dipimpin Obama merupakan agenda penting.“Obama merupakan Presiden Amerika yang paling terbuka berhadapan dengan dunia Islam,” kata dia.

Meski begitu, menurut Yudi, undangan untuk Duta Besar Amerika bukan hal luar biasa.

Duta Besar Amerika bukan satu-satunya perwakilan negara asing yang diundang. Undangan serupa juga dikirim kepada Duta Besar Cina, Australia, dan Jerman. “Ada 40 perwakilan negara asing yang diharapkan hadir,”kata Yudi.

Ref13=> http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2010/06/15/brk,20100615-255297,id.html 

PKS akan Ubah Lambang Partai

SEMARANG–MICOM: Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam waktu dekat akan mengubah lambang partai untuk meneguhkan satu kesatuan makna “Keadilan” dan “Sejahtera” yang dalam logo sebelumnya kedua kata itu posisinya terpisah.

Sekretaris Umum DPW PKS Jawa Tengah Ahmadi ketika audiensi dengan redaksi Perum LKBN Antara Biro Jawa Tengah di Semarang, Senin (28/3), mengatakan, kata “Keadilan” dan “Sejahtera” akan menyatu menjadi satu baris di bawah logo bulan sabit kembar dan untaian padi.

Lambang PKS yang sekarang menunjukkan kata “Partai Keadilan” berada di bagian atas gambar bulan dan padi, sedangkan kata “Sejahtera” berada di bagian bawah.

Menurut rencana, kata Ahmadi, peluncuran perdana lambang partai baru itu akan dilakukan bersamaan dengan kegiatan milad atau ulang tahun PKS pada 24 April mendatang yang akan menghadirkan puluhan ribu kader dan simpatisan PKS.

Ketua DPW PKS Jawa Tengah Abdul Fikri Faqih dalam kesempatan sama menambahkan, perubahan logo tersebut tidak ada kaitannya dengan rumor yang berkembang di luar bahwa di DPP PKS ada “Faksi Keadilan” dan “Faksi Sejahtera”.

Di luar penyatuan kata “Keadilan” dan “Sejahtera” itu tidak ada perubahan gambar dan warna partai, tetap kombinasi warna hitam dan kuning emas.

Fikri menambahkan, sejauh ini kader PKS di Jawa Tengah masih solid di tengah gempuran isu yang menerpa DPP PKS, seperti kasus pengaduan mantan pengurus DPP PKS Yusuf Supendi dan kasus impor daging.

“Orang sering membayangkan PKS itu seperti kumpulan para malaikat, padahal orang bisa saja berbuat salah dan khilaf,” kata Fikri.

Ia menegaskan, untuk menjadikan bersih sendiri itu tidak terlalu sulit, namun karena PKS juga memiliki tekad melakukan perbaikan di semua lini, maka hal itu merupakan pekerjaan yang tidak akan pernah selesai. (Ant/OL-9)

Ref14=> http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/03/213582/3/1/PKS-akan-Ubah-Lambang-Partai

Surat Untuk Ustadz Hilmi Aminuddin

Muqoddimah:

Latar belakang kedatangan kami :

Kami orang-orang biasa yang masing-masing punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagian kami masih ber-waztan (wazhifah tanzhim/tugas struktural), sebagian tidak lagi, ada juga yang belum pernah ber-waztan internal. Kesatuan kami hanyalah pada kesatuan hati dan kecintaan kami kepada Jama’ah ini. Terlebih lagi, bagi beberapa orang di antara kami, Ustadz adalah guru kami dan tetap demikian di hati kami. Kecintaan mantan mutarobbi tak pernah boleh diukur dengan perubahan status kami sekarang, maupun dengan sikap kami saat ini dalam menghadapi permasalahan Jama’ah.

Bagi kami semua se-Jama’ah ini, Ustadz tak pernah dilupakan sebagai guru awal dan pendiri organisasi ini, sudah amat banyak jasa Ustadz yang kami yakin tak akan dihapus demikian saja oleh manusia maupun oleh Allah SWT, Insya Allah.

