HQ : Belajar Sejarah itu Mencerdaskan

Secara sederhana, kecerdasan adalah kemampuan untuk belajar tentang, belajar dari, memahami, dan berinteraksi dengan lingkungannya. Kemampuan umum ini terdiri dari sejumlah kemampuan khusus, yang meliputi kemampuan khusus ini adalah: (1) Adaptasi ke lingkungan baru atau perubahan dalam lingkungan saat ini (2) Kapasitas pengetahuan dan kemampuan untuk memperolehnya (3) Alasan dan kemampuan untuk berpikir abstrak (4) Kemampuan untuk memahami hubungan (5) Kemampuan untuk mengevaluasi dan menilai (6) Kemampuan untuk berpikir produkti. (ref)

Menurut WikipediaIntelligence is an umbrella term describing a property of the mind comprehending related abilities, such as the capacities for abstract thought , reasoning , planning , problem solving , speech , and learning . Kecerdasan atau Intelijen adalah sebuah istilah yang menggambarkan milik pikiran yang terkait memahami kemampuan, seperti kemampuan untuk berpikir abstrak, penalaran, perencanaan, pemecahan masalah, pidato, dan belajar.

Perilaku cerdas dapat ditandai dengan: (a) Belajar atau mengerti dari pengalaman, (b) Memecahkan hal yang bersifat mendua atau kontradiktif,  (c) Merespon situasi baru dengan cepat (fleksibel),  (d) Menggunakan alasan untuk memecahkan problem secara efektif, (e) Berurusan dengan situasi yang membingungkan,  (f) Memahami dengan cara biasa/rasional,  (g) Menerapkan pengetahuan untuk memanipulasi lingkungan, (h) Mengenali elemen penting pada suatu situasi.

John Dewey mengatakan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang kita miliki dan tak berubah selamanya, melainkan kecerdasan adalah suatu proses pembentukan yang berkesinambungan, dan untuk mempertahankannya diperlukan semacam kewaspadaan untuk mengamati kejadian-kejadian, keterbukaan untuk belajar, dan keberanian untuk menyesuaikan diri.

Jadi untuk meningkatkan kecerdasan, kita perlu menambah pengetahuan dan berlatih memproses pengetahuan itu lewat kegiatan kreatif, kegiatan menalar, dan kegiatan mengevaluasi atau menilai.

Type Kecerdasan Manusia

Manusia telah dianugerahi empat macam type kecerdasan, yaitu : (1) Kecerdasan Fisik atau Tubuh (Physical Intelligence atau Physical Quotient PQ), (2) Kecerdasan Mental atau Intelektual (Inteliligence Quotient IQ), (3) Kecerdasan Emosional (Emosional Quotient EQ) , dan (4) Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient SQ). (ref)

(1) Kecerdasan Fisik (PQ) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh tubuh kita. Kita sering tidak memperhitungkannya. Coba renungkan : Tanpa adanya perintah dari kita tubuh kita menjalankan sistem pernafasan, sistem peredaran darah, sistem syaraf dan sistem-sistem vital lainnya.

Tubuh kita terus menerus memantau lingkungannya, menghancurkan sel pembawa penyakit, mengganti sel yang rusak dan melawan unsur-unsur yang mengganggu kelangsungan hidup. Seluruh proses itu berjalan di luar kesadaran kita dan berlangsung setiap saat dalam hidup kita. Ada kecerdasan yang menjalankan semuanya itu dan sebagian besar berlangsung di luar kesadaran kita.

(2) IQ adalah kemampuan nalar, atau pikiran orang sering menyebutnya dengan kemampuan Otak Kiri. Yaitu kemampuan kita untuk mengetahui, memahami, menganalisis, menentukan sebab akibat, berpikir abstrak, berbahasa, memvisualkan sesuatu.

