Eugène Pottier dan Esensi Lagu Internasionale

OLEH RAMIDJO TRIKOYO**

Dengan membaca tulisan Lenin “Eugène Pottier”, kita mengetahui penyair sajak “Internasionale” adalah seorang anggota Komune Paris. Sajak itu dipilih oleh 3.352 suara dari sejumlah 3.600 suara pemilih. Lewat tulisan itu kita menjadi tahu penyair buruh Eugène Pottier menciptakan sajak “Internasionale” pada saat sebulan sesudah terjadinya peristiwa berdarah bulan Mei 1871, atau menurut Lenin, “boleh dikata, bahwa esok hari sesudah kekalahan bulan Mei yang berdarah . . .” Tetapi, Pottier, putra terbaik proletartiat Perancis yang pada tahun 1848 sudah ikut serta dalam pertempuran besar kaum buruh melawan borjuasi, dengan sajak “Internasionale”nya bukan meratapi kekalahan bulan Mei. Sebaliknya, ia melihat kebesaran Komune Paris – kekuasaan diktator proletariat yang pertama di dunia – yang mampu bertahan selama 72 hari. Dengan optimisme revolusioner, ia memandang ke depan.

Proletar Penyair Pottier dengan sajak “Internasionale”nya adalah juru bicara dari proletariat yang menyadari akan tugas sejarahnya pada waktu itu dan meneriakkan tugas sejarahnya itu untuk dilanjutkan sampai terwujudnya Internasionale di dunia. Sampai tercapainya cita-cita komunisme. Lagu “Internasionale” menyebarkan ide-ide Komune Paris ke seluruh dunia, yaitu keharusan proletariat menggunakan kekerasan revolusioner untuk menghancurkan mesin negara yang lama dan menggantikannya dengan mesin negara yang baru dan menjalankan diktator proletariat.

Lewat saduran dalam bahasa Indonesia yang selama ini dinyanyikan, dimana kita temukan kesadaran kelas buruh seperti yang diteriakkan oleh Pottier itu? Saduran itu serba samar, serba tidak jelas. Tentang ketidakjelasan itu memang ada hubungannya dengan pandangan hidup penyadurnya pada waktu itu. Penyadurnya adalah Soewardi Soeryaningrat alias Ki Hadjar Dewantara. Tapi yang patut menerima tudingan di sini ialah pimpinan PKI periode 1951-1965 yang tidak menghargai “Internasionale” yang telah menjadi harta perbendaharaan sangat berharga bagi kelas buruh sedunia dan lagu proletariat sedunia.

Pimpinan lama partai seharusnya mewarisi api Komune Paris yang diabadikan oleh Pottier dalam “Internasionale”. Tetapi, kenyataannya mereka hanya mengambil abunya dengan mempopulerkan saja saduran “Internasionale” yang serba samar itu untuk dinyanyikan setiap orang komunis dan massa revolusioner Indonesia pada umumnya. Ketiadaan mereka melakukan penyaduran kembali dengan konsekuen adalah jelas dikarenakan garis politiknya yang oportunis revisionis, menggandol pada borjuasi.

Mari kita lihat saduran “Internasionale” oleh Ki Hadjar yang dikerjakan lewat bahasa Belanda. Betapa indah bentuknya bisa kita rasakan lewat bunyi kata-katanya yang diusahakan selalu berpantun. Kalau kalimat yang satu berakhir dengan suku kata “ar”, bunyi “ar” itu kita temukan lagi pada akhir kalimat yang lain: “lapar”, “besar”, “sadar”. Tetapi sehabis merasakan keindahan bentuk luarnya, sehabis mengagumi kata kata yang berpantun, apakah kita tahu hakekat kata-kata itu semua? Apakah kita tahu apa yang dimaksud dengan “Kehendak yang mulia dalam dunia senantiasa tambah besar”? Apakah kita tahu pula yang dimaksud oleh kalimat “Dunia sudah berganti rupa”? Kita hanya bisa merasa megah sambil meraba-raba.

