Sang Terpilih 2

Salah satu agenda “organisasi” yang paling memuakkan di mata Subagyo adalah penyebar luasan homoseksual di masyarakat. Bersama dengan agenda lainnya seperti pornografi dan pornoaksi, homosksualisme adalah satu alat ampuh untuk menghancurkan tatanan sosial masyarakat sehingga tidak ada lagi kekuatan yang bisa menjadi penghambat agenda utama “organisasi” yaitu menguasai dunia dengan memperbudak masyarakatnya.

Sebagai anggota “organisasi” Subagyo diwajibkan untuk mendukung program itu meski secara pribadi ia merasa muak melihat orang-orang homoseks yang sakit jiwa itu diberi keleluasaan. Gerakan ini sebenarnya sudah berjalan cukup lama jauh sebelum Subagyo menjadi presiden. Yang mencolok mata adalah kehadiran mereka di dunia hiburan dan televisi. Untuk yang terakhir “organisasi” bahkan telah menempatkan banyak agennya, orang-orang gay dan lesbian, sebagai produser hingga pemimpin redaksi. Tidak heran jika di stasiun-stasiun televisi banyak bermunculan program-program dan bintang-bintang televisi pro-homoseksual.

Dan gerakan homoseksualisasi di Indungsia semakin menguat setelah munculnya kasus pembunuh berantai Ryan, yang oleh media massa kemudian dijadikan sebagai ikon homoseksualisme di Indungsia. Karena pengaruh “organisasi” lah maka Ryan tidak benar-benar dihukum mati sebagaimana hukuman formal yang dijatuhkan pengadilan atas kekejiannya membantai korban-korbannya. Sebaliknya Ryan justru tampil sebagai selebritis: mengadakan pesta ulang tahun, membuat album rekaman, menulis buku, semuanya dilakukan di penjara. Soal menulis buku tentu saja bukan Ryan yang menulisnya sendiri mengingat intelektualismenya yang jeblok, meski di buku itu ditulias seolah-olah Ryan lah yang menjadi penulisnya. Sebenarnya seorang wartawan gay penerima beasiswa jurnalisme di Harvard University yang telah menulisnya.

Baru-baru ini media massa gencar memberitakan Ryan diwawancarai media massa terkenal dari Amerika. Terakhir dikabarkan ia akan menikahi seorang gadis putri tunggal seorang pengusaha Singapura. Tentu saja pengusaha itu orang yahudi karena tidak ada orang normal yang mau menikahkan putrinya dengan seorang gay maniak seperti Ryan. Lagipula dengan isu pernikahan itu bukankah nama Ryan kembali “moncer”?

Untuk mendukung program ini Subagyo sebenarnya diminta “organisasi” untuk bersama agen-agen “organisasi” di parlemen untuk menfasilitasi penerapan UU Transgender yang memberi hak sosial-politik-ekonomi sepenuhnya kepada orang-orang gay dan lesbian, selain juga hak untuk menikah sesama jenis. Dengan UU ini semua orang yang memperlihatkan ketisak sukaannya secara terbuka terhadap homoseksual bisa dikenai hukuman penjara. Misalnya saja mentertawakan seorang bencong yang berdandan menor, atau sekedar membicarakan mereka secara sembunyi-sembunyi.

UU ini sudah diterapkan di beberapa negara bagian di Amerika dan Eropa, tapi belum bisa sama sekali diterapkan di negara yang manyoritas rakyatnya beragama Islam, karena Islam mengutuk keras perilaku seksual menyimpang ini. Dengan sopan Subagyo menjelaskan kepada George Soros yang menjadi penghubung dirinya dengan “organisasi”, bahwa rakyat Indungsia belum siap menerima undang-undang seperti itu. “Diperlukan dua tiga tahun lagi, dengan upaya yang lebih massif dan sistematis,” kata Subagyo.

George Soros bisa menerima penjelasan Subagyo, tapi ia bersikeras mendudukkan agennya, seorang lesbian, menjadi menteri pendidikan untuk menebar luaskan virus homoseksual di kalangan anak sekolah. Namun karena selama ini konvensi yang berlaku seorang menteri pendidikan adalah jatahnya organisasi keislaman terbesar, maka orang tersebut akhirnya ditempatkan di pos menteri kesehatan, menggantikan menteri kesehatan lama yang telah secara lancang berani menentang agenda “organisasi” dalam kasus wabah flu burung. Menteri kesehatan baru yang lesbian itu adalah seorang mantan aktifis LSM yang berhasil mengeruk kekayaan melimpah dari isyu kemiskinan yang diusungnya. Ia berasal dari sebuah keluarga yang dari buyutnya telah menjadi agen “organisasi” di Indungsia sejak jaman kolonialis.

Meski tidak seheboh Amerika dimana “organisasi” menempatkan 150 orang gay dan lesbian di jajaran kabinet presiden Barack Obama, dalam kabinet Subagyo “organisasi” setidaknya telah menempatkan beberapa orang gay dan lesbian. Di antaranya Sri Mulyati, mantan menteri keuangan yang kini bekerja di kantor pusat IMF di Washington. Memang ia tidak nampak sebagai seorang lesbian mengingat ia telah berkeluarga dan punya anak. Tapi sebuah upacara inisiasi “organisasi” yang ekstrem telah merubah orientasi seks Sri Mulyati untuk selamanya.

Berbicara tentang pornografi dan homoseksualitas di Indungsia orang seharusnya menyorot fenomena Ahmad Sani, seorang seniman musik papan atas Indungsia yang merupakan keturunan yahudi Jerman melalui darah ibunya yang kawin dengan seorang tokoh politik Islam pribumi. Dengan “Rikiblik Cinta”nya ia menyihir generasi muda Indungsia untuk mencintai gaya hidup hedonisme, free sek dan homoseksualisme. Tanda bahwa ia adalah seorang anggota tingkat tinggi “organisasi” adalah lantai rumahnya yang bercorak petak catur atau disebut “checkered floor”. Demikian tinggi tingkatannya sehingga saat ia merayakan pesta ulangtahun putra tertuanya, tokoh-tokoh nasional Indungsia “jew ass sucker” berbondong-bondong datang ke rumahnya. Di antaranya adalah pejabat negara, diplomat, seniman terkenal, wartawan senior, jendral, artis terkenal, akademisi hingga tokoh agama.

Beberapa tahun lalu Ahmad Sani melakukan blunder yang nyaris menghancurkan kariernya. Dalam sebuah acara live di sebuah stasiun televisi milik George Soros, tentunya melalui kaki tangannya yang adalah seorang bankir pribumi, Ahmad Sani menginjak-injak logo bertuliskan kaligrafi Islam. Hanya karena perlindungan ketua ormas Islam besar-lah yang membuat karier Sani terus berkibar. Namun karena sang pelindung sudah meninggal, Sani kini harus lebih berhati-hati lagi agar nasibnya tidak sama dengan pendahulunya yang harus meringkuk di penjara setelah melecehkan Nabi Muhammad dengan menempatkannya sebagai tokoh terpopuler nomor 48 di belakang namanya sendiri.

Tanpa diketahui publik, setidaknya setahun sekali di atas “checkered floor” rumah Sani diadakan ritual penyembahan setan yang diikuti oleh para anggota “organisasi” lokal. Salah satu acara yang ditunggu-tunggu para peserta upacara adalah orgi atau pesta seks, karena pesertanya di antaranya adalah artis-artis cantik dan gantheng menejemen “Rikiblik Cinta”.

“Organisasi” dimana Subagyo bekerja secara diam-diam adalah sebuah perkumpulan freemason yang berpusat di Washington, Amerika. Organisasi ini bertujuan menyatukan benua Asia Timur, Amerika dan Eropa menjadi satu satuan ekonomi dan “negara super” yang memiliki konstitusi dan institusi-institusi kenegaraan sendiri seperti pemerintahan, parlemen, pengadilan, birokrasi, angkatan bersenjata dan polisi. Sampai lima tahun lalu ide seperti ini hanya dianggap sebagai sebuah “teori konspirasi”. Namun melihat secara kasat mata Uni Eropa telah menjelma menjadi sebuah “negara super”, orang-orang liberal idiot pencibir “teori konspirasi” itu kini diam membisu seperti membisunya Barack Obama, Hillary Clinton, Hoesni Mubarrak, Raja Jordania dan Raja Saudi al Wahabi atas sikap keras kepala Israel yang terus membangun pemukiman yahudi di daerah pendudukan di bumi Palestina.Ada banyak organisasi freemason lainnya, yang tertinggi adalah Bilderberger Group yang berusaha menyatukan dunia dalam satu pemerintahan global dengan orang-orang yahudi sebagai penguasanya tentunya. Namun bahkan di atas Bilderberger Group sendiri terdapat organisasi freemason tertinggi yang tidak diketahui keberadaannya. Mereka terdiri dari wakil keluarga-keluarga yahudi paling berpengaruh di dunia seperti Rothschild dan Rockefeller.

Sangat jauh dari sangkaan sebagian orang yang menyebutnya sebagai tradisi orang kulit putih Eropa, freemason adalah tradisi yahudi kuno. Nama dasarnya, mason atau batu bata, merujuk pada arsitek-arsitek kuno yang telah membangun bangunan-bangunan “ajaib” pada masanya, termasuk piramid, taman gantung Babylonia, dan Kuil Solomon. Karena keahliannya tersebut, para arsitek itu dianggap orang-orang yang menerima langsung pengetahuan artisekturnya dari malaikat, atau bahkan dianggap tukang sihir yang bekerjasama dengan jin. Pendek kata mereka adalah manusia-manusia istimewa, setara para nabi. Arsitek yang paling menginspirasi gerakan freemason adalah Hiram Abief, pembangun Kuil Sulaiman.

