Sang Terpilih

Jendral Subagyo termenung memikirkan apa yang baru saja diterimanya dari pertemuan dengan “komisi” yang diadakan di sebuah hotel mewah di kawasan Manhattan, New York. Atas permintaan George Soros, ia sebagai calon presiden Indungsia yang telah dilantik menjadi anggota “organisasi” sejak menjadi peserta pendidikan di West Point, 30 tahun lalu, ia harus menjalani “fit and proper test” yang diadakan “komisi tertinggi organisasi”. Dari George Soros pula ia tahu bahwa semua presiden Indungsia harus menjalani test seperti ini.

George Soros adalah salah seorang di antara anggota “komisi tertinggi”. Meski George Soros tidak pernah mengatakannya, Jendral Subagyo tahu, ada ia dan para anggota “komisi” lainnya sebenarnya bekerja untuk orang-orang yang kedudukannya lebih tinggi di “organisasi”. Desas-desus menyebutkan, orang-orang di belakang layar itu adalah para bankir yahudi dari Eropa dan Amerika yang dipimpin oleh salah seorang anggota keluarga Rothschild. Kekayaan mereka bahkan menjadikan Bill Gates dan Warren Buffet bagaikan pengemis di hadapan mereka. Bukankah Gill Gates dahulu pernah mengemis-ngemis pekerjaan kepada IBM, salah satu cicit perusahaan anggota komisi? Namun tentunya demi menjaga kerahasiaan mereka, Bill Gates dan Warren Buffet-lah yang diorbitkan media massa sebagai orang-orang terkaya di dunia. Dan untungnya Bill Gates dan Warren “Tukang Tipu” Buffet menikmati gelar yang diberikan kepada mereka sebagai orang-orang paling kaya di dunia. Sebagaimana juga Mukesh Ambani. Bahkan saking bangganya namanya disebut sebagai salah seorang terkaya di dunia oleh Forbes, Mukesh, turunan prajurit Alengka dalam mitologi Hindu itu, langsung “unjuk gigi” dengan membangun rumah pribadi setinggi gedung 60 tingkat dengan harga mencapai 1 miliar dolar di Bombay. Padahal lebih dari separoh penduduk di negerinya tinggal di gubuk-gubuk reyot dan kolong jembatan.

Testnya sendiri tidak terlalu sulit, hanya menjawab apakah bersedia melakukan “ini” dan “itu” setelah dilantik menjadi presiden kelak. Itu saja. Namun “ini” dan “itu” di sini adalah menyangkut nasib 250 juta rakyat Indungsia. “Ini” dan “itu” di sini berarti bisa membawa rakyat Indonesia bertambah makmur. Namun sayangnya dari analisis singkat sang Jendral, semua itu hanya membawa kesengsaraana rakyat. Contoh paling gamblang adalah permintaan “organisasi” untuk menghapuskan sama sekali subsisi BBM di Indungsia. Maksudnya adalah agar harga BBM menyamai harga internsional sehingga perusahaan-perusahaan minyak asing bisa menambah keuntungan bisnis minyaknya di Indonesia. Padahal selama ini sama sekali tidak ada subsidi BBM yang dikeluarkan pemerintah untuk rakyat. Perusahaan minyak di Indungsia mengambil minyak gratis dari perut bumi, menyulingnya dengan biaya 10 dolar per-barrel, dan menjualnya dengan harga 50 dolar per-barrel. Dengan total produksi mencapai 1 juta barrel per-hari, perusahaan minyak itu untung 40 juta dolar per-hari, atau 14.6 miliar dolar setahun, alias 145 triliun rupiah setahun. Pemerintah sendiri hanya mendapatkan pajaknya sebesar 10% dari keuntungan itu.

Tapi bahkan keuntungan sebesar itu dirasa masih kurang. Maka dengan alasan pengurangi subsisi, harga minyak akan dinaikkan lagi. Padahal subsidi di sini hanya sebuah ilusi belaka. Seolah-oleh karena harga minyak internasional mencapai 70 dolar per-barrel, pemerintah menanggung subsidi 20 dolar per-barrel, yaitu selisih harga minyak internasional dengan harga minyak dalam negeri. Padahal kenyataannya pemerintah dan perusahaan minyak tetap menikmati keuntungan besar, tidak peduli berapa tinggi harga minyak internasional. Dan anehnya, rakyat tenang-tenang saja menghadapi “kegilaan” ini. Tentu saja ini semua berkat “mantra” media massa yang dihembuskan para politisi, birokrat, dan para pengamat ekonomi. Ia tahu, para politisi, birokrat dan pengamat, termasuk para “wartawan senior” itu adalah para “yunior”-nya di “organisasi”.

Mengingat “organisasi”, pikirannya kembali ke masa 30 tahun lalu saat menjadi peserta pendidikan di akademi militer paling terkenal di dunia, West Point. Ia yang memiliki IQ tinggi meski sering gamang dalam mengambil keputusan, adalah taruna lulusan terbaik akademi militer di Indungsia. Dan karena adanya hubungan militer antara Indungsia dan Amerika, ia dan 9 taruna terbaik lainnya, sebagaimana 10 taruna terbaik lainnya setiap tahun, berhak mengikuti pendidikan di West Point.

Pada suatu hari, Subagyo yang saat itu masih Letnan, menghadiri sebuah pesta yang diadakan keluarga teman kuliahnya dari Amerika yang merupakan anak dari seorang senator terkenal. Saat pertama datang di Amerika, ia sudah mengalami “culture shock” yang luar biasa. Maklum ia hanya anak desa dari Capitan, meski orang tuanya cukup terpandang sebagai seorang kiai. Namun dalam pesta itu ia mengalami “culture shock” yang jauh lebih hebat.

Saat jam menunjukkan angka 12 malam dan para wanita telah lama meninggalkan ruangan, tiba-tiba muncullah dua orang wanita muda cantik berpakaian minim yang memegang kunci mobil. Wanita itu menyerahkan kunci mobil itu, yang ternyata adalah kunci mobil sport Ferrari seri terbaru, kepada Subagyo. Saat ia dilanda kebingungan, sang senator tuan rumah menghampirinya dan mengatakan kepadanya, mobil itu boleh dibawa kemanapun, beserta wanita cantik yang menyerahkan kuncinya. Dan saat ia dilanda kebingungan antara segera membawa pergi “buah segar yang ranum” itu atau menolaknya mengingat ia adalah seorang anak kiai yang dikenal cukup alim, putra sang senator sudah menyeretnya keluar menuju mobil Ferrari yang telah menanti di depan rumah. Tidak lama kemudian mereka berempat telah meluncur membelah kota New York.

Singkat cerita, pagi harinya Subagyo mendapati dirinya berada di sebuah kamar hotel mewah, di samping tubuh molek seorang wanita cantik.

Subagyo sangat menyesali apa yang telah menimpa dirinya semalam. Pikirannya kembali ke tanah air dimana Lastri, istrinya setia menunggu kepulangannya. Yah, mereka memang sepasang pengantin baru. Memang tidak secantik wanita yang tergolek di sampingnya itu, bahkan menurutnya bokong Lastri kelewat besar dengan hidung besar bertahi lalat di ujungnya. Namun Lastri, tipikal wanita negerinya, adalah wanita setia. Di samping itu ia anak seorang jendral terkenal di negerinya yang turut berjasa membuat Subagyo diterima di akademi militer. Hanya saja karena kelewat idealis, karier mertuanya berakhir tragis. Ia dipecat setelah berani menampar seorang pengusaha keturunan Cina yang secara kurang ajar datang ke istana negara bercelana kolor. Karena ternyata sang pengusaha cina itu ternyata besannya presiden Indungsia.