(3) EQ adalah pengetahuan mengenai diri sendiri, kesadaran diri, kepekaan sosial, empati dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Kecerdasan Emosi adalah kepekaan mengenai waktu yang tepat, kepatutan secara sosial, dan keberanian untuk mengakui kelemahan, menyatakan dan menghormati perbedaan. EQ digambarkan sebagai kemampuan otak kanan dan dianggap lebih kreatif, tempat intuisi, pengindraan, dan bersifat holistik atau menyeluruh

Penggabungan pemikiran (otak kiri) dan perasaan (otak kanan) akan menciptakan keseimbangan, penilaian dan kebijaksanaan yang lebih baik. Dalam jangka panjang, kecerdasan emosional akan merupakan penentu keberhasilan dalam berkomunkasi, relasi dan dalam kepemimpinan dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (nalar).

(4) Kecerdasan spiritual (SQ) merupakan pusat dan paling mendasar di antara kecerdasan lainnya, karena dia menjadi sumber bimbingan atau pengarahan bagi tiga kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan kita akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas.

Kecerdasan Spiritual juga membantu kita untuk mencerna dan memahami prinsip-prinsip sejati yang merupakan bagian dari nurani kita, yang dapat dilambangkan sebagai kompas. Kompas merupakan gambaran fisik yang bagus sekali bagi prinsip, karena dia selalu menunjuk ke arah utara.

Macam-macam Kecerdasan Manusia

Manusia memiliki kecerdasan yang dapat dibedakan menjadi 8. Dalam istilah yang lebih populer, kedelapan kecerdasan yang dimiliki oleh manusia itu adalah : (1) . Kecerdasan Linguistik : Word Smart,  (2) . Kecerdasan Logis- Matematis : Number Smart,   (3) . Kecerdasan Spasial : Picture Smart, (4). Kecerdasan Kinestetik- Jasmani : Body Smart, (5) . Kecerdasan Musikal: Music Smart, (6). Kecerdasan Antar Pribadi: People Smart, (7). Kecerdasan Intra Pribadi: Self Smart, (8) . Kecerdasan Naturalis: Nature Smart.

History Quotient ; Metode Meningkatkan Kecerdasan Dengan Sejarah

Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat Ini Telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (Qs. Hud : 120)

Fungsi Sejarah bagi orang-orang beriman adalah peneguh hati, pengajaran, peringatan dan sumber kebenaran. Dalam ayat yang lain, bahwa kisah-kisah atau sejarah bagi “Ulil Albab/ Manusia Cerdas” adalah sebagai Ibroh atau Pengajaran.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran  (Ibroh) bagi orang-orang yang mempunyai akal (Ulil Albab). Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Qs. Yusuf : 111)

Ulil Albab adalah “Manusia Cerdas” Versi Allah yang memiliki Karakteristik diantarnya : (1). Memiliki ilmu dan hikmah Qs. 3:7, 2:269, (2) . Kritis dan teguh pendirian Qs. 29:18, 2:179, 5:100,  (3) . Progresif dalam berdakwah Qs. 13:19-22 ,  (4). Hanya takut pada Allah Qs. 2:197, 65:10 , dan (5) .Tekun beribadah Qs. 39:9.

Kecerdasan dari “manusia cerdas” versi Allah ini diperoleh karena telah menjadikan kisah-kisah dan peristiwa  sejarah sebagai “I B R O H“.

‘Ibroh berasal dari kata ‘abara ar-ru’ya yang berarti menafsirkan mimpi dan memberitahukan implikasinya bagi kehidupan si pemimpi, atau ‘keadaan setelah kematiannya’ dan ‘abara al-wadi berarti ‘melintasi lembah dari ujung satu ke ujung lain yang berlawanan’.

Ar-Ragib berkata asal makna kata al-’ibroh adalah ‘melintasi suatu keadaan ke keadaan lain’ dan kata ‘ubur’ dikhususkan untuk makna ‘melintas di atas air’. Dalam penafsiran Surat Yusuf, Muhammad Rasyid Ridha mengatakan al-i’tibar wal ‘ibrah berarti ‘keadaan yang mengantarkan dari suatu pengetahuan yang terlihat menuju sesuatu yang tidak terlihat’ atau jelasnya berarti ‘merenung dan berpikir’.