Awalnya gerakan freemason didasari pada semangat pencarian ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Namun dalam perkembangannya gerakan ini bercampur baur dengan ritual penyembahan dewa matahari dan semangat chauvinisme yahudi yang rasialis dan imperalis. Gerakan ini juga dibalut dengan budaya penyembahan berhala dan setan kuno Kabbalah. Dewa sesembahan mereka adalah dewa matahari Osiris yang dilambangkan dengan biji mata yang melihat segalanya. Para pemimpin gerakan ini memiliki cita-cita untuk mengembalikan kejayaan kerajaan yudea dengan pembangunan kembali Kuil Solomon di Jerussalem sebagai tujuan akhirnya. Mereka juga percaya dengan nubuat-nubuat dalam kitab-kitab yahudi kuno yang menyebutkan bakal datangnya Messiah akhir jaman yang akan memimpin kaum yahudi menjadi penguasa dunia yang damai sejahtera. Namun sebelumnya dunia harus mengalami perang akhir jaman di sekitar bukit Her Megiddo (Armageddon).

Kini gerakan itu telah mencapai separuh dari tahapan yang mereka rencanakan, yaitu mendirikan negara Israel sebagai batu pijakan mereka menghadapi Armageddon. Kini mereka tengah berupaya kuat mewujudkan ambisi terakhirnya menguasai dunia demi menyambut kedatangan Messiah yang dinantikan. Dan ambisi itu kini bisa dikatakan sudah 90% tercapai. Hanya ada 10% hambatan dari umat Islam yang mempunyai semangat anti-yahudi yang tinggi sebagaimana agamanya mengajarkan. Karena perlawanan umat Islam itu pula kini bahkan pijakan kaum yahudi di Israel belum sepenuhnya aman. Rencana Israel menguasai kota Jerussalem mendapat perlawanan luar biasa hebat dari rakyat Palestina, bangsa yang secara teoritis telah hancur lebur. Ambisi Israel menguasai Lebanon juga berantakan karena perlawanan Hizbollah. Dalam skup lebih luas kini bahkan muncul kekuatan militer Islam yang berani secara terbuka menantang Israel, yaitu Iran sehingga Iran menjadi incaran berikutnya untuk diserang oleh kekuatan militer Amerika dan sekutu-sekutunya. Sejak adanya perlawanan Hizbollah, sejak tahun 1985 Israel bahkan terus-menerus harus kehilangan wilayah pendudukannya di Lebanon. Bukannya berkembang ke tepi Sungai Nil hingga sungai Eufrat sebagaimana cita-cita para pendiri freemason dan gerakan zionisme, wilayah Israel justru terus menyusut. Saat ini pun pasukan pendudukan Amerika dan sekutunya di Afghanistan dan Irak yang sebenarnya bekerja untuk Israel, harus bersiap-siap hengkang dengan muka tertunduk karena perlawanan gerilyawan Islam di negeri-negeri itu.

Anehnya, sebagaimana umat yahudi, nasrani, dan agama-agama lainnya di dunia, umat Islam juga percaya dengan adanya perang akhir jaman. Namun tentu dengan versi sendiri. Dalam satu hadits nabi Muhammad yang terkenal disebutkan sebelum kiamat akan terjadi perang besar antara umat Islam melawan yahudi dimana pada akhirnya umat Islam akan memburu orang-orang yahudi seperti memburu tikus perusak padi. Orang-orang yahudi itu bersembunyi di balik pohon dan bebatuan, namun pada saat itu bahkan pohon dan bebatuan akan berpihak kepada orang-orang muslim dan memberitahukan keberadaan orang-orang yahudi itu untuk dibunuhi seperti tikus. Itulah yang membuat rakyat Palestina tetap bersemangat untuk melawan penindasan Israel meski hanya bersenjatakan batu dan ketapel. Semangat itu pula yang membuat rakyat Afghanistan dan Irak terus melawan pasukan pendudukan Amerika dan sekutu-sekutunya dan mengusir mereka seperti mengusir kodok ke kolam.

Gerakan freemason meliputi beberapa cabang dan memiliki berbagai tingkatan. Masing-masing memiliki metode kerja dan ritual yang berbeda-beda. Biasanya seorang anggota tingkat rendahan tidak menyangka bahwa apa yang dikerjakannya untuk “organisasi”, berakhir pada organisasi lain yang lebih tinggi yang sama sekali tidak dikenalnya. Seorang anggota Lions Club sentimentil yang menyumbangkan sebagian hartanya untuk organisasi tentu tidak menyangka sumbangannya ternyata digunakan Mossad, CIA dan M16 untuk menyebar luaskan ekstasi dan seks bebas di kalangan generasi muda, atau untuk menyebarkan virus flu burung ke kawasan Asia Timur. Seorang Sri Mulyati, Budiloyo, Heloh S Namidub, atau Jendral BKD, belum tentu tahu bahwa Rp 150 triliun bunga hutang yang dibayarkan Indungsia untuk bank-bank dan lembaga-lembaga donor asing setiap tahunnya, sebagiannya masuk ke Israel untuk mendanai pembangunan pemukiman-pemukiman yahudi di wilayah pendudukan, sementara Indungsia sendiri mengalami kesulitan membangun infrastruktur atau meningkatkan pelayanan sosial karena beban bunga yang kelewat besar itu.

Di antara agen “organisasi” Indungsia yang paling sibuk melayani “organisasi” akhir-akhir ini tentu saja adalah Jendral Polisi Bambang Karso Dhemit atau oleh pers sering disingkat Jendral BKD. Tidak lain karena ia adalah “foreman” untuk proyek “perang melawan terorisme” yang dilancarkan “organisasi” untuk menghancurkan Islam di Indungsia.

Seperti namanya, begitu pula tindak tanduknya. Wataknya tercermin jelas dari sorot matanya yang tajam dan alis yang tebal dan ujungnya yang runcing ke atas. Mata iblis. Tidak heran jika ia tega memperlakukan Ustadz Bawazier, seorang ulama “sepuh” yang sudah sakit-sakitan, seperti “bajingan tengik”. Sekali ia memerintahkan pasukan anti terorisnya untuk menyerbu rumah sakit yang merawat Ustadz Bawazier dan menyeret sang ustadz ke penjara. Yang kedua, pasukan yang sama membajak mobil ustadz di tengah jalan, menghancurkan kaca-kacanya dan dan kembali menyeretnya ke penjara. Semuanya dilakukan setelah kunjungan George Soros ke Indungsia dan mendesak Subagyo untuk “mematikan” semangat dakwah yang digelorakan sang ustadz di Indungsia sekaligus menjaga isu terorisme tidak layu di tengah jalan.

Memang Subagyolah yang telah memerintahkan Karso Dhemit untuk “mengamankan” ustadz. Tapi ia tidak pernah menyangka Karso Dhemit akan bersikap demikian kasar terhadap ustadz yang dihormati umat Islam Indungsia itu. “Kualat kowe Mit,” gumam Subagyo dalam hati menyaksikan siaran televisi penangkapan sang ustadz dari dalam mobilnya yang dibajak di tengah jalan. Ia sudah memperingatkan Karso Dhemit untuk lebih bersikap lembut kepada Ustadz Bawazier. Tapi rupanya kebencian Karso yang demikian besar kepada simbol-simbol Islam membuatnya mengabaikan peringatan Subagyo.

Pada waktu yang lain, saat Subagyo mengadakan kunjungan ke tengah-tengah korban bencana Gunung Merapen, ia memutuskan untuk menginap di kamp pengungsi demi menimbulkan citra yang baik di mata masyarakat. Di tengah malam, saat sebagian pengungsi khusuk sholat tahajjud memohon keselamatan dan ampunan Sang Maha Kuasa, Karso Dhemit mengajak Subagyo dan rombongan kepresidenan mengadakan pesta kembang api, lengkap dengan kambing guling dan “wine”, tentunya. Esok harinya, setelah rombongan kembali ke ibukota, kota Ngayogjo yang berada di kaki Gunung Merapen dilanda gempa dahsyat. Puluhan ribu orang meninggal dan luka-luka karenanya.

“Mit, ini semua gara-gara kamu,” kata Subagyo kepada Karso Dhemit usai rapat kabinet membahas bencana Ngayogjo, merujuk pada pesta api unggun di lereng Merapen. “Lho, bukankan kita semua Pak,” jawab Karso Dhemit entheng. “Lagian ibu sih pake goyang jaipong segala.” Brengsek, Karso Dhemit menyinggung sesi acara joget yang dilakukan ibu negara.

Soal “wine”, minuman yang diharamkan Islam itu, orang kebanyakan yang tidak pernah mengenal kehidupan elit Indungsia tentu tidak percaya minuman itu diminum oleh orang-orang penting di negeri ini setiap saat. Tapi demikianlah kenyataannya. Hampir di setiap pesta yang diadakan oleh para elit negeri ini, baik resmi maupun pribadi, selalu menghadirkan “wine” sebagai minumannya. Bahkan justru para pejabat yang berasal dari kalangan konservatif, seperti pondok pesantren atau organisasi dakwah misalnya, biasanya justru yang paling rakus meminumnya.

Ada satu cerita menarik tentang seorang menteri yang berasal dari partai dakwah turunan gerakan wahabi, yang mengharamkan jabat tangan dengan lawan jenis. Ketika bertemu ibu negara Amerika yang berkunjung ke Indungsia tempo hari, dengan spontan sang menteri menyodorkan tangannya ke ibu negara Amerika untuk berjabat tangan. Jika saja sang ibu negara adalah Jacky Kennedy yang terkenal cantik itu, mungkin sang menteri sudah menyodorkan pipinya.

Selain isu terorisme, peran utama lain yang diperankan Karso Dhemit adalah pengalihan perhatian masyarakat dari masalah-masalah mendasar di Indungsia seperti kejahatan konspiratif (lebih hebat dari kejahatan terorganisir), kemiskinan, kesenjangan ekonomi, penguasaan aset-aset strategis dan penjarahan sumber-sumber ekonomi oleh asing, pengelolaan keuangan negara yang tidak efisien dan transparan, pembangunan yang boros dan tidak efektif, dll. Oleh Karso Dhemit, perhatian masyarakat disibukkan dengan kasus-kasus yang tidak bermutu, seperti video porno artis terkenal, petualangan Ryan si gay pembunuh berantai (hampir semua pembunuh berantai di seluruh dunia adalah orang-orang berperilaku seks menyimpang seperti Ryan), petualangan Arthalyna Suryani, petualangan Jayusman pengawai pajak yang jadi maklar kasus perpajakan, kasus-kasus narkoba yang melibatkan artis dan aktor terkenal dan sebagainya. Semua itu menyebabkan “organisasi” semakin leluasa mengeruk kekayaan Indungsia.