“Aku tidak ingin bernasib sama,” gumam Subagyo setiap kali mengingat nasib calon mertuanya itu.

Tekad “tidak ingin hidup miskin” memang sangat kuat di dalam batin Subagyo. Itulah sebabnya ia tidak berlama-lama menyesali perzinahannya dengan “pelacur profesional New York pembawa kunci mobil”. Bukankah kini terbuka peluang besar untuk menjadi pejabat penting di Indungsia setelah ia menyelesaikan pendidikannya? Ia hanya sedikit merasa khawatir kalau-kalau adegan percintaannya di kamar hotel itu ternyata direkam oleh orang-orang yang ingin memperalatnya sebagaimana biasa dilakukan dinas inteligen Amerika, juga dinas inteligen Israel, Mossad.

Kembali ke sosok George Soros, Jendral Subagyo sebenarnya membenci setengah mati pria yahudi askenazi ini. Ialah yang telah menghancurkan ekonomi Indonesia dan ekonomi negara-negara Asia Timur lainnya waktu terjadi krisis moneter tahun 1997. Jauh sebelumnya ia juga telah menghancurkan ekonomi negara-negara Eropa Timur. Dan dari puing-puing kehancuran itu, ia mengeruk keuntungan yang tiada tara.

Dalam kasus krisis moneter tahun 1997, Soros memborong dolar di pasar uang negara-negara Asia Timur hingga membuat dolar menjadi langka. Akibatnya nilai tukar dolar langsung melonjak karena di samping terjadi kelangkaan, permintaan dolar juga sedang tinggi karena negara-negara di kawasan tersebut membutuhkan mata uang itu untuk membayar hutang jangka menengah yang jatuh tempo. Semuanya terkait juga dengan apa yang dilakukan para penulis yahudi seperti Alvin Toffler, yang pada akhir dekade 1980-an dan awal 1990a-an memprovokasi negara-negara Asia Timur untuk melakukan pembangunan besar-besaran guna mengantisipasi munculnya “jaman keemasan Asia Timur” yang digembar-gemborkan Toffler dan teman-temannya. Sayangnya demi menggenjot pembangunan itu negara-negara Asia Timur harus mengandalkan hutang dari bankir-bankir Eropa dan terutama Amerika. Dan saat mereka membutuhkan dolar untuk membayar hutangnya, Soros sudah duluan memborongnya dan baru bersedia menjual kembali dengan kurs baru yang telah melonjak berkali-kali lipat. Bisa dibayangkan berapa besar keuntungan Soros dengan tindakannya itu.

Namun semua itu belum berakhir. Ketika perekonomian negara-negara Asia Timur, khususnya Indonesia, hancur tanpa terjadi peperangan atau bencana alam, George Soros datang kembali menawarkan “bantuan” yang sebenarnya adalah pemerasan. Dengan agak memaksa, Soros, dengan menggunakan bendera IMF tentunya, menawarkan pinjaman untuk mengatasi kesulitan keuangan negara-negara yang dilanda krisis dengan syarat Indonesia menjual murah BUMN-BUMN dan aset-aset strategis lainnya kepada para “investor” yang sebenarnya kaki tangan bankir yahudi.

Itulah permainannya. Sangat jelas dan gamblang. Dan sudah terjadi berkali-kali dalam sejarah manusia. Soros, para bankir serta Alfin Toffler, semuanya yahudi.

Namun bukan itu semua yang membuat Jendral Subagyo sangat membenci Soros. Melainkan sikap angkuhnya itulah yang membuat Subagyo sangat membencinya. Bayangkan saja, pernah tengah malam ia meneleponnya untuk menanyakan sesuatu yang tidak terlalu urgen. Keangkuhan lebih jelas lagi tercermin pada gaya bicara serta tingkah lakunya.

Kesombongan dan keangkuhan memang watak dasar orang yahudi. Bahkan para pemandu wisata di pegunungan Himalaya maupun di taman margasatwa Serenggeti Tanzania, tahu hal itu. Mereka mengenal orang-orang yahudi dari keangkuhan mereka sebagaimana jorok serta pelitnya mereka memberikan tips.

Jangankan kepada goyim, alias binatang ternak, julukan orang yahudi untuk orang-orang bukan yahudi. Kepada sesama yahudi saja mereka saling berlagak. Orang yahudi sephardin mengejek yahudi ashkenazi dengan julukan “kike” dan orang yahudi ashkenazi mengejek yahudi falasha sebagai budak. Persaingan antara orang-orang yahudi sephardin dengan ashkenazi bahkan berujung pada Perang Krim dan Perang Dunia I karena niat orang-orang yahudi ashkenasi Jerman membangun jalur kereta api Berlin-Baghdad mengancam dominasi laut orang-orang yahudi sephardin Inggris. Baru setelah Napoleon dan Hitler mengancam kepentingan bisnis mereka, orang-orang yahudi itu bersatu.

Sebenarnya orang-orang yahudi itu bukan orang yahudi yang sebenarnya sebagai keturunan Ibrahim, Musa dan Daud. Orang-orang yahudi sephardin dan ashkenazi adalah keturunan orang-orang Khazar yang berasal dari sekitar Laut Kaspia. Sedangkan orang-orang yahudi falasha adalah orang-orang kulit hitam keturunan Ratu Sheba dari Ethiopia. Orang-orang yahudi keturunan Ibrahim yang sebenarnya justru orang-orang Palestina.

Oh ya, Subagyo memang banyak membaca sejarah orang-orang yahudi karena suatu peristiwa yang sangat penting dalam hidupnya. Tidak lama setelah peristiwa pesta di rumah senator yang berakhir di ranjang sebuah hotel dengan seorang pelacur, Subagyo mendapat undangan untuk mengikuti sebuah “acara yang sangat eksklusif”, demikian teman Subagyo yang anak senator terkenal itu menyebutnya. “Hanya orang-orang penting dan pilihan saja yang bisa mengikuti acara ini,” kata teman Subagyo.

Ternyata Subagyo “dipaksa” menjalani inisiasi (perploncoan) sebagai anggota sebuah organisasi freemason. Awalnya ia menolak saat diharuskan berpakaian wanita dan bertingkah laku seperti monyet. Namun setelah diperlihatkan video rekaman perselingkuhannya dengan pelacur di hotel tempo hari, ia tidak punya pilihan lain. Apalagi setelah sang senator kemudian menjanjikan untuk menjadikan Subagyo sebagai orang nomor satu di Indungsia.

Saat ditanya mengapa dirinya yang dipilih, sang senator menjawab bahwa Subagyo memiliki darah suci yahudi yang diturunkan dari Snouck Horgronje.