Bermula dari berbagai hal yang terjadi sejak lama, sedikit demisedikit, dan kemudian sekarang menjadi tak tertahankan. Apalagi fenomena “tak tertahankan” tersebut sudah bukan lagi terasa secara internal, tetapi juga sudah sangat terasa di luar komunitas kita, yaitu di masyarakat. Di internal kita rasakan a’dho sudah gelisah dan gonjang-ganjing, penurunan tsiqoh kepada Qiyadah, jama’ah dan kecurigaan antar sesama a’dho sudah meluas, sedangkan secara eksternal terjadi penurunan tsiqoh objek dakwah secara luas dan signifikan. Oleh karena itu izinkanlah kami terdahulu memohon maaf atas keterlambatan kami untuk memberikan hak taushiyah kepada Ustadz sehingga baru sekarang kami melakukannya. Yang sebenarnya adalah karena kami masing2 mempunyai kekhawatiran jika pendapat-pendapat kami ketika sendiri-sendiri, lebih dominan diwarnai subyektifitas kami sebagai manusia.

Alhamdulillah, Ahad 23 Maret 2008 kemarin atas izin dan mudah2an Ridho Allah SWT, kami berkumpul (bertempat di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor) untuk membicarakan permasalahan Jama’ah. Semua datang dengan motivasi yang sama: cinta kepada Jama’ah, sayang kepada Ustadz dan sadar akan kewajiban taushiyah kepada Ustadz. Tidak ada dalam pertemuan kami tsb yang mempunyai agenda melecehkan atau mengkudeta Ustadz, meskipun warna emosi dan warna semangat kami berbeda-beda, tujuannya sama: ishlah dalam Jama’ah yang sama-sama kita cintai ini.

Kami berharap Ustadz dapat menerima kami dengan kepala dingin dan hati terbuka dengan sama-sama berharap keRidho-an Allah SWT. Kami juga mohon maaf jika dalam tulisan ini maupun dalam penyampaian lisan kami ada kata-kata yang menyinggung, meresahkan atau membuat Ustadz sedih, maafkanlah kami, karena sesungguhnya kami adalah “anak-anak Ustadz” dalam harokah ini. Tiada lain kami menyampaikan ini semua sebagai anak kepada bapaknya. Kami berdoa semoga kelak di Jannah kita semua akan berkumpul kembali dan saling bergembira dengan pertemuan tersebut bersama-sama dengan para Nabi, Syuhada, Siddiqien, dan Sholihiiin. Amin.

Kami memandang ada 3 pokok permasalahan dalam Jama’ah saat ini :

Masalah aplikasi SYSTEM:

a.Tidak diposisikannya TARBIYAH sebagai CORE COMPETENCE jama’ah, meskipun diatas kertas-kertas kerja tertulis dengan jelas, dan di dalam taujihat dibunyikan dengan lantang. Contoh misalnya :

a.Lemahnya tarbiyah setelah seseorang bergabung dengan struktur

ضعف التربية بعد التنظيم

Fenomena menurunnya porsi mutaba’ah ibadah (seperti ma’tsurot hanya shughro), tidak lancarnya tatsqif, dan merosotnya kualitas taqwim dll, sementara aktifitas politik dimutaba’ah dengan ketat dan disertakannya iqob.

b.Tersendatnya aplikasi manhaj pencetakan para naqib

عدم تطبيق منهج تخريج النقباء

Fenomena naqib terlalu sedikit, pencetakan naqib baru kurang lancar, tersendatnya aktifitas usar hanya untuk politik, naqib-naqib yang kurang bijak, naqib-naqib yang meninggalkan pos karena tugas-tugas yang terlalu banyak dll.

b.Pelanggaran-pelanggaran / pencederaan terhadap syuro bahkan sampai merekayasa hasil keputusan syuro[i].

c.Tidak ditegakkannya keadilan dalam berbagai kasus yang sudah mutawatir

d.Tidak transparannya cashflow keluar-masuknya uang dalam jumlah fantastis[ii]

e.Dalam masalah maal:

1.Tidak dipedulikannya rambu-rambu syariat dalam keluar-masuknya uang.