Arthalyna Suryani adalah “kasir” dari seorang konglomerat hitam pengemplang kredit BLBI senilai puluhan triliunan rupiah yang raib tak berbekas. Ia dihukum karena tertangkap tangan menyuap jaksa yang menangangi kasus kredit macet BLBI itu. Namun lucunya, sang konglomerat hitam yang paling memiliki motif atas tindakan penyuapan itu, sedikit pun tidak tersentuh hukum. Media-media massa pun bungkam tidak pernah menyinggungnya. Dan kalaupun nanti, karena tekanan publik kasus ini dibuka kembali dengan menyeret nama sang konglomerat hitam, dapat dipastikan ia sudah aman berada di Singapura bersama harta yang diperolehnya dari penggelapan BLBI.

Awalnya Karso Dhemit sebenarnya berhasil mencitrakan diri sebagai figur yang bersih dan sangat anti-perjudian. Selama kepemimpinannya bisnis judi di Indungsia benar-benar lumpuh. Namun semuanya itu ternyata hanya akal-akalan “organisasi” agar bisnis judi di Singapura terus bisa mengeruk keuntungan melimpah dari para penjudi Indungsia yang terkenal royal.

Dalam rangka menjaga isu teorisme tetap “up to date” dan bantuan Amerika serta Australia terus mengalir, Karso Dhemit pernah membuat petualangan berbahaya, yaitu merancang perampokan bersenjata besar-besaran di sebuah ibukota provinsi, yang kemudian dituduhkannya pada “gerakan Islam” pimpinan Ustadz Bawazier. Saat polisi daerah berusaha mengungkap kasus ini, tiba-tiba diambil alih paksa oleh tim pusat bentukan Karso Dhemit sehingga membuat kepala polisi daerah tersinggung dan membuat komentar pedas: “perampokan dilakukan oknum aparat bersenjata.”

Tentara yang merasa sebagai “aparat bersenjata” tentu saja tersengat. Mereka pun melakukan penyidikan sendiri dan menemukan fakta-fakta bahwa perampokan tersebut ternyata dilakukan oleh polisi sendiri. Mereka pun marah dan mengancam akan “menghajar” polisi. Akibatnya Subagyo harus turun tangan mendamaikan agar peristiwa “Bingei Berdarah” tidak terulang.

Namun meski Subagyo kerap dibuat jengkel dengan ulahnya, Karso Dhemit tidak bisa disangkal adalah orang terdekat Subagyo. Mereka telah lama kenal sejak sama-sama menjadi taruna tentara dan kepolisian. Jaman dahulu tentara dan polisi memang masih satu lembaga. Mereka tidak hanya dekat secara profesi, namun juga pribadi. Tentu saja masing-masing menjaga rahasia pribadi sahabatnya.

Suatu saat Subagyo dibuat gundah gulana oleh Direktur Badan Pemberantasan Korupsi (BPK) yang telah memenjarakan besannya yang terbukti korupsi saat menjadi pejabat BUMN. Setiap saat bertemu, tidak hanya di acara keluarga tapi bahkan di acara-acara resmi, putri menantunya terus-menerus menangis di hadapannya. “Pak, papi pak. Kasihan dia.” Sang putri menantu adalah mantan artis sinetron dan model, sahabat dari sesama artis sinetron yang terhitung masih cucu mantan perdana menteri Israel yang juga calon menantu seorang da’i terkenal, Cathy Moron.

Sebagai mertua, apalagi seorang presiden Indungsia, harga diri Subagyo terasa diinjak-injak. Maka Subagyo meminta Karso untuk “membereskan” sang Direktur BPK. Tidak hanya itu, ia juga minta agar orang-orang BPK dibuat “tahu diri” dan tidak jumawa.

Tidak lama setelah itu Direktur KPK ditahan karena kasus pembunuhan dan dua pejabat BPK lainnya ditahan karena kasus penyuapan.

Konspirasi penahanan dua pimpinan BPK kemudian terbongkar berkat dukungan masyarakat yang sangat kuat kepada lembaga pemberantas korupsi ini, disamping tidak adanya bukti-bukti yang bisa dikumpulkan polisi. Namun demi menjaga image pemerintah, khususnya Presiden Subagyo dan Kapolri Karso Dhemit, kasus ini sengaja digantung antara dilanjutkan ke pengadilan dan dihentikan karena tidak ada bukti. Namun bagaimana pun juga kasus ini tetap menjadi catatan hitam dalam sejarah hidup keduanya.

Adapun konspirasi kasus pembunuhan oleh Direktur BPK tidak kalah menarik dari cerita novel fiktif. Memanfaatkan kecerobohan sang Direktur BPK yang agak genit menghadapi wanita cantik, sang direktur dijebak di salam sebuah kamar hotel yang telah dilengkapi alat penyadap dengan umpan seorang “caddy” cantik. Kemudian rekaman pembicaraan keduanya dijadikan bukti adanya motif pembunuhan. Dari rekaman itu dikembangkan opini seolah-olah karena adanya affair antara keduanya, sang suami “caddy” cantik marah kepada sang direktur dan mengancam untuk membeberkan affair tersebut ke publik sehingga sang direktur marah dan membunuh suami “caddy”.

Dengan opini itu, tanpa bukti-bukti fisik yang kuat, sang Direktur BPK tetap diganjar penjara 17 tahun. Adapun sang suami “caddy” cantik sebenarnya tewas oleh tim pembunuh yang sangat professional yang pernah dilatih di Israel, bukan preman pasar suruhan Direktur BPK sebagaimana dituduhkan dalam pengadilan. Rakyat Indungsia tentu tidak pernah berfikir aparat keamanannya dilatih oleh Israel sebagaimana rakyat Sri Lanka tidak pernah berfikir bahwa pasukan khusus Sri Lanka dan gerilyawan Macan Tamil sama-sama dilatih di Israel. Keduanya saling membunuh dan Israel mendapat keuntungan dari perseteruan mereka.

Adapun mengenai perseteruan tentara dan polisi yang memicu terjadinya tragedi “Bingei Berdarah” dimana satu batalyon tentara menyerang markas kepolisian daerah, sebenarnya dipicu oleh kecemburuan tentara kepada polisi yang sejak gerakan reformasi menjadi satu-satunya aparat bersenjata yang bertanggungjawab atas masalah ketertiban umum. Tentara semakin jengkel saja karena sejak Indungsia dipimpin oleh Subagyo, tentara semakin dimarginalkan. Bahkan anggaran mereka semakin kecil dari tahun ke tahun. Saat Sri Mulyati menjadi menteri keuangan, penurunan itu bahkan mencapai 25%. Tidak hanya itu, jabatan-jabatan strategis yang selama ini menjadi jatahnya tentara, seperti Kepala Badan Inteligen Negara dan Menhankam, kini justru dipegang oleh polisi.

Semua itu karena “organisasi” memang tidak menginginkan Tentara Nasional Indungsia menjadi kuat. Salah satu faktornya adalah karena “organisasi” memendam dendam kesumat terhadap tentara, yang bersama-sama umat Islam telah menghancurkan komunisme binaan “organisasi” di Indungsia pada tahun 1960-an. Namun faktor mendasarnya adalah karena tentara, dengan doktrin nasinalismenya yang kuat, adalah satu-satunya kekuatan yang bisa menandingi kekuatan “organisasi” di Indungsia.

Beberapa waktu lalu inteligen tentara melenyapkan nyawa seorang agen binaan George Soros yang “menyamar” sebagai aktifis kemanusiaan. Ini dilakukan karena tentara, dengan doktrin nasionalismenya yang kuat, melihat sang aktifis kemanusiaan telah menjadi agen provokator keamanan nasional Indungsia. Tapi George Soros membalas. Sang kepala inteligen tentara, mantan jendral komandan pasukan khusus, dipecat dari jabatannya. Tidak hanya itu, ia kemudian bahkan ditangkap oleh aparat kepolisian yang insiden penangkapannya nyaris memicu perang antar aparat keamanan. Hanya karena pendekatan Subagyo kepada sang jendral yang berjanji akan membebaskan sang mantan kepala inteligen tentara setelah diadili, sang jendral akhirnya menurut menjalani penahanan. Namun bagaimana pun penangkapn seorang jendral pasukan khusus oleh polisi membuat tentara di seluruh Indungsia sakit hati.

Penangkapan itu sekaligus menjadi batu penanda berakhirnya kekuasaan politik tentara untuk digantikan oleh polisi. Kesan semakin terpinggirnya tentara dari kancah politik untuk digantikan polisi tampak semakin besar berkaitan dengan isu terorisme yang kini melanda Indungsia, yang sepenuhnya disponsori “organisasi”.

Perlu juga menjadi perhatian bahwa semua isu yang disponsori “organisasi” seperti isu-isu pemanasan global, HIV, flu burung, hingga terorisme, sejatinya adalah rekayasa untuk semakin menguatkan pengaruh “organisasi” sekaligus menangguk keuntungan tiada terkira. Karena bersamaan dengan isu-isu tersebut “organisasi” memaksakan negara-negara di seluruh dunia untuk melaksanakan program yang didiktekan “organiasasi” dengan pembiayaan yang berasal dari hutang kepada negara-negara donor bentukan “organiasasi”.