Dengan demikian, ‘ibrah dan i’tibar itu merupakan kondisi psikologis yang mengantarkan manusia menuju pengetahuan yang dimaksud dan dirujuk oleh suatu perkara yang dilihat, diselidiki, ditimbang-timbang, diukur dan ditetapkan oleh manusia menurut pertimbangan akalnya sehingga dia sampai pada suatu kesimpulan yang dapat mengkusyukkan kalbunya sehingga kekusyuan itu mendorongnya untuk berperilaku logis dan sesuai dengan kondisi masyarakat.

‘Ibroh yang terdapat dalam Alquran mengandung dampak edukatif yang sangat besar, yaitu mengantarkan penyimaknya pada kepuasan berpikir mengenai persoalan akidah.  Kepuasan edukatif tersebut dapat menggerakkan kalbu, mengembangkan perasaan ketuhanan serta menanamkan, mengokohkan, dan mengembangkan akidah tauhid, ketundukan kepada syariat Allah, atau ketundukan pada berbagai perintah-Nya.

Model-model i’tibar atau pengajaran dalam Alquran dan sunah yang suci berbeda-beda selaras dengan beragamnya topik ‘ibrah. Pertama, ibroh melalui kisah. Setiap kisah Qurani atau nabawi memiliki tujuan pendidikan ketuhanan. ‘Ibroh melalui kisah hanya dapat dicapai melalui orang yang berpikir sadar dan orang yang hawa nafsunya tidak mengalahkan akal dan fitrah. Artinya, dia mampu menarik kesimpulan dari kisah tersebut.

Sehubungan dengan itu, Allah SWT berfirman setelah menuturkan kisah Yusuf, ”Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukan cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS Yusuf [12]: 111)

Kedua, mengambil pelajaran dari nikmat dan makhluk Allah. Berbagai nikmat dan makhluk Allah yang telah disediakan bagi manusia dapat menjadi ‘ibroh bagi manusia sebagaimana firman Allah,”Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang terdapat dari perutnya (berupa) susu yang bersih antara tinja dan darah yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (QS An-Nahl [16]: 66-67).

Karena ‘ibroh didasarkan atas pemikiran yang dalam dan pengamatan yang cermat, kita dapat mengetahui hikmah ketuhanan melalui isyarat dari beberapa perkara yang mengajak kepada perenungan. Seperti misalnya, berbagai keajaiban yang telah diciptakan dan dianugerahkan Allah kepada kita.

Ketiga, mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa bersejarah. Alquran telah mengisyaratkan beberapa peristiwa sejarah yang menonjol dan memiliki kaitan dengan peristiwa sesudahnya. Banyak ayat-ayat Alquran yang menyebut berbagai fakta sejarah agar umat menarik pelajaran darinya. dam/dari berbagai bahan pustaka.

HQ : Menjadi Cerdas Berkualitas dengan SEJARAH

Sejarah seringkali disebut sebagai “ratu” atau “ibu” ilmu-ilmu sosial. Hal itu disebabkan sejarah telah lahir dan berkembang jauh sebelum ilmu-ilmu sosial lainnya serta paling awal diajarkan di sekolah, dengan perkecualian mata pelajaran geografi. Ilmu sejarah merupakan dasar semua disiplin ilmu yang termasuk dalam kategori ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Sejarah juga merupakan dasar kajian filsafat, ilmu politik, ilmu ekonomi, dan bahkan seni dan agama/religi. Tidak diragukan lagi bahwa sejarah merupakan ilmu pengetahuan yang sangat diperlukan untuk pendidikan manusia seutuhnya.

Sejarah mengutamakan kajian tentang orang-orang yang “menaklukan daratan dan lautan tanpa beristirahat” daripada tentang mereka yang “hanya berdiri dan menunggu“. Sejarah mengkaji perjuangan manusia sepanjang zaman. Dengan menyeleksi “biografi yang tak terhitung jumlahnya” dan menyajikan kehidupan mereka dalam konteks sosial yang sesuai, dan menyajikan gagasan-gagasannya dalam konteks manusia, dan kita memahami jalannya peristiwa.