Orang Indungsia tentu tidak banyak yang tahu bahwa setelah kolonialis Belanda berhasil menundukkan orang-orang Islam yang militan di sebuah propinsi yang menolak dijajah, Snouck Horgronje kembali ke negeri asalnya dengan meninggalkan beberapa istri dan anak-anak. Setibanya di Belanda ia kembali memeluk agama Katholik. Jasadnya pun kini berbaring di pemakaman Katholik. Namun sebenarnya ia tidak pernah betul-betul memeluk Katholik, karena diam-diam ia tetap melakukan ritual-ritual penyembahan berhala sebagaimana dilakukan leluhurnya.

Apa yang membuat Jendral Subagyo termenung setelah menjalani “fit & propher test” adalah karena ia diharuskan melakukan selebrasi “el diablo sign” saat berpidato menyambut kemenangan pemilihan presiden. “Organisasi” memang menjamin ia akan memenangkan pemilihan presiden dalam satu putaran. Tentu saja karena peralatan komputer yang digunakan komisi pemilihan umum dibuat di Israel, sebagaimana juga alat-alat penghitungan suara yang digunakan di Amerika dan negara-negara barat lainnya.

Menurut perhitungan Subagyo, terlalu beresiko melakukan tanda “el diablo”. Karena internet, kini sudah terlalu banyak orang awam yang tahu kalau tanda itu hanya dilakukan oleh para penyembah berhala. Dan resiko itu, di Indungsia khususnya, sangat besar mengingat fanatisme agama rakyat yang masih sangat tinggi. Subagyo ingat bagaimana orang-orang komunis, yang tidak lain adalah binaan “organisasi”, dibantai rakyat tahun 1960-an setelah terbongkar kedoknya.

Maka ia mengusulkan cara lain untuk menunjukkan kesetiaannya pada “organisasi”.

Cara yang diusulkan Subagyo adalah berpidato dalam bahasa Inggris sebagai bentuk loyalitas kepada “organisasi”. Yah, dengan cara itu tentu tidak akan dicurigai banyak orang. Kecuali, mungkin hanya disindir di media-media massa sebagai “kurang nasionalis”.

Bagi yang memahami bagaimana beratnya perjuangan para pendiri bangsa mempersatukan seluruh bangsa Indungsia dengan bahasa Indungsia sebagai bahasa pemersatu, berpidato menyambut kemenangan pemilihan presiden dalam bahasa Inggris adalah terasa bagaikan menyemprotkan dahak di muka. Lagipula darimana logikanya, mengucapkan terima kasih pada rakyat Indungsia yang telah memilih menjadi presiden, tapi menggunakan bahasa Inggris.

Untuk meredam kecaman, Subagyo, meminta “organisasi” untuk “mengamankan” para wartawan senior agar tidak menyinggung-nyinggung soal nasionalisme berkaitan dengan pidatonya itu. Dan ternyata usul itu disetujui.

Beberapa permintaan “organisasi” lainnya di antaranya perubahan undang-undang penanaman modal, undang-undang migas, undang-undang perpajakan, serta pembuatan undang-undang informasi publik. Semua undang-undang itu harus dibuat seliberal mungkin, disesuaikan dengan kepentingan “organisasi” yang menginginkan sumber-sumber alam dan pasar ekonomi dalam negeri semakin dikuasai para bankir kapitalis asing. Adapun undang-undang informasi publik dibuat agar para agen-agen kepentingan asing tidak mendapatkan hambatan untuk memperoleh informasi-informasi inteligen demi kepentingan mereka.

Satu hal lagi yang menjadi catatan Subagyo adalah misi organisasi untuk “memerangi terorisme” di Indonesia. Untuk itu organisasi meminta dibuat undang-undang anti-terorisme yang memberi kekuasaan kepada negara untuk melakukan tindakan-tindakan ekstrim terhadap orang-orang yang dituduh sebagai teroris. Untuk itu organisasi meminta dibentuk sebuah satuan khusus anti-teror yang operasionalnya, termasuk sebagian dananya, dibawah komando Australia, negara boneka “organisasi” yang dipimpin seorang wanita lesbian “penyembah berhala” sesama anggota organisasi sebagaimana Subagyo. Sebagai komandan satuan anti-teror itu organisasi telah menetapkan seorang “kristen fanatik” agar tidak segan melakukan tindakan keras terhadap orang-orang Islam yang bakal dibidik sebagai tersangka teroris.

Yah, pada dasarnya kampanye anti-teroris itu memang ditujukan untuk menghancurkan Islam sebagai kekuatan tersisa yang masih menjadi batu sandungan dominasi “organisasi” di dunia. Selain dendam pada orang-orang Islam yang telah membantai kader-kader komunis binaannya pada tahun 1960-an, “organisasi” juga jengkel pada orang-orang Islam yang terus menghambat program-program liberalisasi yang dikampanyekan “organisasi” melalui agen-agennya, seperti isu kesetaraan gender, Islam Liberal, demokrasi, pornografi dan pornoaksi dan sebagainya. Hanya dalam masyarakat liberal, maksudnya bebas dari nilai-nilai moral, etika dan agama lah “organisasi” bisa berkuasa tanpa terganggu.

Selain itu, “organisasi” juga menghendaki dua BUMN strategis dipimpin oleh agen-agen mereka yang terpercaya, yaitu perusahaan listrik negara dan perusahaan minyak negara. Ini penting demi menjalankan misi “organisasi” yang tertunda beberapa tahun untuk menguasai saham perusahaan-perusahaan tersebut melalui privatisasi karena adanya perlawanan serikat pekerja. Dengan jatuhnya dua BUMN strategis itu maka Indungsia benar-benar dikuasai “organisasi” karena BUMN telekomunikasi telah jatuh ke tangan “organisasi” tiga tahun sebelumnya.

Semua itu disetujui Subagyo tanpa banyak keberatan. Namun yang masih menjadi “ganjalan” Subagyo adalah permintaan “organisasi” agar ia berpasangan dengan Budiloyo, seorang “idiot” yang oleh media-media massa justru disanjung-sanjung sebagai “begawan ekonomi” dan “Ayatollah ekonomi Indonesia”. Kurang ajar memang media-media massa itu. Masa seorang penyembah berhala dan “penganut kebathinan yang taat” disamakan dengan ulama besar kaum Shiah.

Awalnya Subagyo agak heran saat beberapa ekonom “oposan”, ekonom yang tidak kebagian jabatan di pemerintahan, menjuluki sang “begawan ekonomi” sebagai “teh botol” alias teknokrat bodoh tolol. Itu saat Subagyo menjadi seorang menteri dan Budiloyo menjadi menko perekonomian. Iseng-iseng Subagyo mengetes wawasan ekonomi sang begawan dengan bertanya kepadanya. “Pak, Indonesia adalah negeri yang kaya sumber daya alam dan manusia, mengapa kita tidak pernah bisa maju sebagaimana negara-negara lainnya, dan bagaimana agar kita bisa maju?”

“Anu, eh, begini ….” Lalu Budiloyo nerocos sebagaimana seorang dosen di hadapan mahasiswa fakultas-fakultas ekonomi di Indungsia. Bahwa majunya sebuah negara tergantung pada investasi asing, menjaga suasana kondusif, ……..kemiskinan struktural, “rational expectation”, ekonometri dan statistik …… bla bla bla. Tanpa sedikit pun menyentuh kondisi riel.