Sebenarnya Subagyo mempunyai pemikiran cemerlang untuk memberdayakan tentara-tentara yang menganggur karena tidak ada perang itu. Dengan devisi zeni-nya, tentara bisa membangun infrastuktur jalan dan jembatan di daerah-daerah tertinggal namun kaya sumber daya alam seperti Kalimantan dan Irian Jaya. Mereka juga bisa membuka lahan pertanian dan perkebunan di kedua daerah itu. Selanjutnya di lahan-lahan perkebunan dan pertanian yang baru dibuka tersebut tentara bisa diberdayakan menjadi penggarap lahan dengan pola PIR yang pernah diterapkan pada masa pemerintahan presiden kedua. Jika dikombonasikan dengan program transmigrasi yang juga pernah dilakukan oleh pemerintahan terdahulu, namun sayangnya kini dihentikan karena “tekanan organisasi”, program-program itu bisa meningkatkan produksi nasional secara signifikan, meningkatkan kesejahtaraan rakyat dan tentara sekaligus meningkatkan ketahanan nasional karena di daerah-daerah terpencil pun terdapat barak-barak tentara yang menjaga teritorial Indungsia.

Namun tentu saja ide seperti itu tidak akan pernah disetujui “organisasi”. Sesaat setelah Subagyo menyampaikan idenya tersebut dalam rapat kabinet, Budiloyo diam-diam memberitahu George Soros tentang hal itu. Soros pun langsung menelpon Subagyo menanyakan langsung rencana itu. Subagyo bersikukuh dengan rencana itu dengan anggapan bahwa dengan membuat makmur rakyat Indungsia, toh “organisasi” juga turut diuntungkan. Jawaban Soros sangat sarkastis: “Sebenarnya Anda kerja untuk siapa?”

Dalam hal ini peran seorang “mata-mata” seperti Budiloyo sangat berarti bagi “organisasi”. Namun seandanya tidak ada Budiloyo pun “organisasi” tetap bisa mengontrol Subagyo. Mengetahui bahwa Subagyo selalu mengganti furniture istana negara setiap tahunnya dari sebuah toko furniture terkenal di Brussels, Belgia, Mossad telah menempatkan agennya di toko tersebut yang tidak mengalami kesulitan menanamkan alat penyadap canggih pada furniture yang dipesan Subagyo.

Loyalitas Subagyo kepada “organisasi” yang ditandai dengan pidato kemenangan dalam bahasa Inggris, benar-benar diimplementasikannya. Pada masa pemerintahannya-lah tanda-tanda kehadiran yahudi semakin marak di Indungsia. Pada waktu bersamaan, penghancuran nilai-nilai agama serta simbol-simbol Islam tidak kalah gencarnya.

Graffiti bergambar bintang Daud dan tulisan Israel muncul di kota-kota besar Indungsia. Ahmad Sani pun semakin berani memamerkan simbol-simbol yahudinya ke publik. Wajah-wajah dan nama-nama “jewy” semakin banyak muncul di televisi, sebagai artis sinetron maupun host acara-acara populer. Di antaranya tentu saja adalah Cathy Moron, terhitung masih kerabat mantan perdana menteri Israel, Ariel Moron. Beberapa jabatan publik juga secara demonstratif diserahkan pada para “jewy”, di antaranya juru bicara kemenlu yang diemban oleh Mechele Tennet, keponakan jauh dari mantan Direktur CIA, George Tennet.

Sebaliknya Islam dan nilai-nilai religius secara simbolis terus dimarginalkan. Stasiun-stasiun televisi semakin intensif mengkampanyekan pornografi, homoseksualitas, dan pelacuran. Kementrian Koordinator Kesra bahkan membuat iklan besar-besaran tentang prostisusi yang dipoles dengan iklan layanan sosial. Seorang host acara televisi populer yang berwajah sangat “jewy” memerankan tokoh ustadz demi mengolok-olok simbol-simbol Islam.

Namun yang paling monumental adalah drama penghancuran simbol Islam yang dilakukan oleh seorang ustadz terkenal dan seorang pelacur. Pada suatu saat sang pelacur membuat pernyataan publik bahwa sang ustadz telah memperkosanya di sebuah hotel. Bukannya membuat pengaduan pencemaran nama baik, sang ustadz justru menawarkan perdamaian yang sangat jelas menandakan pembenaran atas tuduhan sang pelacur. Yang ironis adalah, setelah drama memalukan itu media massa justru memberikan tempat terhormat kepada sang ustadz dan pelacur tersebut. Sang ustadz dan pelacur kini sering muncul di televisi dan media cetak.

Hal ini tentunya sangat kontras dengan apa yang dialami ustadz kondang Indungsia lainnya, yang dijauhi media massa setelah membuat pengakuan telah melakukan poligami. Yang pertama adalah pelaku zinah dan mendapatkan kedudukan terhormat, sedang yang kedua adalah pelaku poligami dan harus tersingkir.

Tentu saja sang ustadz pezinah adalah “binaan organisasi”. Salah seorang putranya bahkan secara terang-terangan mengaku sebagai pengikut sekte penyembah setan dengan ritual favorit meminum darah binatang di atas pentas pertunjukan musik metal.

Di masa kepemimpinan Subagyo pulalah, perusahaan-perusahaan global yahudi semakin intensif melakukan infiltrasi ke Indungsia. Jika dahulu George Soros harus sembunyi saat melakukan akuisisi perusahaan investasi, Santi Investama dan melaluinya kemudian mencaplok berbagai perusahaan di berbagai sektor, termasuk pabrik rokok dan stasiun televisi swasta terbesar, kini bahkan perusahaan milik atasan Soros, keluarga Rothschild secara terang-terangan membeli saham mayoritas perusahaan pertambangan milik pengusahan pribumi binaan “organisasi” yang tercatat sebagai manusia terkaya di Indungsia.

Indungsia saat ini tengah digemparkan oleh berita “tak bermutu” tentang kaburnya seorang artis top remaja dari keluarganya. Bukannya sekali, artis ABG bau kencur ini telah kabur kedua kalinya setelah yang pertama kasusnya diselesaikan secara baik-baik dengan pacar sang artis mengembalikan sang artis kepada orang tuanya dan meminta ma’af. Namun dasar manusia “tengik”, sang pacar kembali membawa kabur sang artis dari keluarganya.

Perlu dicatat bahwa manusia “tengik” tersebut lagi-lagi adalah yahudi. Ia berdarah campuran antara yahudi Irak dan melayu Malesia dan tinggal di negeri jiran tersebut. Ia masih terhitung cucu dari mantan perdana menteri pertama Singapura yang berdarah yahudi, David Marshall. Dan karena yahudi menguasai dunia televisi Indungsia, manusia itu bisa leluasa bekerja sebagai aktor sinetron di Indungsia, mengabaikan peraturan yang mewajibkan pekerja ekspatriat harus memiliki visa pekerja. Bahkan dalam kasus penculikan pertama dan kedua ini, aktor yahudi itu tidak pernah diperiksan polisi, membuktikan betapa kuatnya pengaruh yahudi di Indungsia saat ini.

Sang artis ABG idiot adalah seorang keturunan Arab, dilihat dari bentuk fisik dan nama keluarganya, Yassin. Tentu saja ia adalah sasaran yahudi yang sangat ideal. Selain menjadi sasaran untuk desakralisasi Islam, artis itu menjadi alat penghancuran nilai-nilai keluarga yang merupakan dasar dari kesatuan sosial sebuah bangsa. Dengan hancurnya nilai-nilai kekeluargaan, penghancuran tatanan sosial sebuah bangsa menjadi lebih mudah lagi. Bagi yang pernah membaca buku klasik “The Rise and Fall of Roman Empire” karya sejarahwan Edward Gibbon, tentu paham dengan situasi seperti ini. Gibbon pun “menemukan” kenyataan bahwa orang-orang yahudi pula yang telah berperan besar dalam penghancuran kemaharajaan Romawi setelah sebelumnya diperas habis-habisan kekayaannya dengan menggunakan tangan para pemimpin korup.

“Organisasi” adalah sebuah entitas yang sangat unik. Tidak seperti organisasi kebanyakan, “organisasi” tidak pernah mengadakan pertemuan resmi secara berkala. Para anggotanya pun kebanyakan tidak saling mengenal. Untuk menunjukkan loyalitasnya sekaligus tanda pengenal kepada sesama anggota “organisasi” seorang anggota biasa menggunakan kode-kode tertentu yang tidak banyak diketahui masyarakat. Selain simbol “el diablo sign” alias “tanduk setan”, ini karena langasan idiologis organisasi adalah penyembahan setan, para anggota sering berpose dengan menutup sebelah matanya sebagai simbolisasi penyembahan dewa Iris, atau berjabat tangan dengan cara menekankan jempolnya kepada lawan jabatannya. Mereka juga memiliki aksesoris khusus seperti cincin.

Di sisi lain, untuk menunjukkan bahwa organisasi tetap hidup dan terus mengawasi para anggotanya, “organisasi” sering melakukan aksi-aksi konspiratif dengan menyertakan simbol-simbol khusus. Misalnya saja aksi-aksi kekerasan dan terorisme yang terjadi di bulan September. Misalnya saja peristiwa “Black September”, yaitu serangan teroris atas tim Olympiade Israel tahun 1972, peristiwa Serangan WTC tahun 2001 dan kudeta militer atas Presiden Chili Salvador Allende tahun 1973, hingga Gerakan 30 September 1965. Sebalinya, mereka terkadang merancang peristiwa-peristiwa heroik yang terjadi pada bulan Oktober seperti misalnya aksi penyelamatan para penambang di Chili baru-baru ini. Pada semua peristiwa itu jika diamati dengan jeli terdapat simbol-simbol tertentu yang menunjukkan keberadaan “organisasi” di balik semua peristiwa itu. Misalnya jumlah pekerja tambang yang diselamatkan dan jumlah hari mereka terperangkap di dalam tanah. Atau jumlah “Pahlawan Revolusi” yang gugur dalam peristiwa G-30-S.

Sejak Subagyo terpilih menjadi presiden, terjadilah pemborosan besar-besaran yang dilakukan oleh lembaga-lembaga publik di Indungsia. Hal ini tidak lain karena mereka meniru apa yang dilakukan Subagyo, “menjaga citra” dan mengabaikan kinerja. Lebih tepatnya semua itu dilakukan karena instruksi “organisasi” kepada Subagyo untuk memerintahkan jajarannya lebih banyak melakukan kampanye pencitraan daripada melakukan kinerja riel. Karena dengan demikian maka sebagian besar dana APBN akan mengalir ke media massa yang sebagian besarnya telah dikuasai orang-orang “organisasi” daripada memberikan manfaat yang mensejahterakan rakyat Indungsia. Bukankah “organisasi” memang tidak pernah menginginkan rakyat Indungsia, dengan 200 juta umat Islamnya itu, sejahtera?