Apabila kami menyebut saduran Ki Hadjar, yang kami maksudkan adalah juga saduran dalam bahasa Indonesia yang dianggap sah dan dipopulerkan oleh pimpinan PKI periode 1951-1965 karena yang tersebut belakangan jika dibandingkan dengan yang tersebut dimuka pada hakekatnya sama saja. Perubahannya hanya sedikit dan tidak fundamental, kalimat-kalimat yang serba tidak jelas seperti yang kami kemukakan di atas sebagai contoh itu masih tetap dipertahankan. Versi Indonesia lagu “Internasionale” sebagai yang kita kenal itu telah kehilangan api dan jiwa militan Komune Paris seperti yang terdapat dalam bahasa aslinya. Keadaan yang meyedihkan ini tidak boleh terus berlarut-larut.

Mengingat seriusnya masalah ini kami menganggap perlu dan penting untuk mengusahakan adanya saduran baru dari sajak lagu “Internasionale” dalam bahasa Indonesia yang sedapat mungkin mewakili suara Pottier, sesuai dengan jiwa sajak dalam bahasa aslinya.

Pada pertengahan tahun yang lalu seorang kawan di antara kita, kawan A. Yuwinu, mengedarkan konsep saduran baru lagu “Internasionale” hasil kerjanya, yang terdiri dari tiga bait dan telah dimasukkan ke dalam not musik. Bahan yang dipakai oleh kawan tersebut ialah teks terjemahan bahasa Tionghoa dan bahasa Rusia. Jadi, saduran yang sekarang ini bukanlah usaha yang pertama kali, melainkan kelanjutan
dari usaha kawan A. Yuwinu dan penyempurnaan atas hasil kerjanya, sesuai dengan permintaannya sendiri. Sebagai bahan dalam penyaduran sekarang ini telah digunakan terutama teks bahasa aslinya, yaitu bahasa Perancis, kemudian teks terjemahan bahasa Tionghoa dan bahasa Rusia dan selanjutnya juga teks terjemahan bahasa-bahasa Inggris, Jerman dan Belanda.

Dalam praktek penyaduran kembali teks lagu “Internasionale”, kawan-kawan penyadur telah menjumpai banyak kesulitan. Yang sudah pasti, arti menyadur sekarang ini bukan lagi mengoper bentuk luarnya. Yang harus diterjemahkan di sini ialah pendirian dan pandangan Pottier sebagai proletar penyair. Tetapi, di segi lain sajak yang disadur itu pun suatu sajak yang terikat pada jumlah not, terikat pada jumlah suku kata, terikat pula pada bunyi irama lagu itu sendiri. Kejadiannya, ada yang terpaksa dipendekkan, diambil sarinya. Seperti misalnya dalam bait pertama kalimat terakhir. Dalam aslinya kalimat itu berbunyi panjang:

“Dunia akan berubah mulai dari dasarnya:
Sekarang kita bukan apa-apa,
kelak akan menjadi segala.”

Bagaimana harus memendekkan mengambil sarinya dan sekaligus menyesuaikan dengan jalan pikiran serta rasa bahasa orang Indonesia? Terpaksa diubah dengan menggunakan kata-kata:

“Kita yang kini hina papa
akan menguasai dunia.”

Ini satu macam pengalaman. Yang kedua, di sekitar ungkapan dan kiasan. Ungkapan dan kiasan, seperti juga halnya dengan peribahasa atau bahasa itu sendiri adalah termasuk harta perbendaharaan bangsa. Bagi kita yang sudah terlalu lama di luar negeri, terlalu lama jauh terpisah dari kehidupan bangsa sendiri, ungkapan dan kiasan itu banyak dilupakan. Inilah salah satu segi negatifnya akibat terpisah dari masyarakat bangsa sendiri.

Pengalaman yang kongkrit tentang hal ini ialah mengenai ungkapan dan kiasan yang dikemukakan Pottier dalam bait ketiga. Di sana Pottier mengungkap kaum penghisap dengan kiasan “burung-burung gagak dan ruak-ruak bangkai”. Ini jelas suatu ungkapan Perancis, yang tidak boleh begitu saja dioper ke Indonesia. Orang Rusia mengopernya dengan kiasan “anjing-anjing dan algojo-algojo”. Di Tiongkok berubah menjadi “ular berbisa dan binatang buas”.

Bagi orang Inggris cukup dengan “burung-burung buas keparat”. Bagaimana yang sebaiknya untuk Indonesia?

Adalah memerlukan waktu yang cukup lama, kalau akhirnya baru bisa ditemukan kiasan yang “srek”, yaitu dengan menyebutkan: “Setan siluman”. Mereka memerlukan waktu yang lama karena kehati-hatian dalam mempertimbangkannya. Terutama sekali terjadi di sekitar bait pertama. Apa sebab? Bait pertama adalah bait yang akan paling sering dinyanyikan, bait yang akan paling menonjol. Selain itu bait pertama ini di Indonesia sendiri cukup dikenal dan sering dinyanyikan orang.