Meski bukan ahli ekonomi, Subagyo tahu apa yang dikatakan Budilono itu omong kosong semua. Dan itulah yang membuat ia kurang suka padanya. Ia lebih suka orang bodoh tapi menyadari kebodohannya daripada orang bodoh tapi merasa pinter sebagaimana Budiloyo, meskipun di dalam “organisasi” Budiloyo terhitung masih lebih senior dibandingkan dirinya. Ia direkrut setahun sebelum Subagyo. Dengar-dengar dengan umpan seorang tkw bertubuh kurus yang sengaja didatangkan dari Hongkong.

Materi lain yang dibahas dalam “fit and propher test” yang diikuti Subagyo dan anggota komisi tertinggi “organisasi” adalah mengenai metode dan tata cara kampanye pemilihan presiden. Untuk masalah ini disepakati menggunakan jasa konsultan politik “Jackal Enterprise” dari Amerika yang sukses mengantarkan Obonga menjadi Presiden Amerika. Perusahaan ini dikelola oleh David Rubin, mantan pejabat dinas inteligen Israel yang bermigrasi ke Amerika. Lebih tepatnya Rubin memiliki dua kewarganegaraan, Amerika dan Israel sekaligus.

Orang yang tidak memahami realitas politik Amerika, bahkan termasuk kebanyakan warga Amerika sendiri, tentu tidak percaya bahwa ada warga negara Amerika yang memiliki kewarganegaraan ganda. Namun begitulah realitasnya. Untuk orang-orang yahudi dari negara lain, pemerintah Amerika selalu memberi keistimewaan dengan memberi kewarganegaraan, meski kewarganegaraan sebelumnya tidak pernah dicabut. Misalnya saja Presiden Clinton pernah memberikan kewarganegaraan kepada Martin Indyk, seorang yahudi asal Inggris di hari pertama menjabat sebagai presiden. Orang tersebut langsung diberi jabatan di departemen pertahanan, bahkan kemudian diangkat menjadi duta besar.

Adapun untuk pembiayaan kampanye, “organisasi” bersedia memberikan dana talangan yang harus segera dikembalikan. Karena jumlahnya mencapai triliunan rupiah, maka diperlukan sebuah sebuah “kebijakan pemerintah”. Skenarionya adalah membangkrutkan sebuah bank dengan mengalirkan dana likuiditasnya ke berbagai investasi fiktif yang bermuara ke rekening “organisasi”. Kemudian pemerintah mengeluarkan talangan untuk menyelamatkan bank tersebut sekaligus memutihkan kejahatan perbankan yang dilakukan owner dan manajemen bank tersebut. Untuk menghindari kemarahan masyarakat, beberapa manajer bank bakal ditangkap, namun para owner yang tidak lain adalah para operator George Soros, dibiarkan melarikan diri ke luar negeri.

Modus seperti ini sebenarnya sebuah standar kejahatan perbankan internasional: merampok dana masyarakat dan negara yang harus menanggungnya. Ironisnya lagi, seringkali dana talangan yang dikeluarkan pemerintah merupakan pinjaman bank yang pemiliknya sama dengan bank yang melakukan kejahatan. Ironis bukan? Seseorang merampok rumah kita, kemudian datang memberikan pinjaman dari hasil rampokan tersebut.

Cara seperti ini telah dilakukan berulangkali. Termasuk dalam kasus krisis kredit perumahan Amerika yang berujung pada krisis keuangan global tahun 2008. Hal ini karena begitu besarnya dana masyarakat yang dirampok sehingga menggoncangkan perekonomian Amerika dan berimbas pada perekonomian dunia. Salah satu pelaku kejahatan ini, Bernard Madoff, lagi-lagi yahudi, bahkan diketahui “berhasil” mengeruk dana masyarakat hingga $60 miliar dolar. Ada banyak Madoff sebenarnya, dan mereka semua adalah para operator George Soros dan “organisasi”. Dan Madoff hanya sial, karena dilaporkan sendiri oleh anaknya sendiri ke polisi. Untuk menalangi bank-bank yang bangkrut karena dirampok sendiri oleh owner dan manajernya, pemerintah Amerika harus menalanginya hingga lebih dari $1 triliun, atau senilai sekitar 10 kali lipat APBN Indungsia. Dana talangan itu diperoleh pemerintah Amerika dari pinjaman bank-bank milik “organisasi”.

Oh ya, bank yang diskenariokan bakal bertindak sebagai “perampok” nasabah masyarakat untuk membiayai kampanye Subagyo adalah Bank Centurion. Nilai yang dirampok dan sekaligus yang harus ditalangi pemerintah adalah sekitar Rp 6,7 triliun. Hanya sekuku hitam dari yang diperoleh “organisasi” dari krisis keuangan Amerika. Tapi bagi rakyat Indungsia yang sebagian besarnya masih hidup terbelakang, nilai itu sangatlah besar.

Dari 6,7 triliun itu sebanyak 2 triliun untuk mengembalikan dana talangan milik “organisasi”, 3 triliun fee mereka karena tidak ada makan malam gratis, 1 triliun lagi untuk fee owner dan manajemen Bank Centurion serta para pejabat keuangan yang terlibat dalam skenario, dan 600 miliar sisanya untuk dana taktis partai pengusung serta pribadi Subagyo.

Oh ya, mengenai undang-undang informasi publik sebagaima telah disebutkan sebelum ini, orang mungkin tidak percaya kalau undang-undang itu adalah produk kepentingan “organisasi” mengingat kementrian yang mengurusi undang-undang itu dipimpin seorang tokoh organisasi dakwah. Masyarakat lupa bahwa organisasi ini pernah dipimpin oleh seorang idiolog wahabi salafi bentukan zionis. Dan sebenarnya belang mereka telah terbuka sejak mereka suka melakukan kegiatan-kegiatan di Hotel JW Marriot, salah satu ikon kebanggaan “organisasi”.

Maka terjadilah apa yang direncanakan. Subagyo terpilih menjadi presiden Indungsia dalam pemilihan yang hanya berlansung satu putaran. Terima kasih pada alat penghitung suara buatan Israel, tim sukses Jackal Enterprise yang dipimpin mantan pejabat Mossad, serta lembaga-lembaga pooling yang merupakan satu paket dengan Jackal Enterprise.

Subagyo tahu, bahwa syarat mutlak agar Indungsia bisa maju adalah membangun infrastuktur besar-besaran terutama di pulau-pulau kaya sumber daya alam seperti Kalimantan dan Irian Jaya. Namun sejak awal ia sudah diwanti-wanti “organisasi” untuk tidak melakukan hal itu. Karena jika dilakukan, batubara di Kalimantan bisa dieksploitasi secara massif dan mengancam bisnis minyak milik “organisasi” yang masih bisa memberikan keuntungan besar selama puluhan tahun mendatang. Memang, “organisasi” telah mengkapling sumber energi batu bara di Kalimantang dan Borneo Jaya melalui kaki tangan “organisasi” yang merupakan seorang pengusaha pribumi. Tapi membiarkan minyak mubazir bukanlah keputusan bisnis yang tepat. Barubara baru akan dieksplorasi besar-besaran setelah cadangan minyak di Indungsia menipis.

Lagipula dengan membangun infrastuktur di Kalimantan dan Irian Jaya, maka sumber daya alam lainnya yang melimpah akan bisa diekploitasi sehingga bisa memberikan kemakmuran yang sangat besar bagi rakyat Indungsia. Tapi “organisasi” tidak ingin Indungsia terlalu maju. Terutama dengan mayoritas umat Islamnya yang masih belum bisa dijinakkan sebagaimana orang-orang kristen kulit putih di Eropa dan Amerika.