2.Tidak transparannya pemisahan dan audit penggunaan atas dana-2 sehingga tidak jelas mana aset pribadi dan mana aset jamaah.[iii]

2. MURAQIB ‘AAM

a.Tidak qudwah

i.Dalam hal keluar-masuknya uang (tidak transparan, tidak dipisahkan antara asset pribadi dan asset jama’ah, tidak teraudit oleh lembaga yang semestinya)

ii.Tidak adil dalam menangani berbagai kasus personal maupun struktural

iii.Membiarkan kultus individu terhadap diri ketika tidak memveto perubahan AD/ART yang merubah masa jabatan qiyadah dari “maksimal dua kali masa jabatan” menjadi “seumur hidup”

iv.Ketidak-konsistenan (ketika ditanya) dalam beberapa isyu; misalnya ketika plin-plan dalam kebijakan soal isyu “terbuka” paska mukernas Bali

v.Banyak menyimpan “hidden agenda” sehingga timbul banyak kesimpang-siuran di kalangan a’dho

Untuk semua ini, terlihat bahkan diqudwah-i oleh sebagian ikhwah di bawah Ustadz sampai ke level-level bawah

b.Kesalahan dalam penerapan manhaj

i.Membiarkan gejala kultus individu yang over sehingga tidak ada yang bisa mengontrol MA atas nama rukun bai’at “Taat” dan “Tsiqoh”. Ini berdampak luas, sampai ikhwah menjadi tidak kreatif, jumud dll

ii.Da’wah yang asalnya merupakan gerakan yang syamilah dijadikan gerakan juz’iyyah-siyasiyah, sehingga dampak luas dirasakan masyarakat negeri ini yang kehilangan sosok-sosok da’i penerang ummat para teknokrat yang amanah dan para ilmuan bermanfaat dari posnya masing-masing.

iii.Membangun sistem kepemimpinan terpusat sehingga qiyadah/jamaah sering mengabaikan banyak keputusan-keputusan syuro di berbagai level kepemimpinan dalam jamaah; misal :

1.Usulan tertentu di level usroh ketika diajukan ke struktur di atasnya tiba-tiba pada level struktur tertentu dicoret begitu saja

2.Keputusan-keputusan DSP begitu saja ditepis/diabaikan

3.Keputusan-keputusan MS begitu saja ditepis

4.Pemira-pemira internal yang tidak aspiratif karena dipenuhi intrik dan pilih kasih

c.Kesalahan dalam kebijakan

i.Proses pendirian Hizib tidak disertai SWOT-UPmemadai. Terbukti sekarang menimbulkan kebijakan yang High Cost (secara finansial) dan High Energy (secara SDM) . Di antara dampak yang timbul: komunitas-komunitas yang tadinya da’wah kita kuat menjadi melemah bahkan lepas; seperti kampus misalnya.

ii.Penempatan SDM di tempat-tempat rawan pdhl mentalnya belum siap menghadapi “talawuts”

iii.Dengan dalih “akselerasi”, proses taqwim menjadi tidak sesuai manhaj alias longgar dan banyak jumlah pertambahan tapi kualitas kader jauh di bawah standar. Sangat dikhawatirkan masuknya jassus, fasik, orang-orang yang tidak ikhlas dll.

iv.Tidak diperhatikannya Tarbiyah sehingga akhlaq banyak a’dho menjadi bermasalah pada gilirannya ini merugikan wajah dakwah kita di masyarakat dan menurunkan tsiqoh obyek dakwah.

v.Lemahnya sistem input informasi dari lapangan ke MA sebagai dasar pembuat kebijakan; misalnya kasus penetapan lokasi penyelenggaraan mukernas di Bali diyakini qiyadah sbagai “no problem” pdhl banyak a’dhi bingung, berkeberatan,resah sampai tersinggung.

3.BUKTI MEROSOTNYA KEPERCAYAAN MASYARAKAT KEPADA KITA SEBAGAI PARTAI DAKWAH

a.Akibat ulah beberapa orang a’dho dalam sepak terjang atas nama Jama’ah maupun sepak terjang dalam urusan pribadi, telah tersebar rumor-rumor negatif mutawatir yang bisa dibagi dalam beberapa judul :

-Dalam masalah tender-tender di departemen yang diambil dengan tidak adil

-Dalam masalah utang piutang yang tidak mau dibayar, dan jika ditanya selalu dijawab: “Ah ini kan untuk perjuangan, jihad, masa antum gak mau nyumbang ?”