Seperti ini permulaan dari bait pertama,
“Bangunlah kaum yang terhina!
Bangunlah kaum yang lapar!”

Kalimat itu idak diubah. Dasar pertimbangannya karena kedua baris itu sudah berakar dalam, sudah mempunyai hak sejarah di dalam tubuh kebudayaan Indonesia.

Pada baris-baris selanjutnya diadakan perombakan. Suatu perombakan yang memerlukan pemikiran yang mendalam, sebab di dalam bait pertama itu terletak pendirian dan pandangan Pottier yang paling fundamental.

Dalam usaha menyadur sajak “Internasionale” yang dalam bahasa Perancisnya terdiri dari enam bait, kami menganggap tepat pemilihan tiga bait seperti halnya teks lagu “Internasionale” dalam bahasa-bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Rusia dan Tionghoa. Dasar pertimbangannya ialah karena ketiga bait itu merupakan isi pokok dari sajak dalam bahasa aslinya yang seluruhnya terdiri dari enam bait itu. Bait pertama, yang dalam aslinya juga bait pertama, berisi seruan mobilisasi kepada proletariat dan rakyat pekerja pada umumnya supaya bangkit berjuang untuk “menghancurkan seluruh dunia lama”. Bait kedua yang dalam aslinya menunjukkan tugas sejarah yang dipikul oleh proletariat, yaitu membebaskan seluruh umat manusia.

Untuk ini proletariat harus bersandar kepada kekuatannya sendiri dan perjuangannya sendiri, bukan kepada kemurahan hati maha juru selamat, tuhan atau raja. Bait ketiga, yang dalam aslinya adalah bait keenam, menanamkan keyakinan bahwa perjuangan proletariat untuk menggulingkan kekuasaan kelas-kelas penghisap dan menggantinya dengan kekuasaan rakyat pekerja – diktaktor proletariat – pasti akan mencapai kemenangan.

Sebagai bahan untuk bisa lebih mendalam memahami arti politik dan sejarah lagu “Internasionale”, kami muat dalam siaran ini tulisan Lenin “Eugène Pottier”. Kami sertakan juga teks lagu “Internasionale” dalam bahasa-bahasa Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, Rusia dan Tionghoa dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Terjemahan dari berbagai bahasa ini sengaja dikerjakan dengan tidak mementingkan nilai puitis atau bunyi pantun-pantunnya dan tidak menyesuaikannya dengan jumlah not lagunya. Sudah barang tentu masih terdapat kekurangan-kekurangan mau pun kesalahan-kesalahan. Selain itu, dimuat juga teks lagu “Internasionale” saduran Soewardi Soeryaningrat alias Ki Hadjar Dewantara dan saduran yang dipopulerkan oleh pimpinan PKI periode 1951-1965.

Dengan menyertakan teks lagu “Internasionale” dalam berbagai bahasa ini diharapkan supaya bisa dijadikan bahan perbandingan dan penelitian. Begitu pula kami masukkan dalam siaran ini saduran kawan A. Yuwinu.

Sekarang, pada tahun 1971, seratus tahun sesudah sajak “Internasionale” diciptakan oleh Eugène Pottier atau juga pada tahun dimana diperingati ulang tahun ke 100 Komune Paris yang besar, kami siarkan saduran baru kami. Saduran yang belum sempurna ini bisa kiranya dijadikan bahan pemikiran atau bahan studi.

Yang sudah jelas, kami menganggap versi Indonesia lagu “Internasionale” yang bersumber pada saduran Ki Hadjar Dewantara itu tidak sepatutnya dinyanyikan lagi.

Akhir Desember 1971. Kolektif
“Enam Maret”

EUGÈNE POTTIER
(Untuk memperingati 25 tahun meninggalnya)*
W.I. LENIN

Pada bulan November tahun yang lalu, 1921, telah lewat 25 tahun sejak hari meninggalnya penyair buruh Perancis Eugène Pottier, pencipta lagu proletar yang mengenalkan “Internasionale” (“Bangunlah kaum yang terhina”, dst). Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam semua bahasa Eropa dan tidak hanya bahasa-bahasa Eropa. Ke negeri manapun seorang buruh yang sadar datang terdampar, karena apa pun nasib melemparkannya, betapa pun ia merasa dirinya asing, tanpa mengenal bahasa, tanpa orang-orang yang dikenalnya, jauh dari tanah air, ia telah menemukan kawan-kawan dan sahabat-sahabat melalui nyanyian “Internasionale” yang dikenal.