Untuk memberikan citra bahwa pemerintahannya peduli pada pembangunan infrastuktur, atas saran Jackal Enterprise tentunya, Subagyo menggelar event akbar “Infrastruktur Summit”. Dalam event itu Subagyo mengumbar banyak wacana pembangunan infrastruktur, termasuk pembangunan Jembatan Selat Janda hingga jembatan Selat Malaka yang menghubungkan Indungsia dengan Malesia. Namun tentu saja, semua itu hanya wacana yang bisa menaikkan citra Subagyo. Dalam praktiknya Subagyo hanya merencanakan membangun jalan tol di Pulau Jaya, itupun hanya sepanjang 50 km selama kepemimpinannya, atau hanya 10 km per-tahun. Untuk pembangunan jalan tol itu sendiri diserahkan kepada beberapa pengusaha yang menjadi kaki tangan “organisasi”.

Tentu saja pembangunan infrastuktur seperti itu tidak banyak memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Dibandingkan misalnya dengan Malesia yang telah membangun jalan tol hingga 5.000 km, apalagi dibandingkan dengan Cina yang telah membangun jalan kereta api hingga puncak Himalaya.

Harus diakui, dalam hal tipu menipu dan pengalihan perhatian masyarakat, orang-orang yahudi itu sangat jago. Mereka telah belajar dari sejarah mereka yang hampir berumur 3.000 tahun yang telah banyak mengajarkan mereka bagaimana cara merebut kekuasaan dan mempertahankannya. Namun satu hal yang sangat membuat Subagyo kagum bercampur heran, dalam kasus Indungsia tentunya, adalah keberhasilan mereka menempatkan agennya menjadi tokoh ulama berkharisme yang setiap saat memelintir tasbih dan mulut komat-kamit berdzikir. Keberhasilan ini tidak kalah sukses dibandingkan saat mereka menempatkan Snouck Horgronje di tengah-tengah komunitas elit Islam di Indungsia hingga berhasil memikat beberapa ulama untuk mengawinkan putrinya dengan Snouck yang merupakan kakek biologis Subagyo. Ulama yang dimaksud Subagyo saat ini tengah menantikan perkawinan putra tunggalnya dengan seorang artis sinetron. Artis tersebut terhitung masih cucu dari mantan perdana menteri Israel, Ariel Sharon.

Namun tidak semuanya sesuai dengan apa yang diperkirakan Subagyo. Meski berhasil menang secara gemilang dalam pemilihan presiden, ia harus menghadapi berbagai permasalahan yang tidak kunjung berhenti. Dan ia tahu, “organisasi” turut berperan merekayasa permasalahan-permasalahan itu. Demo-demo para aktifis LSM misalnya. Ia tahu persis, dari laporan kepala inteligennya bahwa LSM-LSM itu adalah binaan George Soros. Namun yang sangat menyakitkannya adalah diungkit-ungkitnya kasus Bank Centurion oleh media massa dan para politisi dari partai-partai koalisi.

Memang akhirnya ia berhasil meredam kasus Bank Centurion dengan memerintahkan aparat penyidik untuk mem-pending perkara itu dan “mengamankan” Sri Mulyati, menteri keuangan yang turut bermain dalam skenario “perampokan” Bank Centurion, ke kantor pusat IMF yang merupakan lembaga bentukan “organisasi”. Sebagaimana skenarionya, satu-satunya orang yang dihukum dalam kasus ini adalah direktur utama Bank Centurion sekaligus pemilik saham minoritas. Namun kasus ini tetap menjadi bara dalam sekam yang suatu saat bisa kembali meledak dan mengancam kedudukannya sebagai presiden. Ia bagai disandera oleh kasus ini.

Dan dalam keadaan tersandera itu ia terus mendapat tekanan dari “organisasi” untuk menjalankan misi mereka. Salah satunya menangkap tokoh Islam kharismatik, Abdullah Bawasyier dengan tuduhan terorisme. Misi lainnya adalah privatisasi bandara terbesar di Indungsia yang terletak di ibukota. Awalnya ia meminta privatisasi ini ditunda dulu demi mengamankan citra-nya yang tengah carut-marut karena kasus Bank Centurion. Menjual pengelolaan bandara yang sangat strategis nilainya semakin menyudutkan citranya sebagai antek kepentingan asing. Namun baru sehari ia menyampaikan keberatannya, esoknya bandara mengalami mati listrik selama beberapa jam. Ia telah memerintahkan menteri BUMN untuk menegur direktur-direktur BUMN yang bertanggungjawab atas hal itu. Tapi bukannya dituruti, tidak lama kemudian bandara kembali mati listrik. Maka ia sadar bahwa tuntutan “organisasi” harus segera dilaksanakan.

Subagyo tahu jelas bagaimana jika bandara itu jatuh ke tangan “organisasi”: Bandara akan dipimpin oleh agen-agen inteligen Israel, Mossad. Semua peralatan keamanan juga akan diganti dengan peralatan buatan Israel. Maka Israel akan semakin mengukuhkan cengkeramannya di negara Islam terbesar di dunia ini. Meski sadar bahwa selama ini dirinya telah “mengabdi” kepada orang-orang yahudi, selain leluhurnya sendiri yang juga berdarah yahudi, Subagyo tidak pernah benar-benar menyukai orang-orang yahudi.

Subagyo juga kesal dengan tingkah laku sang wakil presiden Budiloyo. Sebagai “begawan ekonomi” setidaknya Subagyo ingin mendengar saran-saran yang jitu untuk memajukan perekonomian. Alih-alih Budiloyo justru semakin pelit ngomong soal pembangunan dan sebagainya. Kesibukannya kini hanya menjadi “Ketua Dharma Wanita”, kesana kemari menggunting pita acara-acara seremonial.

Namun tidak ada yang lebih menjengkelkannya daripada ulah Sri Mulyati yang sudah membuat gerakan untuk mencalonkan diri menjadi presiden Indungsia tahun 2014 nanti. Itu berarti menentang rencananya yang akan mengajukan salah seorang putranya menjadi penggantinya. Subagyo tahu, Sri Mulyati adalah kandidat yang sangat kuat karena ia adalah kader “organisasi”. Ia juga memenuhi salah satu program “kesetaraan gender” yang dijalankan “organisasi”.

Subagyo tidak habis pikir bagaimana Sri Mulyati masih mendapatkan banyak pendukung di masyarakat, terutama setelah belangnya terbongkar dalam kasus Bank Centurion. Yang lebih mengherankan Subagyo lagi adalah, sebagian besar pendukung Sri Mulyati justru berasal dari kalangan kelas menengah yang berpendidikan tinggi. “Memang bodoh, orang-orang negeri ini,” kata Subagyo dalam hati.