Sejarah adalah subyek unik yang memiliki potensi sebagai ilmu sekaligus seni. Sejarah sebagai ilmu karena sasaran sejarah adalah menemukan dan mengumpulkan fakta-fakta dari masa lampau dan menginterpretasikannya secara obyektif. Sejarah berusaha menjelaskan kebenaran, keadaan yang sebenarnya, dan kebenaran semata. Sejarah berusaha mengungkapkan kebenaran dengan memakai pendekatan ilmiah, jadi sejarah adalah Ilmu.

Tapi sejarah mengkaji “pengalaman manusia” yang tidak dapat diringkas menjadi rumus apapun. Sejarah berkaitan dengan rangkaian peristiwa, yang masing-masing memiliki keunikan. Sejarah selain sebagai ilmu tetapi sekaligus sebagai seni. Sejarawan adalah pencerita yang mengkaji masa lampau dari sudut pandang tertentu. Ia tidak dapat menulis tanpa sudut pandang tertentu. Seperti seniman, ia tidak dapat menghilangkan nuansa kepribadian dari karya-karyanya. Seniman dan Sejarawan sama-sama memiliki kemampuan untuk secara IMAJINATIF menggunakan simpatinya untuk menghidupkan sesuatu, yang disebut ” kegilaan yang tidak masuk akal”. Sejarah bukanlah cerita detektif, yang semua masalahnya akan terungkap di bab terakhir.

Sejarah merupakan ilmu sosial dan seni, didalamnya terdapat fleksibilitas, keragaman, dan daya tarik yang sangat tinggi.

Apa yang akan ditemukan dalam pembelajaran sejarah?