-Dalam manuver ke media massa yang dengan mudah mengeluarkan statement yang belum pernah disepakati.

-Dalam masalah perilaku a’dho yang menyangkut masalah akhlak, khususnya maslah ta’adud dengan cara yang jauh dari ahsan, pergaulan dengan person-person yang dikenal masyarakat sebagai gembong-gembong fajir dll

b.Adanya manuver secara jama’iyan maupun kelembagaan yang menimbulkan keresahan masyarakat, misalnya:

-Dalam masalah proses lepasnya BUMN-BUMN penting dari pengelolaan negara

-Dalam peluncuran berbagai kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan penderitaan rakyat, misal kasus naiknya BBM

-Dalam sepak terjang berbagai Pilkada yang sarat isyu, sejak dari pemilihan partner musyarokahnya, sampai pemilihan person dari luar yang sama sekali tidak sejalan dengan visi-misi sosok Partai Dakwah, bahkan sampai isyu politik uang untuk menang.

-Yang paling besar dan berbahasa isyunya akhir-akhir ini adalah masalah “perdagangan musyarokah” dengan angka-angka yang fantastis dan disaksikan oleh orang-orang luar yang menjadi brokernya. Mereka semua (orang luar yang pernah terlibat atau pernah menyaksikan berbagai transaksi tanpa bukti tersebut) laa samahAllah dapat saja menjadi saksi hukum untuk menggugat Partai, Jama’ah dan bahkan MA.

Semua contoh-contoh di atas bahkan sudah luas dibicarakan di koran, internet, sms dan komunitas-komunitas. Banyak a’dho yang menceritakan digugat keluarga besarnya dengan berbagai pertanyaan tentang masalah-masalah tersebut, dan tak ada a’dho yang bisa memberi jawaban yang mengembalikan kepercayaan yang sudah hilang.

Beberapa tokoh masyarakat di level daerah sampai nasional karena kekecewaaannya, sudah menarik dukungan morilnya dari PKS. Di masyarakat sudah banyak yang menganggap PKS sebagai Partai Podo Wae (Partai sama saja), artinya sama saja dengan Partai-Partai lama yang terkenal korup dan main politik uang.

Carut marutnya wajah dakwah kita yang tampak di luar ini, telah amat banyak merugikan dakwah. Banyak muayyid yang berhenti halaqoh karena tidak lagi tsiqoh.

Laa haula wa laa quwwata illa billah.

PERMINTAAN KAMI

1.Ishlah dalam bab QUDWAH

a.Melakukan AUDIT atas keluar-masuknya uang baik yang diterima Ustadz selaku pribadi maupun a’dho-a’dho yang dalam jangkauan wewenang Ustadz.

b.Tegakkan keadilan seadil-adilnya dalam menangani kasus-kasus pribadi maupun struktural, tanpa pandang bulu, agar rasa keadilan tumbuh di tengah ikhwah. Termasuk agar a’dho yang terlanjur “merasa” ataupun memang terzholimi terobati rasa keadilannya.[iv] Penting untuk merangkai kembali benang-benang ukhuwwah yang sudah kusut dan rusak karena kesalahan2 ini.

c.Mengembalikan klausul AD/ART jama’ah yang menyangkut bab “lama masa jabatan”. Hendaknya dikembalikan dari “seumur hidup” menjadi “maksimal dua kali masa jabatan”

d.Hentikan/taubat dari semua bentuk “kebohongan publik”. Hormati mekanisme struktur yang berlaku walaupun tidak sesuai dengan aspirasi pribadi MA.

e.Menjelaskan lalu berhenti melakukan move-move yang bisa diartikan sebagai “hidden agenda”.