Beberapa tahun lalu sebuah perusahaan telekomunikasi Amerika memenangkan gugatan atas pemerintah Indungsia di arbritrase internasional. Gugatan itu dilakukan karena pemerintah Indungsia menghentikan ijin operasional perusahaan itu karena melanggar undang-undang telekomunikasi Indungsia. Memang wajar jika perusahaan itu mengajukan tuntutan karena mengalami kerugian akibat peraturan pemerintah Indungsia yang tidak konsisten. Namun yang tidak wajar adalah mereka mengajukan tuntutan ganti rugi yang kelewat besar, termasuk menghitung peluang keuntungan yang hilang selama beberapa tahun. Artinya mereka menuntut hal yang masih di awang-awang, tanpa melakukan kerja apapun. Dan lebih tragisnya, Sri Mulyati, yang saat itu adalah menteri keuangan, dengan gagah berani mengumumkan kepada media massa: “Kita akan bayar semua.”

Seorang pejabat negara yang masih memiliki sedikit nasionalisme setidaknya akan berusaha mengulur-ulur waktu, kalaupun tidak mengajukan perlawanan hukum lainnya. Namun Sri Mulyati justru ngotot untuk membayar tuntutan perusahaan Amerika itu.

Saat kasus Bank Centurion lagi hangat-hangatnya, ia menuduh lawan-lawan-nya yang menyeretnya ke sidang Pansus Parlemen telah melakukan politisasi atas kasus itu. Namun tanpa malu ia memerintahkan jajarannya di kementrian keuangan untuk mengadakan perlawanan politik mendukung Sri Mulyati dalam kasus itu, dengan melakukan aksi-aksi demo dan mengenakan pita bertuliskan “M”. Oleh lawan-lawannya simbol “M” itu diplesetkan sebagai “maling”. Subagyo setuju dengan itu, terutama terkait dengan puluhan miliar yang didapatkan Sri Mulyati dari “perampokan” Bank Centurion.

Jurus politisasi berikutnya yang dilakukan Sri Mulyati adalah dengan memerintahkan pengusutan pajak atas perusahaan-perusahaan milik para anggota Pansus Parlemen yang mengadilinya. Sepintas perintah ini terlihat positif. Tetapi belakangan berkembang kecurigaan bahwa perintah ini tidak didorong oleh keinginan untuk benar-benar membereskan carut marut dunia perpajakan Indungsia. Kecurigaan ini berdasar pada beberapa kasus perpajakan yang diduga melibatkan Sri Mulyati. Pertama adalah kasus yang melibatkan pengusaha Siti Murbawa yang kebetulan juga adalah penyandang dana kampanye Subagyo, dan kedua adalah kasus penggelapann pajak oleh PT Asean Agro.

Dalam kasus pertama, kontainer berisi puluhan ribu sepatu milik Murbawa yang keluar tanpa izin ditangkap petugas Bea Cukai. Murbawa menemui Dirjen Bea Cukai meminta kontainer itu dilepaskan, namun ditolak. Maka Murbawa membawa kasus itu kepada Mulyati yang merupakan atasan Dirjen Bea Cukai. Maka lepaslah sepatu-sepatu itu dari karantina bea cukai.

Adapun kasus Asean Agro adalah penggelapan pajak yang nilainya mencapai Rp 1,4 triliun. Sampai sekarang, kasus ini pun tidak jelas kabar berita dan nasibnya. Inilah antara lain hal-hal yang membuat kecurigaan begitu kuat, bahwa Sri Mulyati tidak pernah bersungguh-sungguh membenahi perpajakan Indungsia yang korup. Meski demikian tetap saja ia disanjung-sanjung sebagai seorang yang “berintegritas tinggi”. Para pendukung kuat Sri Mulyati di antaranya adalah direktur perusahaan listrik negara, seorang wartawan senior, seorang mantan menteri yang menjadi host acara televisi terkenal, seorang ekonom liberal yang menyamar sebagai sosialis, seorang mantan menteri yang menjadi aktifis lingkungan hidup dll. Mereka semuanya binaan “organisasi” melalui George Soros.

Subagyo mencatat setidaknya ada dua hal yang dilakukan Sri Mulyati yang telah menyinggung pribadinya. Pertama saat ia meminta Sri Mulyati menghentikan perdagangan bursa saham yang telah membuat group perusahaan salah satu pendukung utama Subagyo bangkrut. Dengan angkuh Sri Mulyati menolaknya. Bahkan setelah didesak terus oleh Subagyo, Sri Mulati “ngambek” dan mengancam mengundurkan diri dari jabatannya. Mengingat Sri Mulyati adalah “titipan” organisasi yang tidak boleh “disentuh”, Subagyo akhirnya mengalah.

Kasus kedua adalah dalam kasus Bank Centurion itu. Sri Mulyati dengan “kurang ajar” berusaha melibatkan diri Subagyo dengan menyeret-nyeret nama asisten pribadi Subagyo dalam kasus itu. Jelas sekali kalau Sri Mulyati hendak menerapkan strategi “tijitibeh”, mati siji mati kabeh, alias mati satu matilah semuanya. Maka ketika kondisi semakin di luar kontrol dan “organisasi” meminta Subagyo mengamankan Sri Mulyati ke markas besar “organisasi” di Washington, Subagyo menyambut dengan gembira. Setidaknya ia tidak lagi harus mengelus dada setiap kali melihat Sri Mulyati menunjuk-nunjuk orang dengan tangan kirinya dalam sidang-sidang kabinet, merasa dirinya sebagai “orang paling kuat” di Indungsia melebihi seorang presiden

Dari “organisasi” Subagyo banyak belajar “seni” berkuasa dengan tipu daya. Misalnya saja tentang subsidi BBM yang sebenarnya hanya ilusi belaka sebagaimana juga halnya dengan subsidi listrik. Selain pemerintah juga harus terus-menerus menekankan pentingnya investasi dan hutang luar negeri sedemikian rupa sehingga rakyat mengira tanpa itu semua perekonomian negara akan hancur.

Namun tidak ada ilusi yang lebih “canggih” daripada ilusi APBN. Dengan dalih demi memicu pembangunan, APBN harus dibuat sebesar mungkin hingga melebihi pendapatan negara. Untuk menutupi kekurangannya, pemerintah tentu saja berhutang ke lembaga-lembaga keuangan internasional yang notabene adalah sindikat bankir yahudi. Defisit APBN dan hutang luar negeri itu terjadi setiap tahun sedemikian rupa sehingga seolah-olah sebagai sebuah “kebijaksanaan yang arif” yang telah menjadi konvensi. Hanya karena akal sehat paling sederhana sekalipun tidak bisa menerima “hutang” dan filosofi “besar pasak daripada tiang” sebagai sebuah “kearifan”, kebiasaan itu tidak ditetapkan sebagai undang-undang.

Sebagai contoh, target penerimaan negara tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp 1.104 triliun. Jumlah yang sebenarnya cukup besar untuk mengurusi pemerintahan, membiayai penyelenggaraan birokrasi negara, membayar gaji aparat negara, dan membangun infrastruktur. Namun jumlah itu menjadi tidak berarti karena belanja negara dibuat melambung tinggi hingga APBN harus defisit 1,8% senilai Rp 127 triliun. Anggaran yang begitu tinggi itu sebagian besar darinya digunakan untuk membiayai hal-hal yang tidak penting, seperti proyek-proyek mubazir semacam pembangunan gedung baru DPR yang mencapai Rp 1,7 triliun dan rehab perumahan anggota DPR yang mencapai Rp 1 miliar tiap rumah, plesiran pejabat yang mencapai Rp 20 triliun, belanja baju dinas presiden yang mencapai Rp 70 juta per-bulan dsb. Bahkan dengan pemborosan-pemborosan itu semua, biaya penyelenggaraan negara sesungguhnya tidak mencapai Rp 1.000 triliun. Namun karena APBN telah ditetapkan dengan undang-undang untuk defisit, maka pemerintah tetap harus berhutang.