Maka ramai-ramailah kementrian-kementrian, BUMN dan lembaga-lembaga negara membuat iklan pencitraan di media-media massa demi menghambur-hamburkan APBN. Karena dengan APBN yang boros, APBN menjadi defisit, dan itu menjadi alasan untuk berhutang lagi pada bankir-bankir asing.

Dan masih ada 1001 cara lainnya untuk mengabaikan kesejahteraan rakyat. Baru-baru ini misalnya Subagyo melakukan kampanye kontra-produktif dengan mengusik status keistimewaan propinsi Ngayogjo. Kontan saja hal itu mengundang kritikan masyarakat dan kemarahan warga Ngayogjo. Betapa tidak, para pemimpin dan rakyat provinsi ini telah banyak berkorban untuk memperjuangkan kemerdekaan Indungsia dari penjajahan negara asing. Bahkan saat Indungsia belum merdeka, provinsi ini secara “de jure” dan “de facto” telah merdeka karena memang memiliki pemerintahan sendiri yang diakui dunia internasional.

Bagaimana pun juga polemiki ini berhasil mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan-persoalan riel seperti harga beras dan sembako yang membumbung naik, BBM yang samakin langka dan mahal, infrastuktur yang tidak banyak perbaikan, kota-kota besar yang semakin macet dan polutif, pengangguran yang samakin menumpuk dan penguasaan aset-aset strategis serta penjarahan sumber-sumber alam oleh asing yang samakin intensif.

Di sisi lain wakil presiden Budiloyo justru semakin menghilang dari “peredaran”. Jauh dari puji-pujian yang dilontarkan media massa kepadanya semasa kampanye, Budiloyo sama sekali tidak bisa menunjukkan jiwa kepemimpinan. Jangan kan melakukan program-program riel yang cukup cemerlang sebagaimana telah ditunjukkan oleh wakil presiden pendahulunya, bicara pun kini ia tidak pernah lagi dilakukan, bahkan di masa-masa krisis seperti saat kampung halamannya di Ngayogjo dihancurkan oleh gunung Merapen yang meletus. Ia seperti “sembunyi” entah di mana. Kabar yang terdengar tentangnya hanyalah kunjungan ke sana sini, menggunting pita dan studi banding ke luar negeri. Wakil presiden kok studi banding. Itu khan cukup dilakukan bawahannya. Yang harus dilakukan adalah menginisiasi, mengkoordinasi dan mengawasi program-program pembangunan.

Kasihan umat Kristen Amerika. Di negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen dan didirikan oleh para pendiri bangsa yang beragama Kristen, kini umat Kristen dilarang mendirikan pohon natal di tempat-tempat umum dan fasilitas-fasilitas umum. Sebaliknya di depan istana kepresidenan, White House, sebuah menoreh (tempat lilin simbol yahudi) raksasa didirikan setiap bulan Desember memperingati hari raya Canukkah.

Pada tgl 1 Desember lalu sebuah menoreh raksasa didirikan kembali di depan White House. Tahun sebelumnya menoreh yang sama didirikan di tempat yang sama dengan peresmiannya dihadiri oleh kepala staff White House, Rahm Emmanuel, seorang pemilik kewarganegaraan ganda (Amerika dan Israel), veteran angkatan bersenjata Israel, putra mantan teroris Israel pembunuh tentara Inggris dan rakyat Palestina, dan seorang homoseksual bekas penari balet. Adapun untuk tahun ini Presiden Obama sendiri yang memimpin peringatan hari raya Canukkah di Gedung Putih.

Di Amerika, adalah hal ilegal meletakkan simbol-simbol agama, di tempat-tempat umum bahkan di hari Natal yang menjadi hari paling dihormati umat Kristen. Namun pada saat yang sama umat yahudi mendirikan ribuan menoreh di tempat-tempat umum seluruh penjuru negeri. Yang paling menonjol tentunya adalah menoreh raksasa di depan White House. Hal yang sama terjadi di seluruh Eropa dan beberapa kawasan lain di dunia. Di depan gedung-gedung parlemen dan pemerintahan di Eropa kini berdiri megah sebuah menoreh. Sebuah menoreh megah bahkan didirikan di tempat paling sakral bagi rakyat Jerman, Brandenburg Gate. Di negara-negara yang secara demografis orang-orang yahudi jarang dikenal seperti India dan China pun, beberapa menoreh kini berdiri dengan angkuhnya.

Menoreh adalah simbol paling sakral bagi umat Yahudi, lebih sakral dibandingkan simbol bintang Daud. Menyalakan menoreh adalah tradisi umat yahudi yang sudah berusia ribuan tahun terutama di Hari Canukkah yang diperingati setiap bulan Desember. Pada bulan itu di abad pertama sebelum Masehi, orang-orang yahudi di seluruh kawasan Palestina, Mesir dan Mediterania, memberontak kepada penguasa Yunani di bawah kepemimpinan Maccabee.

Berhasil mengalahkan pasukan Yunani, orang-orang yahudi kemudian melakukan aksi balas dendam yang kebrutalannya membuat miris para ahli sejarah. Mereka membunuhi orang-orang Yunani dan Romawi yang ditemukan, semuanya termasuk wanita, anak-anak dan bayi, dengan terlebih dahulu menyiksanya dengan kekejian yang luar biasa. Ribuan dari mereka disula (ditombak bagian duburnya hingga ke tenggorokan) dan disalib. Ribuan lainnya mengalami nasib yang lebih buruk: dimutilasi dan direbus daging tulangnya. Usus mereka dijadikan ikat pinggang dan kulit mereka dijadikan souvenir.

Beberapa orang liberal idiot Indungsia, para wartawan, pebisnis, dan aktifis ormas keagamaan, setiap tahunnya diundang ke Israhell untuk menghadiri peringatatan hari Canukkah. Dan untuk menunjukkan dominasi yahudi di Indungsia, “organisasi” berambisi mendirikan menoreh di tempat paling sakral di Indungsia, taman Monumen Nasional. Namun bertahun-tahun ambisi ini tertahan oleh kekhawatiran bahwa orang-orang Islam terbangkitkan kesadarannya dan mengamuk karena tersinggung.

Di negara-negara Eropa Timur, perlawanan telah mulai ditunjukkan oleh para penganut Katholik fanatik dengan menumbangkan menoreh yang didirikan dan menggantinya dengan salib raksasa. Perlawanan orang Islam Indungsia yang mengamuk bisa berakibat lain. Penumpasan habis-habisan segala hal yang berbau yahudi sebagaimana telah dialami orang-orang komunis. Hal itu pula yang menjadi alasan Subagyo untuk menolak keinginan “organisasi”.

Dalam hal ini Subagyo bahkan memiliki kekhawatiran sendiri yang tidak dibagikannya pada teman-temannya sesama anggota “organisasi”: penumpasan umat yahudi di seluruh dunia yang dipicu oleh kerusuhan anti-yahudi di Indungsia. Kekhawatiran Subagyo bukan tanpa alasan. Jika orang-orang Katholik Eropa saja bisa marah pada orang-orang yahudi, orang-orang Islam tentu lebih marah lagi mengingat penderitaan rakyat Palestina akibat perlakuan keji Israhell, ditambah ajaran moral Islam yang memandang yahudi sebagai “binatang najis”. Jika kalangan kelas menengah Islam dan Kristen yang sadar informasi telah mulai bangkit kesadarannya atas kejahatan yahudi, maka tinggal menunggu waktu gerakan pemusnahan yahudi itu merembet ke seluruh dunia, meskipun regim-regim boneka yahudi telah menerapkan undang-undang fasis untuk mencegah hal itu.

Namun kekhawatiran Subagyo ternyata bukan hanya dialaminya sendiri. Semua orang yahudi di seluruh dunia memendam kesadaran yang sama, meski disembunyikan di alam bawah sadarnya. Suatu saat seluruh dunia akan memerangi mereka, sebagaimana judul lagu yang pernah ngetop di Israhell: “Me Against the World”.

“Nyupang”. Istilah dalam bahasa Jawa untuk suatu praktik penyembahan setan yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan kekayaan mendadak. Diyakini oleh banyak orang dengan praktik ini seseorang bisa mendapatkan kekayaan melimpah tanpa harus bekerja keras. Namun sebagai konsekuensinya mereka pada akhirnya harus mengorbankan sesuatu yang dicintainya, termasuk nyawanya sendiri, kepada setan yang disembahnya.

Demikian pula halnya dengan menjadi anggota “organisasi”. Hampir semua anggota “organisasi” harus mengakhiri hidupnya dengan penderitaan. Tidak peduli bagaimana berkuasa atau terkenalnya ia dahulu. Contoh paling sering terjadi menimpa pada para bintang populer: Elvis Presley, Marilyn Monroe, John Lennon, Curt Cobain, dan terakhir Michael Jackson. Begitu juga dengan mereka yang menjadi politisi: Ali Bhutto, Shah Pahlevi, Marcos, Kemal Attaturk, Pinochet dll. Dua pendahulu Subagyo juga harus mengakhiri hidupnya dalam penderitaan. Yang pertama meninggal dalam tahanan rumah, sedang yang kedua meninggal dengan cap “koruptor” dan “pelanggar HAM berat” setelah sebelumnya dilengserkan dari kekuasaannya oleh mahasiswa.

Sebagian besar dari mereka memang menderita setelah disingkirkan “organisasi” setelah tidak dibutuhkan lagi. Sebagian mendapat adzab Tuhan sebagaimana teman se-angkatan Subagyo dalam organisasi, Cak Doer. Pengusung gerakan Islam liberal yang direkrut oleh “organisasi” sejak menjadi mahasiswa University of Chicago ini meninggal dalam kondisi mengerikan, sekujur tubuhnya hangus terbakar karena kegagalan cangkok hati yang dilakukannya di Cina. Namun sebagian dari anggota “organisasi” sengaja dikorbankan sebagai bentuk ritual penyembahan setan.