2.Ishlah dalam bab Kesalahan Penerapan Manhaj

a.Hentikan kultur “kultus individu” dengan membangun “kultur kesetaraan”. Ingat ucapan sahabat Rib’iy bin Amir “Kami diutus Allah untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama hamba untuk menghamba kepada Allah semata.”

b.Cabut kebijakan/qoror Al-Hizb huwa Al-Jama’ah wal Jama’ah hiyal Al-Hizb sehingga da’wah kembali menjadi gerakan syamilah BUKAN juz’iyyah-siyasiyah. Juga memastikan bahwa setiap SDM berada di pos masing-masing yang memang sesuai keahliannya, termasuk di Hizb (jika masih akan diteruskan) dipastikan yang berada di sana adalah yang sudah ditaqwim Insya Allah kompeten dalam semua hal di bidang itu.

c.Lakukanperubahan-perubahan struktural yang memastikan jamaah bergerak ke arah menjadi suatu system yangbenar-benar Islami. Ganti budaya yang sempat mengandung nilai-nilai otoriter menjadi egaliter; terpusat menjadi terstruktur; monolitik-homogen menjadi dinamis-heterogen; top-down approach menjadi iklim dialog (two-way traffic); passive atmosphere menjadi creative-interactive culture

3.Ishlah dalam Bab Kesalahan Kebijakan

a.Walaupun terlambat bikin riset ilmiah-obyektif untuk men-SWOT-UP keadaan internal jama’ah untuk memastikan apakah masih perlu dipertahankan adanya partai –yang menjadi sayap jama’ah- atau jama’ah sebaiknya berjalan cukup sebagai ORMAS tanpa perlu adanya partai politik.

b.Bersihkan a’dho-a’dho bermasalah dari posisi-posisi strategis dan proses mereka secara hukum (internal jama’ah) dengan semangat mentarbiyyah. Kemudian memastikan bahwa setiap SDM jamaah memang telah siap secara utuh di posnya masing-masing terlebih jika pos tersebut rawan talawuts.

c.Melakukan penempatan posisi sesuai dengan konsep Proyeksi-Promosi-Nominasi sehingga tidak ada lagi yang “terlalu cepat” naik sampai menimbulkan dampak penyimpangan akibat belum siap memikul beban yang diberikan mendadak.

d.Tegakkan prosedur dan standar taqwim dalam recruitment a’dho secara disiplin sesuai manhaj, dengan tidak lagi mengejar target jumlah, apalagi sekedar target suara pemilu.

e.Kembalikan budaya hubbul ‘ilmi wa ats-tsaqofah di dalam jama’ah dengan menyelenggarakan, menghidupkan dan menyemarakkan tarbiyah di semua level keanggotan a’dho. Semoga dengan demikian wahdatul aqidah, wahdatul fikroh dan wahdatul akhlaq wal manhaj menjadi tolok ukur baik-buruknya jamaah.

f.Efektifkan dua jalur yakni “formal-struktural” dan “incognito” dalam mengelola sistem input informasi dan masukan sebagai dasar membuat kebijakan. Ingat khalifah Umar ibnul Khattab yang sangat sering “turba mendadak dan menyaru.”

Khotimah :

Besar harapan kami agar Allah SWT berkenan membuka hati kita semua dan hati Ustadz agar jama’ah ini kembali bersinar menjadi “darah baru bagi ummat ini”, di tengah keterpurukan bangsa Indonesia di titik terendahnya saat ini.

Besar pula harapan kami pada Allah SWT agar Allah Menyirami hati kami semua dan hati Ustadz dengan kasih sayang al-hubbu fillah satu sama lain sehingga perbedaan-perbedaan pendapat dapat disikapi sebagai kekayaan wacana daripada dianggap sebagai persaingan apalagi permusuhan.

Besar pula harapan kami agar Allah SWT berkenan Menjaga, Melindungi, dan Mengobati hati kami semua dan hati Ustadz darigodaan dan bisikan-bisikan syetan, musuh besar penipu dan pemecah belah manusia; sehingga hati-hati kita dibersihkan sebersih-bersihnya dari berbagai niat-niat yang tidak ikhlas kepada Allah SWT.