Dengan modus seperti itu kini hutang pemerintah Indungsia telah mencapai Rp 3 ribu triliun lebih dan bunga yang harus dibayar setiap tahun mencapai Rp 150 triliun. Dijamin hutang itu tidak akan pernah bisa lunas karena tidak akan pernah ada seorang presiden pun bisa melunasi hutang itu semua selama menjabat. Sebaliknya beban yang harus ditanggung rakyat, karena APBN dibiayai dengan pajak yang dibayar rakyat, semakin besar dari tahun ke tahun.

Sebelum APBN ditetapkan, sebelumnya perusahaan listrik negara (Pelina) mengajukan anggaran ke pemerintah dengan permintaan tambahan subsidi sebesar 15% dengan alasan untuk meningkatkan pelayanan. Permintaan itulah yang membuat APBN dinaikkan defisitnya dari 15% menjadi 18%. Namun di sini Pelina melakukan permainannya sendiri. Sebenarnya mereka tidak perlu meminta subsidi pemerintah jika saja mereka melakukan efisiensi. Namun alih-alih melakukan efisiensi, mereka terus menaikkan tarif listrik yang lucunya hampir selalu disetujui pemerintah dan DPR tanpa pernah melakukan audit terhadapnya. Tentu saja karena sebagian besar saham perusahaan listrik negara dikuasai anak-anak perusahaan milik anggota “organisasi”, lagipula dengan itu semua permainan pat gulipat APBN berjalan lebih mudah.

Perusahaan minyak dan gas negara (Permigas) akhir-akhir ini melakukan permainan lainnya selain modus “subsidi”. Demi memuluskan agenda “organisasi” untuk meningkatkan harga BBM setara harga internasional yang berarti keuntungan para anggota “organisasi” turut meningkat, Permigas melakukan “tekanan” untuk menghilangkan “subsidi” BBM yang selama ini diberikan kepada pengguna premium, BBM kelas paling rendah yang banyak dikonsumsi masyarakat kebanyakan. Namun tekanan itu dilakukan secara tidak fair. Untuk membuat masyarakat meninggalkan premium dan beralih menggunakan BBM yang lebih mahal, diam-diam mereka sengaja menurunkan kualitas premium. Dan meskipun sangat banyak masyarakat yang mengalami kerugian karena mesin kendaraan mereka mengalami kerusakan, pemerintah tidak pernah mengambil tindakan apapun untuk menghentikan aksi Permigas.

Sekedar tambahan, untuk semakin meyakinkan bahwa “organisasi” telah benar-benar menguasai BUMN-BUMN itu, CEO baru kedua BUMN telah menghapuskan segala hal yang terkait dengan nasionalisme Indungsia seperti misalnya kebiasaan mengadakan upacara bendera peringatan kemerdekaan setiap tanggal 17. BUMN telekomunikasi yang telah dimiliki “organisasi” melalui anak perusahaan di Malaysia dan Singapura bahkan telah mengganti logo perusahaan dengan simbol bintang daud yang sedikit disamarkan demi menghindari kecurigaan umat Islam. Simbol serupa juga sudah dipasang di atas gedung departemen keuangan saat Sri Mulyati masih menjadi menteri.

Dahulu para ekonom mengenalkan konsep DSR (Debt Service Ratio) sebagai indikator jumlah hutang luar negeri yang diperkenankan untuk mendukung perekonomian. Indikator ini merupakan rasio antara jumlah cicilan pokok dan bunga hutang luar negeri yang dibayar dengan nilai ekspor dalam satu tahun. DSR menunjukkan tingkat likuiditas yang dimiliki suatu negara untuk membiayai perdagangan luar negeri. Semakin tinggi DSR semakin tidak likuid perekonomian negeri tersebut sehingga hutang luar negeri harus diturunkan.

Namun seiring berjalannya waktu, jumlah cicilan pokok dan bunga hutang semakin besar jauh melebihi kenaikan ekspornya, sehingga DSR ikut membengkak. Tentu saja para pengamat ekonomi dan media massa mempersoalkan hal itu. Untuk mengatasi masalah itu, maksudnya agar agenda menjerumuskan negara ke lembah hutang dan membuatnya semakin tergantung pada “organisasi”, tidak terganggu oleh gerutuan para ekonom dan media massa, maka pemerintah kemudian mengganti konsep DSR dengan DGR. Dengan konsep ini rasio nilai cicilan pokok dan bunga menjadi kecil karena tidak lagi dibandingkan dengan nilai ekspor, melainkan dengan GNP yang nilainya jauh lebih besar.

“Lihatlah, rasio hutang kita masih kecil, jadi biarlah kita menambah hutang lagi,” demikian kira-kira yang dikatakan pemerintah kepada masyarakat yang tidak paham perihal masalah ekonomi. Media massa dan para ekonomi yang “telah terkooptasi”, tentu saja diam membisu.

Sebenarnya Subagyo pernah terpikir untuk melakukan pembangkangan. Itu saat rasa kemanusiaannya muncul menyadari bahwa kerusakan yang dilakukan organisasi dan antek-anteknya terhadap rakyat Indungsia, juga rakyat negara-negara lainnya, begitu besar. Tapi buru-buru dibuang pikiran itu jauh-jauh. Ia manyadari, sebagai presiden negara besar pun dirinya tidak memiliki daya apapun di hadapan “organisasi”.

Subagyo menyadari betul apa yang dialami dua pendahulunya karena membangkang “organisasi”. Presiden pertama dikudeta oleh militer binaan “organisasi”. Presiden kedua pun dikudeta oleh gerakan “reformasi” setelah mencoba main mata dengan umat Islam dan menyingkirkan kader-kader “organisasi” lainnya. Subagyo juga sadar dengan yang dialami oleh Saddam Hussein dan Zia Ul Haq. Yang pertama, negaranya diserbu besar-besaran oleh pasukan koalisi pimpinan Amerika setelah pembunuh-pembunuh “organisasi” gagal mengeksekusinya karena ia menggunakan pengawal pribadi yang semuanya berdandan dan berwajah mirip dirinya. Yang kedua, helikopternya diledakkan meski telah berusaha menjadikan duta besar Amerika sebagai perisainya.

Dan masih banyak lagi pemimpin-pemimpin dunia selain mereka. Idi Amin misalnya. Setelah dikudeta dan dihukum mati, iapun mengalami pembunuhan kharakter yang luar biasa, di antaranya digambarkan sebagai seorang kanibal. Padahal ia adalah seorang muslim yang ta’at.

Sekali saja ia membangkang, maka segala pangkat dan kedudukannya menjadi tidak berarti. Ingat dengan matinya listrik bandara setelah ia menunda privatisasi pengelolaan bandara internasional di ibukota? Bahkan setelah ia meminta dilakukan tindakan terhadap “sabotase” itu, listrik di bandara justru kembali mati. Sebagai presiden ia bahkan tidak bisa mengontrol birokrasinya sendiri. Apalagi parlemen, kehakiman, dan pers.