  • Mengembangkan pemahaman tentang diri sendiri : Sejarah diajarkan untuk mengetahui siapa diri kita sendiri dalam perspektif sejarah. Setiap orang memiliki warisan yang unik, kombinasi antara ras, suku, kebangsaan, keluarga dan individu yang berpadu menjadikan dirinya seperti sekarang ini. Tanpa pendalaman terhadap faktor-faktor sejarah tersebut ORANG AKAN GAGAL MEMAHAMI IDENTITASNYA SENDIRI
  • Memberikan gambaran yang tepat tentang konsep waktu, ruang dan masyarakat :Sejarah merupakan jaringan yang menyatukan setiap orang ke dalam kelompok yang lebih besar. Kehidupan yang MELULU DI MASA SEKARANG akan membuat kita tidak tahu apa-apa sama sekali. Bahasa, tradisi, dan berbagai kebiasaan yang saat ini ada hanya bisa dipahami melalui studi tentang pertumbuhan dan perkembangnnya dalam ruang dan waktu. Konsep tentang waktu, ruang, dan masyarakat sangat penting kaitannya dengan masa sekarang ini. Tanpa konsep-konsep tersebut, orang akan “TERSESAT” seperti pemburu yang tersesat di hutan belantara.
  • Membuat masyarakat mampu mengevaluasi nilai-nilai dan hasil yang telah dicapai oleh generasinya: Sejarah adalah ilmu yang unik karena posisinya sangat strategis dalam menyediakan standar-standar bagi generasi muda abad-21 untuk mengukur nilai dan kesuksesan yang telah dan akan dicapai pada masa mereka. Sejarah membuat mereka peka terhadap berbagai permasalahan masyarakat, politik, sosial dan ekonomi dewasa ini.
  • Mengajarkan Teloransi : Sejarah mendidik anak negeri agar termiliki teloransi terhadap perbedaan keyakinan, kesetiaan, kebudayaan, gagasan dan cita-cita.
  • Menanamkan sikap Intelektual : Pembelajaran sejarah dapat mengembangkan kemampuan kita untuk memformulasikan penilaian yang obyektif, mempertimbangkan setiap bukti dengan penuh kehati-hatian.
  • Memperluas cakrawala intelektualitas : Sejarah menambahkan dimensi ketiga pada dunia dua dimensi. Ketika orang harus mengambil keputusan yang penting dengan hanya mempertimbangkan dua dimensi waktu, yaitu sekarang dan masa depan, maka orang tidak akan dapat memperoleh hasil yang optimal. Pembelajaran sejarah membantunya dengan dimensi yang ketiga, yaitu MASA LAMPAU. Bantuan ini membuat orang mampu berpikir secara rasional dan obyektif. Hanya melalui DIMENSI KESEJARAHAN, orang dapat memperoleh pemahaman yang mendalam. Pada kenyataannya PEMBELAJARAN SEJARAH BERTINDAK SEBAGAI SOLUSI TERHADAP PEMIKIRAN YANG DANGKAL.
  • Mengajarkan prinsip-prinsip moral : Pengetahuan sejarah merupakan pengetahuan praktis; merupakan pembelajaran filsafat yang disertai contoh-contoh; merupakan penglihatan yang berasal dari pengalaman. Sejarah memaparkan perbuatan yang buruk, membuka kedok kebaikan yang palsu, menunjukan kesalahan dan prasangka, dan menghilangkan pesona kekayaan. Sejarah menunjukan dengan ribuan contoh, lebih meyakinkan daripada semua pernyataan, bahwa tidak ada yang lebih baik untuk disuarakan kecuali kehormatan dan kejujuran. Sejarah mengajarkan bagaimana orang-orang besar, yang demi kehormatannegaranya, berjuang dan mengorbankan semua miliknya.
  • Menanamkan orientasi ke masa depan :Ini tujuan penting dalam pembelajaran sejarah. Sejarah diajarkan untuk mendorong para pembelajar agar memiliki visi kehidupan ke depan dan bagaimana cara mencapainya. Pelajaran masa lampau dapat diterapkan untuk menciptakan masa depan yang baru yang lebih baik.
  • Memberikan pelatihan mental : Sejarah dapat merangsang pikiran, penilaian, dan pemilahan, serta menciptakan sikap ilmiah pada orang dewasa sebagai imbangan terhadap ketidakstabilan emosinya.
  • Melatih menangani isu-isu kontroversial : Pembelajaran sejarah sangat penting untuk melatih menangani masalah-masalah yang kontroversial dengan berlandaskan semangat mencari kebenaran sejati melalui diskusi, debat, dan kompromi. pembelajaran semacam ini dapat memperluas pengetahuan sehingga mampu menangani berbagai isu kontroversial secara obyektif
  • Membantu mencarikan jalan keluar bagi berbagai masalah sosial dan perorangan.
  • Memperkokoh rasa nasionalisme
  • Mengembangkan pemahaman internasional
  • Mengembangkan keterampilan-keterampilan yang berguna : Tidak kalah penting, pembelajaran sejarah memiliki sasaran untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tertentu yang bermanfaat seperti : Keterampilan menggunakan dan mengartikan peta, diagram, time-line, Keterampilan membaca, keterampilan berdiskusi tentang isu-isu kontroversial, dl

HQ : Metode IBROH untuk Melejitkan Kecerdasan

Kecerdasaan yang dimiliki seseorang ternyata tidak hanya sebatas kecerdasan intelektual (IQ) semata seperti yang selama ini dikenal selama ini. Ada beberapa kecerdasan yang ikut mempengaruhi jalan keberhasilan seseorang. Menurut Gardner dalam buku “Multiple Intelligences“, setidaknya ada sembilan macam kecerdasan yang ada pada manusia. yaitu: (1) Kecerdasan logis-matematis , (2) Kecerdasan linguistik -verbal (kebahasaan) , (3) Kecerdasan spasial-visual , (4) Kecerdasan musikal, (5) Kecerdasan kinestetik-ragawi, (6) Kecerdasan naturalis, (7) Kecerdasan intrapersonal, (8) Kecerdasan interpersonal, (9) Kecerdasan eksistensial

Konsep kecerdasan majemuk yang digagas oleh Gardner ini telah mengoreksi keterbatasan cara berpikir konvensional yang seolah-olah hanya melihat kecerdasan dari nilai ujian atau tes intelegensi semata. Padahal untuk memperoleh kesuksesan dan terlebih kebahagiaan dalam hidup lebih banyak disumbangkan oleh kecerdasan yang bermuara dari hati.