Rabu, 26 Maret 2008

Kami yang ditakdirkan Allah berkumpul 23 Maret[v] :

Ustadz Prof DR Didin Hafiduddin

Ustadz Dr Satori Ismail

Ustadz Dr Ahzami Sami’un Jazuli

Ustadz Dr Daud Rasyid Sitorus

Al Akh Mutammimul Ula, SH

Al Akh Mashadi

Al Akh Tizar Zein

Al Akh Ihsan Tandjung

Ukht Siti Aisyah Nurmi


Dibacakan langsung di depan Hilmi Aminuddin pada 26 Maret 2008 di Lembang. Dokumen ini dulu sifatnya confidential, akan tetapi setelah gelombang pemecatan besar-besaran di tahun 2010 admin blog ini menimbang lebih bijak jika dokumen ini dibuka, sebagai bukti bahwa praktik memberikan nashihat sudah dilakukan.

[i] Contoh yang paling besar dan nyata adalah penganuliran hasil syuro pilpres 2004, yang seharusnya jama’ah mendukung Amien Rais diubah ke mendukung Wiranto.
[ii] Seperti dana-dana yang diambil saat pilkada maupun pilpres dengan alasan mahar politik.
[iii] Seperti aset tanah dan bangunan di Lembang, yang dimasukkan dalam aset pribadi padahal dibeli dengan dana jama’ah.
[iv] Diantaranya adalah kasus ust Yusuf Supendi yang telah dituduh mengambil uang jama’ah di depan sidang majelis syuro, tanpa yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri.
[v] Bagi yang tidak percaya dengan otensitas dokumen ini silahkan tabayyun kepada Ustadz/ah yang disebutkan namanya di dokumen ini. Mereka lah yang hadir di pertemuan Ibnu Khaldun 23 Maret 2008 dan hadir ke Lembang di tanggal 28 nya. Saat surat ini dibacakan, ustadz Hilmi merah mukanya, menahan amarah. Beliau mengucapkan terima kasih dan bertanya apakah ada lagi nasehat yang ingin disampaikan. Namun sepekan setelah surat ini disampaikan, mereka yang menyampaikan nasihat ini diib’ad/diisolir. Tidak boleh ikut usroh. Dan sebagian besar dari mereka akhirnya dipecat.

Ref15=> http://tarbiyahbukanpks.wordpress.com/2011/04/19/surat-untuk-ustadz-hilmi-aminuddin/#more-48

Analisa Saya:

Setelah saya cari berbagai sumber dengan menggunakan berbagai metode dan kata kunci yg temanya tentang klarifikasi bahwa Simbol PKS bukan metamorposa simbol yahudi, ternyata sjujurnya saya sulit dan tidak menemukan, akhirnya hanya tulisan demikian diatas yg saya dapatkan..barangkali ada dari teman-teman yg akan menambahkan info ttg klarifikasi dari PKS ini…Terlepas benar atau tidak, saya tdk ingin terjebak pada prasangka buruk, skedar husnuzan, mungkin emang karena citra PKS dari awal baik   , jadi ketika ada ‘Opini Buruk yang Muncul di Masyarakat’ terserah benar atau tidak Opini tersebut. Maka orang akan sorak sontai menilai dengan semaunya. Coba kita lihat Partai2 di Indonesia yang tidak memiliki citra sebaik PKS apakah Anda yakin bahwa mereka lebih baik?? mari kita renungkan.   , ini adalah permainan politik saja, PKS memang sudah ditakuti oleh Yahudi.. Yahudi akan memecah belah umat Islam di manapun, so jadi kita sesama muslim jangan saling menghina terlepas dari organisasi manapun… mari kita sama-sama memperbaiki diri, kita tingkatkan tabayyun. musuh kita bukan lawan partai, golonga, organisasi dll. lawan kita bersama adalah Israel sang penjajah.. pembunuh saudara2 kita di sana..yg terpenting prinsip tabayyun dengan berpegang pada keseimbangan; “janganlah hanya karena kebencianmu kpd seseorang atau suatu kaum dpt menghalangimu berbuat kebaikan, padahal kamu berbuat kebaikan itu adalah untuk dirimu sendiri.” juga “janganlah hanya karena kecintaanmu kpd seseorang atau suatu kaum dpt menghalangimu berbuat kritis, padahal kamu berbuat kritis itu adalah untuk dirimu sendiri”

DAN AKHIRNYA KESIMPULAN  INI  SEMUA,  DISERAHKAN  SEPENUHNYA  PADA MASING-MASING INDIVIDU…

Wallahu a’lam

Salam Ukhuwah

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s