Jauh dari pikiran orang awam, para anggota tingkat tinggi “organisasi” sering melakukan upacara ritual penyembahan setan, yang selain diselingi dengan pesta seks massal, juga pengorbanan darah manusia. Pada hari-hari suci yahudi seperti purim, chanukkah dan passover, sering diadakan jamuan roti yang telah diolesi dengan darah manusia. Mereka suka sekali dengan darah anak-anak, tapi paling favorit adalah darahnya pemuka agama Kristen atau Islam. Biasanya para korban akan digantung dengan kepala di bawah. Kemudian lehernya disayat agar darah mengalir ke dalam baskom yang disediakan di bawah kepala, dan dibiarkan hingga darahnya habis.

Suatu hari di bulan Februari 1840, kegemaran yang menyayat rasa kemanusiaan itu menimbulkan sebuah drama krisis diplomatik internasional yang dikenal dengan peristiwa “Damascus Affair”. Kala itu seorang pendeta kristen Franciscan asal Perancis dan seorang pembantunya hilang saat berjalan di pemukiman yahudi di Damascus. Beberapa hari kemudian mereka ditemukan telah meninggal dengan luka-luka misterius dan menunjukkan tanda-tanda kehabisan darah sebelum meninggal. Polisi setempat dibantu para ditektif Perancis menangkap beberapa orang yahudi yang diduga sebagai pelaku penculikan berdarah tersebut. Saat diinterogasi mereka mengaku melakukan pembunuhan untuk keperluan upacara ritual.

Peristiwa itu memicu terjadinya kerusuhan anti-yahudi di negara-negara Timur Tengah dan Eropa. Tapi orang-orang yahudi, percaya diri dengan kekuatannya, melakukan perlawanan. Dengan jaringan lobi internasional dan media massa mereka mengecam penangkapan para tersangka. Media massa mulai memunculkan istilah “blood libel”, fitnah berdarah, untuk membungkam setiap suara-suara kritis tentang praktik ritual berdarah orang-orang yahudi. Sementara komunitas-komunitas yahudi di Eropa dan Amerika melakukan aksi-aksi demonstrasi menentang penangkapan para tersangka. Melalui beberapa diplomat Eropa dan Amerika antek yahudi, mereka menekan pemerintah Turki dan Mesir (saat itu Damaskus masuk wilayah provinsi Mesir dalam kekhalifahan Turki Usmani) serta Perancis untuk membebaskan para tersangka, dan berhasil. Maka pada tgl 28 Agustus 1840, setelah berbulan-bulan menjadi isu internasional yang sangat panas, para pelaku pembunuhan itu dibebaskan. Sultan Abdulmecid bahkan dipaksa mengeluarkan maklumat kerajaan yang isinya membantah tuduhan adanya praktik pembunuhan ritual untuk mencegah terjadinya kerusuhan massal menyusul dibebaskannya para tersangka.

Referensi paling lengkap tentang upacara ritual berdarah ini adalah paper karya Arnold Leese berjudul “Jewish Ritual Murder”. Paper ini mendokumentasikan ratusan peristiwa pembunuhan ritual di Eropa dan Timur Tengah sejak abad 12. Paper ini dapat diakses di: http://www.churchoftrueisrael.com/streicher/jrm. Menurut Leese, selain praktik ribawi, ritual berdarah adalah salah satu faktor utama munculnya gerakan anti yahudi. Bahkan menurutnya, pembunuhan ritual pulalah yang menyebabkan orang-orang yahudi diusir dari Inggris pada abad 13.

Ritual-ritual berdarah itu masih eksis sampai sekarang. Untuk memenuhi kebutuhannya, orang-orang yahudi dengan dukungan dinas inteligen Mossad dan CIA serta mafia kriminal internasional menjalankan bisnis perdagangan organ manusia internasional sebagaimana mereka menjadi otak bisnis narkoba dan ekstasi. Korbannya selain orang-orang Palestina yang ditangkap karena melakukan aksi-aksi menentang pendudukan Israel, juga gelandangan dan anak-anak yang diculik oleh orang-orang yang sebelumnya telah dibuat sakit jiwanya karena homoseksual dan narkoba, seperti Robot Gedhek dan Baikuni. Polisi Indungsia bukannya tidak mengetahui jaringan kriminal itu. Tapi karena intervensi Karso Dhemit, polisi pura-pura tidak tahu.

Dialektika politik adalah permainan lama “organisasi”. “Thesis, anti-thesis, dan sintesa” atau “masalah, kontra-masalah, dan solusi” adalah mantra yang jitu “organisasi” untuk terus berkuasa. Mereka sengaja menciptakan masalah, menciptakan gerakan perlawanan, dan terakhir menawarkan solusi menurut versi yang menguntungkan mereka.

Selama puluhan tahun masyarakat dunia terbuai ilusi dengan dialektika “kapitalis dan komunisme” sebelum akhirnya mengetahui bahwa masyarakat telah dikuasai oleh faham baru bernama “neo-liberalisme” yang mana kekuasaan “organisasi” justru semakin kuat dengan faham ini.

Lihat saja bagaimana mereka sengaja menciptakan faham “komunisme” setelah sebelumnya sengaja mendramatisir fenomena revolusi industri sebagai faham “kapitalisme”. Dengan dana para kapitalis-lah sebenarnya “komunisme” diciptakan. Dan kemudian, setelah berhasil membuat dunia terpecah dalam dua blok yang saling bermusuhan selama puluhan tahun yang mana “organisasi” berhasil mengeruk keuntungan tiada tara dari kondisi itu, mereka sengaja meruntuhkan “komunisme” seperti bangunan kardus untuk memuluskan lahirnya faham baru “neo-liberalisme”.

Belum memahami keanehan peristiwa “Revolusi Agustus” tahun 1991 yang menjadi momentum keruntuhan komunisme Uni Sovyet? Inilah gambaran singkatnya. Pada dekade akhir 1980-an di Uni Sovyet muncul satu pemimpin baru bernama Gorbachev yang membawa perubahan gaya pemerintahan drastis Uni Sovyet dengan slogannya: “glasnot” dan “perestorika”, keterbukaan dan restorasi (perbaikan). Pada bulan Agustus 1991 terjadi kudeta terhadap Gorbachev yang dilakukan oleh para pendukung setianya sendiri. Orang-orang itu adalah wakil presiden Gennady Yanayef, perdana menteri Valentin Pavlov, kepala KGB Vladimir Kryuchkov, menhan Dimitri Yazov, wakil ketua Dewan Pertahanan Oleg Baklanov, mendagri Boris Pugo, kepala dewan perindustrian AI Tizyakov, dan ketua serikat pekerja Vasily Starodubtsev.

Dengan jabatan-jabatan strategis itu dalam kekuasaan, nyaris tidak ada lagi perlawanan terhadap kudeta, dan memang demikian. Gorbachev sendiri tanpa daya dijebloskan ke dalam tahanan. Satu-satunya perlawanan yang ada adalah seorang gubernur bernama Boris Yeltsin yang berdiri di tengah lapangan di tengah-tengah pendukungnya mengecam kudeta tersebut. Dan tiba-tiba saja para pelaku kudeta yang sudah biasa dengan praktik-praktik penindasan dan pembunuhan politik itu ketakutan sendiri dan segera membebaskan Gorbachev. Orang-orang komunis yang telah membunuhi puluhan juta rakyatnya sendiri demi meraih kekuasaan itu tiba-tiba saja lumpuh tanpa daya.

Maka Gorbacahev dan Yeltsin kemudian muncul dari kekacauan dengan “kemenangan gemilang”. Dan berdua mereka dengan cepat menghancurkan Uni Sovyet dan Pakta Warsawa, blok superpower yang selama puluhan tahun menghantui masyarakat “demokratis” dunia.

Di Indungsia akhir-akhir ini pun muncul fenomena yang mirip dengan dialektika politik “kapitalis-komunis” ini. Memanfaatkan euforia gerakan reformasi serta kegagalan partai-partai lama dalam menjalankan pemerintahan Indungsia, “organisasi” berhasil membentuk partai baru bernuansa “demokratis” yang secara “de facto” dipimpin oleh Jendral Subagyo. Keberhasilan partai baru itu dalam menarik massa masyarakat liberal idiot Indungsia-lah yang membuat Subagyo muncul sebagai presiden Indungsia. Namun setelah dianggap sudah cukup memberikan layanan kepada “organisasi” sehingga citranya merosot tajam: di antaranya karena harus menaikkan harga BBM, terus menambah hutang luar negeri serta membuka pintu bagi penguasaan aset-aset strategis bagi investor asing, “organisasi” membangun parpol baru yang “lebih demokratis dan sekaligus nasionalis” bernama Partai Demokrat Nasional.

Kini di antara partainya Subagyo dan partai baru tersebut tengah terjadi persaingan tajam berupa perang citra hingga intrik politik. Intrik politik yang dimaksud adalah menyangkut status keistimewaan provinsi Ngayogjo. Mengetahui bahwa salah satu pendiri Partai Demokrat Nasional adalah Sultan Ngayogjo, yang berdasarkan UU keistimewaan Ngayogjo yang lama secara otomatis ditetapkans sebagai gubernur, Subagyo bermaksud merevisi UU tersebut dan membatalkan penetapan Sultan sebagai gubernur.

“Organisasi” masih menunggu sampai sejauh mana persaingan tersebut berlangsung. Seperti biasa, mereka cenderung membiarkan para anggotanya bersaing memperebutkan kekuasaan selama tidak mengancam kepentingan mereka. Dan memang demikian. Meski mengusung slogan “restorasi” dan mengklaim sebagai partai nasionalis, partai baru tersebut tidak menawarkan sesuatu yang baru. Tidak ada yel-yel “nasionalisasi”, “anti modal asing”, atau “anti-liberalisasi perdagangan”, “anti-hutang luar negeri” dan lain-lainya yang selama ini telah menyesengsarakan sebagian besar rakyat Indungsia.