Dalam tulisan sebelumnya tentang HQ bahwa ‘Ibroh yang terdapat dalam Alquran mengandung dampak edukatif yang sangat besar, yaitu mengantarkan penyimaknya pada kepuasan berpikir mengenai persoalan akidah.  Kepuasan edukatif tersebut dapat menggerakkan kalbu, mengembangkan perasaan ketuhanan serta menanamkan, mengokohkan, dan mengembangkan akidah tauhid, ketundukan kepada syariat Allah, atau ketundukan pada berbagai perintah-Nya.

‘Ibroh dan i’tibar itu merupakan kondisi psikologis yang mengantarkan manusia menuju pengetahuan yang dimaksud dan dirujuk oleh suatu perkara yang dilihat, diselidiki, ditimbang-timbang, diukur dan ditetapkan oleh manusia menurut pertimbangan akalnya sehingga dia sampai pada suatu kesimpulan yang dapat mengkusyukkan kalbunya sehingga kekusyuan itu mendorongnya untuk berperilaku logis dan sesuai dengan kondisi masyarakat.

Metode IBROH (Inspirasi – Belief – Refleksi – Orientasi – Heroes)

Inspirasi

Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh WJS Poerwadarminta (cetakan kelima, 1976), mengartikan inspirasi sebagai ilham; bisikan. Ilham berarti: (1) petunjuk yang datangnya dari Tuhan yang terbit di hati; (2) sesuatu yang menggerakkan hati untuk……

Pengertian inspirasi (inspiration) yang lebih luas terdapat dalam World Book Dictionary (edisi 1978) yaitu: (1)the influence of thought and strong feelings on actions, especially on good actions; (2) any influence that arouses effort to do well; (3) an idea that is inspired; sudden brilliant idea; (4) a suggestion to another; act or causing something to be told or written by another; (5) God’s influence on the mind or soul of man; divine influence; (6) a breathing in; act of drawing air into the lungs; inhalation.

Sementara dalam bahasa Latin, perkataan inspirasi berasal dari dua kata yaitu in dan spiro yang secara harfiah berarti menghembuskan ke dalam. Arti yang hampir sama dalam bahasa Ibrani, kata inspirasi adalah neshama dan nismah yang berarti nafas. Dalam bahasa Arab kata inspirasi adalah fikrah dari asal kata fikrun yang berarti ide, pikiran atau pergerakan pikiran dalam otak.

Jadi, inspirasi (ilham, yang menggerakkan hati dan pikiran) secara intuisi bisa dimaknai semacam nafas, bisikan dan penglihatan yang amat tajam dan menggerakkan (memengaruhi) hati dan pikiran seseorang (penulis) untuk berkemampuan berimajinasi atau mengembangkan perasaan dan pandangannya.

Inspirasi juga bermakna pencerahan (iluminasi) berupa petunjuk dari Tuhan yang terbit di hati dan pikiran sehingga meningkatkan kemampuan pikir, ide, gagasan, perasaan dan imajinasi seseorang. Kemudian secara dinamis, seseorang (penulis) itu mampu mengembangkan visi, prinsip dan kepribadian dalam memilih kata dan cara mengungkapkannya.

Belief : Keyakinan

“Apabila sesuatu bangsa tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, maka sudah tentu bangsa itu akan kekal dalam kehinaan.” – Tun Dr. Mahathir Mohamad

Kisah Keyakinan Diri Joan of Arc amat menarik dijadikan sample betapa modal keyakinan mampu mengalahkan segalanya. Joan of Arc pada umur 17 tahun, seorang pengembala kambing biri-biri yang miskin di Prancis, amat percaya yang ia telah mendapat ilham dari Tuhan bahwa beliau harus memimpin bala tentara Perancis untuk menentang tentara-tentara Inggris yang amat sukar dikalahkan. Tentara-tentara Perancis telah kehabisan ide tentang bagaimanakah lagi cara menepis serangan-serangan serta mengalahkan tentara-tentara Inggris. Karena kalut akhirnya mereka membujuk kepada siapa saja di kalangan rakyat Perancis untuk tampil ke depan memberi ide tentang bagaimanakah lagi cara menentang tentara-tentara Inggris.