Inilah hikmah dari “demokrasi”, kekuasaan yang dibagi-bagi antara eksekutif, legislatif dan yudikatif. Tidak akan pernah ada seorang pemimpin suatu negara yang kuat karena demokrasi ini. Dengan kata lain, tidak akan pernah muncul seorang pemimpin yang bisa melawan “organisasi”. Padahal hampir sepanjang peradaban manusia, demokrasi baru muncul di penghujungnya, dan dalam waktu singkat menghancurkan semua tatanan sosial yang ada, yaitu pemerintahan yang dipimpin oleh semangat ketuhanan. Bahkan peradaban yang pernah mencoba menjadikan konsep mirip demokrasi, yaitu Romawi, membuang jauh-jauh konsep ini karena hanya menimbulkan kekacauan. Jauh dari demokrasi seperti sekarang, yang dilakukan orang-orang Romawi adalah mengangkat dua orang konsul sebagai pemimpin tertinggi. Satu orang dari golongan bangsawan, satunya lagi dari golongan pedagang. Tentu saja rakyat kebanyakan tidak mendapatkan bagian kekuasaan. Semua keputusan harus disetujui kedua konsul karena jika salah satunya tidak setuju, ia bisa menggunakan hak veto untuk membatalkan. Bahkan ketika para pendiri negara Amerika Serikat hendak memerdekakan negaranya, pikiran pertama mereka adalah mengangkat seorang raja. Mereka bahkan sempat menghubungi Charles II, mantan raja Inggris yang menjadi pelarian di Italia, untuk menjadi raja Amerika.

Sistem konsul di Romawi, penyingkiran Raja Charles II dari singasananya, dan juga konsep “demokrasi” yang kini menjadi sebuah keharusan di negara-negara seluruh dunia, semuanya adalah rekayasa “organisasi” dan para pendahulunya.

Jika ditanyakan kepada para lembaga-lembaga keuangan internasional itu, bagaimana jika Indungsia tidak sanggup lagi membayar cicilan dan bunganya yang mencekik leher? Mereka dengan senang hati akan memberikan tambahan hutang lagi kepada Indungsia yang khusus digunakan untuk mencicil piutang mereka. Lalu bagaimana jika hutang-hutang yang mereka berikan kepada Indungsia dilunasi saja? Mereka pasti akan keberatan, karena dengan demikian berarti mereka tidak lagi akan mendapatkan keuntungan dari bunga pinjaman yang mereka berikan.

Ya, tidak lebih karena lembaga-lembaga keuangan internasional itu adalah kumpulan rentenir yahudi. Namun di tangan mereka, praktik yang dikutuk agama-agama sepanjang peradaban manusia itu berubah menjadi sebuah “kebajikan”. Media-media massa menyebut setiap pemberian pinjaman berbunga mencekik leher itu sebagai “bantuan”. “Indungsia Mendapat Bantuan $4 Miliar dari IMF”, adalah contoh dari ilusi yang dilakukan “organisasi” melalui media massa kaki tangannya. Yang semestinya adalah “IMF Kembali Menjerat Indungsia dengan Tambahan Hutang $4 Miliar”.

Salah seorang wartawan senior binaan “organisasi” kini menjadi direktur sebuah BUMN strategis. Ialah yang telah berani membangkang Presiden Subagyo dengan memadamkan listrik di bandara internasional ibukota. Dahulunya ia hanya seorang wartawan bodhong yang setiap hari nongkrong di warung kopi berdiskusi dengan teman-teman sesama wartawan bodhong tentang siapa yang bisa “ditanduk” hari ini. Nasibnya berubah drastis setelah ia mendapatkan “wangsit” melalui mimpinya bertemu dengan seorang pendeta shaolin untuk mengubah namanya dengan membalikkan namanya dari belakang ke depan. Nama aslinya Budiman Sholeh kemudian digantinya menjadi Heloh S Namidub. Selain itu dalam wangsitnya itu ia juga diperintahkan untuk mendirikan patung kuda perunggu di dalam rumahnya. Ia yang adalah putra seorang kiai kampung, memenuhi wangsit itu. Aneh bin ajaib, nasibnya kemudian berubah 180 derajat.

Sejak saat itu Heloh S, yang nama aslinya adalah Sholeh, menjadi terobsesi dengan segala hal yang berbau Cina. Hampir setiap bulan ia pergi jalan-jalan ke negeri tirai bambu itu. Ia mendirikan yayasan kerjasama antar pengusaha Cina-Indungsia. Putra semata wayangnya pun dikawinkan dengan putri seorang pengusaha Cina. Dan ketika ia mengalami penyakit ginjal yang membuat ginjalnya harus diganti, ia memilih dirawat di Cina dan mendapat donor ginjal dari seorang warga Cina. Satu lagi, konon ia menjalin affair dengan direktur keuangan tempatnya bekerja, seorang wanita Cina tentu saja. Namun seorang wartawan senior, sesama wartawan bodhong teman sepermainan Sholeh yang nasibnya tidak juga berubah, mempunyai kisah sendiri. Menurutnya sejak kecil Sholeh memang telah terobsesi dengan Cina karena cintanya kepada seorang gadis keturunan Cina tetangganya, ditolak mentah-mentah.

Selain media massa, para ekonom birokrat “teh botol” adalah orang-orang yang paling bertanggungjawab atas terjadinya pemerasan lintah darat berkedok “bantuan” tersebut. Bagi mereka hutang adalah kewajiban dan meminta mereka berfikir bagaimana agar Indungsia terbebas dari hutang adalah seperti meminta seekor kucing untuk beranak anjing. Dan salah satu “teh botol” itu tentu saja adalah Budiloyo. Dalam acara debat politik di televisi menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden, seorang kandidat menyampaikan sebuah program yang cemerlang, yaitu menunda pembayaran hutang selama beberapa tahun agar anggaran pemerintah bisa digunakan untuk membangun infrastuktur dan investasi pembangunan sehingga perekonomian negara menjadi cukup kuat untuk menanggung beban hutang yang menumpuk. Secara moral sebenarnya Indungsia bahkan berhak untuk menyatakan menolak membayar hutang yang dipupuk oleh regim-regim korup selama ini yang lebih banyak masuk ke kantong pribadi para pejabat dan pengusaha kroninya. Tapi oleh Budiloyo ide tersebut disindirnya sebagai “tidak realistis”. Tentu saja karena Budiloyo adalah kader “organisasi” yang baik.

Sebagaimana Subagyo, Budiloyo tidak pernah menjadi seorang Islam yang sebenarnya meski ia selalu berusaha mencitrakan diri sebagai seorang Islam, khususnya setelah terpilih sebagai kandidat wakil presiden. Tiba-tiba saja ia yang dari SD hingga SMA sekolah di sekolah kristen, mengaku sebagai mantan kader ormas Islam terbesar. Istrinya pun, seorang kristen Jawa bernama Christina, tiba-tiba disuruhnya berkerudung. Sebagaimana juga Subagyo, Budiloyo tetap menjalankan ritual-ritual penyembahan berhalanya seperti kebiasaan membakar kemenyan di tiap hari Jum’at, serta percaya pada angka-angka keramat. Kalau Subagyo menyukai angka 9, maka Budiloyo menyukai angka 13.

Bersambung……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s