Akhir-akhir ini Subagyo dilanda kegelisahan yang luar biasa. Tidak lain karena harga dirinya terasa telah diinjak-injak oleh sekelompok pemuka lintas agama yang telah menuduhnya dihadapan publik, telah melakukan kebohongan kepada rakyat. Dan seolah-olah mengejeknya, para tokoh agama itu menyebutkan sembilan kebohongan, angka sembilan yang semua orang di Indungsia tahu adalah angka “suci” Subagyo.

Bertahun-tahun sudah Subagyo gencar membangun citra dengan bantuan konsultan politik dan komunikasi Amerika yang dijalankan oleh agen-agen Mossad dan CIA di Indungsia. Dan semua itu hancur dalam sekejap karena tuduhan para tokoh agama tersebut.

Subagyo salah tingkah. Inginnya ia marah-marah dan menangkapi orang-orang itu, tapi itu semua hanya menambah parah reputasinya. Berdiam diri, ia lebih tidak tahan lagi. Baginya harga diri adalah segalanya, meski secara jujur ia mengaku tidak sanggup lagi mengelola negeri ini yang dirasakannya begitu kompleks. Membagi kepentingan antara diri dan keluarganya, pendukung-pendukungnya, rakyatnya, dan “organisasi” bukanlah pekerjaan yang bisa ditanggung oleh semua orang. Apalagi bagi dirinya yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan yang tangguh, demikian setidaknya hasil tes psikologi yang pernah dijalaninya sewaktu menjadi taruna angkatan bersenjata.

Namun semua itu masih belum seberapa dibandingkan dengan apa yang dilakukan Jayusman, tersangka pengemplang pajak yang membocorkan ke publik semua kebusukan aparat pajak dan penegak hukum Indungsia yang semuanya mengarah pada kelemahan Subagyo memimpin Indungsia. Jayus adalah seorang pegawai rendahan direktorat pajak yang berhasil mengeruk penghasilan puluhan miliar rupiah. Dengan kewenangannya yang dimiliki, tentu saja Jayus hanya pemain “teri”. Pimpinannya, direktur, direktur jendral, menkeu, dan Subagyo sendiri terlibat dalam mafia pajak yang omsetnya mencapai triliunan rupiah per tahunnya. Itulah sebabnya mengapa salah seorang pimpinan partai pendukung Subagyo sempat “keceplosan” dengan membuat pernyataan publik bahwa kasus Gayus bisa menimbulkan dampak sistemik di Indungsia jika dibongkar tuntas. Tentu saja, karena kalau terbongkar maka Subagyo sendiri akan terseret.

Jayus juga membongkar jaringan inteligen CIA yang melibatkan lingkaran dalam Subagyo melalui tim pemberantasan mafia hukum bentukan Subagyo. Keterlibatan CIA tentu saja ditujukan untuk mengamankan kepentingan perusahaan-perusahaan Amerika di Indungsia yang terlibat dalam permainan mafia pajak.

Bisa dikatakan Jayusman berdiri di tengah-tengah dua kekuatan politik besar Indungsia yang terlibat dalam mafia perpajakan. Kekuatan politik pertama adalah perusahaan-perusahaan pengemplang pajak yang dimiliki satu pimpinan politik politik oposisi, seorang pengusaha pribumi anggota “organisasi”. Sedang kekuatan politik kedua adalah jajaran birokrat pajak dan kementrian keuangan, polisi, jaksa, dan tim pemberantasan mafia hukum yang semuanya adalah bawahan Subagyo. Meski secara umum “organisasi” merestui kampanye penggoyangan kekuasaan Subagyo setelah yang bersangkutan dianggap telah menunaikan tugasnya dan kini mulai dianggap sebagai sepah, dalam hal konflik mafia pajak antara Subagyo dengan sang pimpinan partai oposisi “organisasi” cenderung mendukung Subagyo. Tidak lain karena bagi “organisasi” seorang pengusaha pribumi hanya alat untuk meraup keuntungan. Saat mereka dianggap sudah terlalu besar, mereka harus disingkirkan agar tidak menjadi saingan.

Dan Jayus hanya satu dari puluhan jaringan mafia pajak yang ada di Indungsia. Ada puluhan Jayus-Jayus lain dan jaringannya yang masih beroperasi secara diam-diam dengan omset tak kalah besar.

Rasanya baru saja Subagyo merasa sebagai manusia paling beruntung di dunia. Ia berhasil memenangkan pemilihan presiden dengan suara mutlak, satu putaran. Meski ia tahu hal itu tidaklah murni karena kemenangannya didukung oleh konspirasi CIA-Mossad yang telah mengkooptasi komisi pemilihan umum dan menyediakan perangkat komputer penghitung suara pemilu yang telah diprogram untuk memenangkan Subagyo. Namun dalam beberapa hari ini Subagyo merasa sebagai pecundang besar.

Dan di tengah-tengah kegagalannya mensejahterakan rakyat yang membuatnya menjadi presiden yang paling banyak dicaci rakyat Indungsia akhir-akhir ini, Subagyo justru sukses melayani kepentingan “organisasi”. Dalam satu tahun saja, di tahun 2010, ia “sukses” menambah hutang Indungsia sebesar 85,49 triliun rupiah. Di sisi lain program pemborosan APBN yang ujung-ujungnya membuat hutang bertambah, juga sukses dijalankannya. Meski banyak mendapat kritik masyarakat karena besarnya anggaran “jalan-jalan” pejabat ke luar negeri, SBY berhasil menambah anggaran “plesiran” tersebut dari RAPBN yang direncanakan tahun 2011 sebesar 20,9 triliun menjadi 24,5 triliun rupiah. Modusnya penuh tipu daya, yaitu dengan menyembunyikan pos biaya itu dari pos biasanya sebagai nomenklatur belanja barang.

Hutang luar negeri telah membuat bangsa Indungsia tersandera karena tidak lagi bisa mengalokasikan anggaran yang memadai untuk melakukan pembangunan. Dalam APBN 2011 saja anggaran untuk mencicil bunga dan pokok hutang luar negeri mencapai 247 triliun rupiah, jauh lebih besar dari anggaran pembangunan.

Jumlah anggaran “plesiran” tersebut jauh lebih besar dibanding misalnya dengan anggaran Jamkesmas yang hanya 5,6 triliun rupiah. Tragisnya pemerintah justru memangkas anggaran belanja fungsi kesehatan dari 19,8 triliun rupiah pada tahun 2010 menjadi hanya 13,6 triliun rupiah di tahun 2011. Kemudian anggaran untuk penanggulangan gizi buruk balita juga hanya 209,5 miliar rupiah. Padahal di Indungsia terdapat tidak kurang 4,1 juta balita penderita gizi buruk. Dengan anggaran sebesar itu setiap balita penderita gizi buruk hanya mendapat bantuan 4.000 rupiah per-bulan.

“Sri Mulyati is back!” Demikian judul headline sebuah koran nasional Indungsia mencermati kembalinya Sri Mulyati ke kancah politik. Memang paska didapuk George Soros menjadi salah seorang eksekutif IMF, yang bersangkutan belum pernah menampakkan sunggingan senyumnya yang agak agak miring sebelah dan kontur wajahnya yang cenderung “gino” alias gigi nongol sedikit itu.

Tapi mengapa ia dianggap telah “kembali” ke tanah air? Tidak lain setelah para pendukung setianya ramai-ramai membuat sebuah “move” politik dengan melakukan gerakan yang mereka namakan Gerakan Rakyat Anti Mafia Hukum atau Geram. Gerakan ini membonceng isu mafia hukum yang tengah santer menjadi pembicaraan masyarakat Indungsia, sekaligus peringatan pada lawan-lawan Sri Mulati bahwa yang bersangkutan masih memiliki taji dan siap bersaing di dunia politik, khususnya menjelang pemilihan presiden tahun 2014 atau bila mungkin tahun yang dipercepat lagi mengingat popularitas Subagyo yang semakin anjlok dan tuntutan mundur mulai sering disuarakan masyarakat.

Geram dimotori oleh para pendukung Sri Mulyati seperti wartawan senior dan mantan agen utama CIA di Indungsia, Gunawan M Ahmad, dan seorang mantan jubir kepresidenan Miwar Siular. Heloh S Namidub (nama sebenarnya cukup dengan membaliknya menjadi Budiman Sholeh) yang juga mantan wartawan senior dan kini menjadi dirut BUMN strategis tentu saja tidak memperlihatkan diri sebagai pendukung gerakan itu karena telah menjadi bagian dari pemerintahan Subagyo. Apalagi setelah santer terdengar kabar dirinya akan dipromosikan menjadi seorang menteri oleh Subagyo. Namun diam-diam ia tetap menjalin komunikasi intens dengan teman-temannya pendukung Sri Mulyati.

Sri Mulyati dan para pendukungnya merupakan faksi lain bentukan “organisasi” selain faksinya Subagyo, faksi Demokrat Nasional dan faksi-faksi lainnya. Mereka semuanya sengaja didorong oleh “organisasi” untuk saling bersaing memperebutkan kekuasaan untuk mengesankan kepada publik bahwa demokrasi berjalan baik di Indungsia sembari menutup kelompok-kelompok di luar faksi-faksi “organisasi” untuk menikmati kekuasaan. “Organisasi” dan faksi-faksi bentukannya telah menjadi mafia politik Indungsia. Siapapun yang ingin menikmati kekuasaan mau tidak mau harus bergabung dengan mereka. Dengan persaingan-persaingan yang intens dan disorot media massa tersebut juga menjadi daya pengalih perhatian yang sempurna sehingga rakyat tidak sempat menaruh perhatian pada masalah-masalah yang jauh lebih mendasar seperti kemiskinan, korupsi, dan dominasi asing yang semakin rakus mengeruk kekayaan Indungsia.