Joan of Arc seorang gadis yang masih amat muda itu telah tampil ke hadapan dengan keyakinan yang begitu tinggi, berapi-api – amat yakin sekali – seyakin-yakinnya! bahwa ia telah mendapat ilham dari Tuhan yang dia sajalah yang akan dapat memimpin bala tenteaa Perancis bagi mengalahkan tentara-tentara Inggris. Keyakinannya yang sungguh kental dan mengkagumkan itu telah memberi harapan baru kepada pucuk pimpinan tentara Prancis. Beliau telah diberi tugas berat; mengepalai tentara Prancis yang sedang menghadapi kebuntuan dan kemelut itu!

Keyakinan si gadis lidi yang tidak dapat dipertikaikan lagi itu telah men gobarkan semangat seluruh tentara dan rakyat Prancis. Dengan keyakinan dan pimpinan Joan of Arc, mereka telah mendapat semangat dan tenaga baru untuk menyerang balas dan menggempur tentera-tentera Inggris dengan strategi peperangan yang berbisa serta keyakinan dan semangat juang yang tiada tandingannya! Ini telah amat meNGEJUTKAN tentara-tentara Inggris sehingga hilang arah, kekuatan dan semangat walaupun jumlah mereka lebih banyak daripada tentara-tentara Perancis – kelamkabut serta berlarian tentara-tentara Inggris! Lantas, Perancis meraih kemenangan besar!. Inilah bukti KEAJAIBAN keyakinan diri!

Refleksi

Sebuah ayat dari Alquran yang berbunyi: Wal tanzhur nafsun maa qaddamat li ghad. Hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esoknya (Al Hasyr: 18) menegaskan bahwa kita diperintahkan untuk melihat apa yang telah kita lakukan dan kemudian dijadikan sebagai patokan kita untuk melangkah di kemudian hari. Kita harus memperhatikan segala hal yang telah kita lakukan sebelumnya dengan tujuan berbenah menjadi lebih baik dan lebih berhati-hati dalam setiap langkah.

Ada sunnatullah dalam sejarah yang tak berubah, tak berganti, dan sudah menjadi suatu kepastian sejarah. Nilai-nilai deterministik sejarah bisa direfleksikan dalam kehidupan nyata di kekinian dan masa depan. Arah peradaban kemajuan sebuah bangsa akan mewujud manakala kita mampu menangkap pesan-pesan sejarah.

Orientasi

Sejarah adalah ilmu tentang manusia, tentang perilaku manusia secara individu ataupun komunitas/kelompok/bangsa. Baik sejarah, filsafat maupun agama pada awalnya berhubungan dengan kebutuhan untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan mendasar : mengapa kita ada (hidup)bagaimana asal mula dan arah tujuan dari kehidupan itu, dan mengapa kita menjadi seperti ini dan bukan yang lain. Sebagai spesies yang paling maju dan kompleks, salah satu pembeda dari manusia dari makhluk lain adalah kapasitasnya untuk memberikan makna pada kehidupan.

Memahami sejarah bakal menuntun kita untuk memahami dan meyakini arah hidup dan cita-cita yang mesti dicapai dalam hidup dan kehidupan.

Heroes

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya.” Sesuatu yang tak lagi asing di telinga kita. Tapi bagaimana dengan kebesaran bangsa masa kini?, kebesaran bangsa masa datang?, kebesaran sebuah bangsa tentu bukan saja dengan mengagung-agungkan sang hero masa lalu tetapi penghargaan pada para pahlawannya musti ditunjukan dengan menjadi sang hero di masa kini atau masa depan.

Posisi tokoh atau pelaku sejarah sebagai sang hero dalam kehidupan nyata mungkin saja akan sering berubah. Pergantian posisi kawan dan lawan akan terus membelah wajah sejarah. Pahlawan juga bisa menurut selera jaman, selera pandangan dan pemikiran anda sendiri. Siapapun anda bisa mencontoh hero dalam hidup anda menurut versi anda.

Masih bersambung dan butuh penyempurnaan

Referensi Pembelajaran Sejarah “TEACHING OF HISTORY” ,  S.K. Kochhar , Penerbit Grasindo Jakarta, 2008

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s