Para politisi, pakar, ilmuan dan tokoh-tokoh masyarakat yang tergabung dengan faksi-faksi tersebut kebanyakan tidak menyadari bahwa mereka hanya “pion” dalam konstelasi politik, yang setiap saat bisa menjadi “superstar mendadak” atau “dibuang ke bak sampah”. Terutama “tokoh baru muncul” dari daerah dan tokoh-tokoh agama. Namun mereka yang sadar akan bermain cantik di dua tiga kaki. Seperti Heloh S Namidub. Jika Subagyo jatuh, ia masih bisa berharap pada faksinya Sri Mulyati.

Meski pemilihan presiden masih tiga tahun lagi, namun popularitas Subagyo yang merosot karena “kemandulannya” sebagai presiden, membuat faksi-faksi saingannya gencar melakukan gerakan penggoyangan terhadap Subagyo. Sedikit banyak mereka berharap Subagyo akan lengser sebelum 2013 dan mereka memiliki kesempatan untuk menggantikannya duduk di kursi kekuasaan. Setidaknya gerakan-gerakan penggoyangan terhadap Subagyo itu bisa dijadikan investasi politik menjelang pemilihan presiden mendatang. Mereka ingin tampak di masyarakat sebagai orang-orang yang peduli dengan rakyat, bangsa dan negara, meski kenyataannya tentu saja tidak.

Adapun isu mafia hukum yang menjadi boncengan faksi Sri Mulyati muncul di awal pemerintahan Subagyo berkat informasi yang dibuka oleh seorang jendral polisi yang kecewa faksinya di kepolisian tersingkir dari kepemimpinan kepolisian. Informasi itu selanjutnya menjadi bola liar yang membongkar jaringan mafia pajak dan mafia hukum di Indungsia yang melibatkan faksi-faksi politik utama Indungsia, termasuk Subagyo. Untuk mengendalikan bola liar tersebut Subagyo membentuk tim pemberantasan mafia hukum. Namun faksi-faksi saingannya berhasil membongkar motif politik di balik tim tersebut, yaitu melindungi keterlibatan faksi Subagyo dalam mafia pajak dan menimpakan kesalahan pada faksi saingannya. Mengetahui motif tersebut faksi-faksi saingan Subagyo pun melakukan langkah-langkah tandingan, di antaranya dengan melakukan berbagai gerakan politik, termasuk menggunakan tangan para tokoh agama. Langkah terakhir mereka adalah menggalang dukungan bagi pembentukan pansus mafia pajak dan mafia hukum yang bila berjalan bisa membongkar keterlibatan Subagyo dalam mafia pajak dan hukum yang berujung pada pamakzulan terhadapnya.

Untuk mencegah hal itu terjadi, Subagyo memerintahkan aparat penegak hukumnya untuk mendahuluinya dengan melakukan penangkapan terhadap beberapa tokoh politik faksi saingan terkait kasus suap pemilihan gubernur bank sentral yang kasusnya sebenarnya telah terjadi beberapa tahun lalu. Subagyo berharap langkahnya itu akan menciutkan nyali pesaing-pesaingnya dan membatalkan pembentukan pansus.

Dengan demikian kasus mafia hukum dan mafia pajak akan berhenti tanpa hasil nyata sebagaimana kasus bank Centurion, menyisakan Jayusman sendirian di dalam tahanan dan membiarkan para pengusaha pengemplang pajak, birokrat pajak, dan para politisi busuk di pemerintahan menikmati puluhan triliun omset bisnis mafia pajak setiap tahun. Para mafia hukum dan mafia pajak akan bernapas lega dan penggung sandiwara politik akan diwarnai dengan lakon baru.

courtesy of http://noenkcahyana.blogspot.com/2011/01/back-up-negara-superkan-gayus.html

Para pendukung Subagyo kembali melakukan blunder. Jika pada blunder pertama seorang kadernya keceplosan mengungkapkan bahwa kasus mafia pajak akan menyeret kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi Indungsia sehingga membahayakan jika diungkap, blunder kedua dilakukan pendukung-pendukung Subagyo di parlemen yang menggagas hak angket masalah mafia pajak. Mulanya mereka yakin, hak itu hanya akan “menghantam” partai oposisi utama yang dipimpin oleh pengusaha yang perusahaannya diduga sebagai pengemplang pajak. Namun setelah menyadari mafia pajak juga melibatkan Subagyo dan kroni-kroninya sebagai orang yang paling banyak menangguk untung, mereka tiba-tiba saja menarik diri dari inisiatif pembentukan hak itu.

Maka proses penggunaan hak itu terus berjalan tak terbendung. Dan pada akhirnya, setelah menyadari bahwa menolak hak itu hanya akan membuat popolaritas partai pendukung Subagyo runtuh, mereka akhirnya mendukung hak tersebut dengan tujuan hanya untuk mengacaukan proses pengungkapan mafia pajak oleh parlemen. Sama seperti yang mereka lakukan dalam kasus hak angket Bank Centurion.

Upaya Subagyo mengganjal hak angket mafia pajak dengan penangkapan para anggota parlemen karena kasus penyuapan dalam pemilihan gubernur bank sentral juga kandas. Sebaliknya hal itu membuka motif politik dalam penangkapan tersebut karena Komisi Pemberantasan Korupsi tidak pernah menyentuh terduga penyuap dalam kasus itu.

Lagi-lagi ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh “organisasi”. Terduga utama sebagai penyuap dalam kasus ini tentu saja mantan gubernur bank sentral yang merupakan agen utama “organisasi” di Indungsia selain presiden.

Yang menarik lagi, kasus penyuapan ini juga melibatkan seorang politisi dari “partai dakwah” yang diklaim atau mengklaim sebagai turunan gerakan Ihwanul Muslimin. Hal ini juga semakin menunjukkan betapa pengaruh “organisasi” telah merembes ke semua lini, termasuk partai-partai maupun gerakan Islam di Indungsia.

Subagyo dan faksi politiknya masih berupaya mengalihkan persoalan dengan membuat persoalan baru, yaitu mengkoordinir kerusuhan-kerusuhan sara di berbagai daerah.

Permainan terakhir Subagyo, merancang kerusuhan-kerusuhan berbau sara, adalah agenda lama “organisasi” yang telah diterapkan sejak Indungsia merdeka. Sebagai negara Islam terbesar di dunia, “organisasi” zionis menganggap perlu untuk memainkan politik “pecah belah dan kuasai” atasnya. Yang paling disukai adalah membenturkan “mainstream” Islam dengan sekte-sekte minoritas yang didanainya, atau membenturkannya dengan pemerintah. Dengan begitu aspirasi umat Islam tidak akan pernah sampai pada tataran eksekusi sehingga umat Islam terus-menerus menjadi umat marginal. Dengan marginalnya umat Islam yang mayoritas, otomatis Indungsia bisa dikendalikan oleh sekelompok kecil oligarkis, oportunis dan komprador asing.

Agenda ini sebenarnya sangat membahayakan, karena konflik terbuka yang melibatkan umat Islam akan menimbulkan kerusuhan massal. Karena inilah Subagyo selalu berusaha menghindarinya meski George Soros dan agen-agen “organisasi” di Indungsia seperti para aktifis LSM korup, pers korup, birokrat dan politikus korup, cendekiawan dan pengamat politik korup, hingga tokoh agamawan korup, terus berusaha mengkompori Subagyo. Tapi di saat kondisi Subagyo yang terjepit oleh berbagai manufer lawan-lawan politiknya yang berhasil memanfaatkan kelemahannya sebagai pemimpin, langkah tersebut akhirnya disetujui Subagyo.

Langkah pertama adalah merancang kerusuhan sara di sebuah daerah tertinggal yang masyarakatnya yang religius namun juga masih memandang hormat budaya “jagoan” dan “jawara”. Beberapa orang anggota sekte Ahmadiyah bentukan imperalis Inggris di India, yang telah dilarang pemerintah untuk mengadakan kegiatan dakwah karena resistensi umat Islam mayoritas, sengaja memprovokasi warga dengan mengadakan acara pengajian akbar. Sebagian aktifis Ahmadiyah itu tentu saja adalah agen provokator dengan tingkah lakunya yang secara kasar dan “petenthang petentheng”. Sampai tahap ini saja sudah cukup untuk memicu kerusuhan massal. Apalagi dengan pengerahan agen-agen provokator di pihak masyarakat, lengkap dengan para juru kamera yang dalam hitungan menit telah menyebarkan rekaman video kekerasan ke media-media massa dan menciptakan kegemparan massal.

Aksi kerusuhan massal itu kemudian disusul dengan aksi-aksi sejenis di daerah lain. Kemudian para agen “organisasi” ramai-ramai menuntut tindakan keras pemerintah kepada ormas-ormas Islam yang langsung diamini oleh Subagyo.

Sikap para agen “organisasi” dan Subagyo tentu saja sangat bias dan tidak fair. Masyarakat hanya merespon provokasi yang dilakukan para aktifis Ahmadiyah. Justru para aktifis Ahmadiyah-lah yang telah melanggar ketentuan hukum yang melarang mereka melakukan kegiatan dakwah. Tapi anehnya justru masyarakat Islam yang disalahkan. Lagipula bukankah aksi-aksi kekerasan itu tampak jelas sebagai operasi inteligen “false flag”: merancang suatu peristiwa kekerasan yang kesalahannya ditimpakan pada orang atau kelompok yang bukan pelaku agar bisa menjadi alasan bagi diadakannya tindakan terhadap orang atau kelompok yang diincar. Ini mirip operasi inteligen di balik Tragedi WTC 2001.

Sadar atau tidak Subagyo telah menjerumuskan diri dalam permainan yang sangat membahayakan yang mungkin saja menjerumuskannya sebagaimana presiden Tunisia Ben Ali dan presiden Mesir Husni Mubarak. Jika ia memaksakan menindak keras ormas-ormas Islam, sementara membiarkan Ahmadiyah yang terus menerus melakukan provokasi, maka ia akan dicap sebagai musuh Islam, kafir yang halal untuk dilawan.

Dan dalam urusan ini umat Islam Indungsia tidak memiliki kompromi kecuali melawan, sebagaimana mereka pernah melawan penjajah kafir Belanda dan orang-orang komunis PKI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s