Kaum buruh semua negeri bersama-sama ikut menyanyikan lagu perjuangannya yang termaju, seorang proletar penyair dan menjadikan lagu itu sebagai lagu proletariat sedunia. Sekarang kaum buruh semua negeri memperingati Eugène Pottier. Isteri dan anak perempuannya masih hidup dalam kemiskinan, sebagaimana pencipta lagu “Internasionale” hidup sepanjang umurnya.

Eugène Pottier lahir di Paris pada 4 Oktober 1816. Ketika ia menggubah lagunya yang pertama ia baru berumur 14 tahun, dan lagu itu diberi nama “Hidup Kebebasan!”. Pada tahun 1848 ia ikut serta sebagai pejuang barikade dalam pertempuran besar kaum buruh melawan burjuasi. Pottier dilahirkan dalam keluarga miskin dan selama hidup tetap sebagai orang miskin, seorang proletar, yang mendapatkan roti dengan mengepak peti-peti, kemudian dengan menggambar pola kain cita.

Semenjak tahun 1840 dengan lagu-lagu tempurnya ia menyatukan diri pada semua peristiwa besar dalam kehidupan Perancis untuk membangkitkan kesedaran kaum yang terbelakang, menyerukan kepada kaum buruh untuk bersatu, memukul burjuasi dan pemerintah burjuis Perancis.

* Artikel ini diterjemahkan dari W.I. Lenin Kumpulan Karya, edisi bahasa Rusia, jilid 36, cetakan ke 4,
Balai Penerbitan Negara Literatur Politik, Moskow, 1957.

Pada masa Komune Paris yang besar (1871), Pottier telah dipilih sebagai anggotanya. Dari 3600 suara, 3352 memilihnya. Ia ikut serta dalam semua kegiatan Komune, pemerintah proletar yang pertama itu.

Jatuhnya Komune memaksa Pottier melarikan diri ke Inggris dan Amerika. Lagu “Internasionale” yang terkenal ia ciptakan pada bulan Juni 1871, boleh dikata, pada esok hari sesudah kekalahan bulan Mei yang berdarah . . . Komune ditindas . . . , akan tetapi “Internasionale” Pottier menyebarkan ide-ide Komune ke semua penjuru dunia. Sekarang lagu ini mempunyai daya hidup lebih dari pada di waktu kapan pun.
Pada tahun 1876, di tempat pelarian, Pottier menulis sajak panjang: “Kaum buruh Amerika kepada kaum buruh Perancis”. Di dalamnya ia melukiskan penghidupan buruh di bawah penindasan kapitalisme, kemelaratan mereka, kerja mereka yang berat tak tertahankan, penghisapan terhadap mereka, keyakinan mereka yang teguh akan kemenangan di hari depan dari perjuangannya.

Sembilan tahun kemudian setelah Komune, barulah Pottier kembali ke Perancis dan segera masuk “Partai Buruh”. Tahun 1884, diterbitkan jilid pertama dari sajak-sajaknya. Tahun 1887 diterbitkan jilid keduanya dengan judul “Lagu-lagu Revolusioner”. Sejumlah lagu-lagu lain penyair buruh ini diterbitkan sesudah meninggalnya.

Pada 8 November 1887, kaum buruh Perancis mengantarkan abu jenazah Eugène Pottier ke kuburan Père Lachaise, dimana dikuburkan kaum komunar yang telah gugur ditembak. Polisi melakukan penindasan berdarah dan merampas bendera merah. Orang dalam jumlah yang sangat besar ikut serta dalam pemakaman tanpa upacara keagamaan. Dari segenap penjuru terdengar pekik: “Hidup Pottier!”.

Pottier meninggal dalam keadaan miskin. Tetapi ia meninggalkan warisan suatu monumen yang sungguh-sungguh tak terciptakan oleh tangan manusia. Ia adalah seorang propagandis yang paling besar yang menggunakan lagu sebagai alat. Ketika ia menggubah lagunya yang pertama, jumlah kaum sosialis di kalangan buruh paling banyak puluhan orang. Sekarang lagu yang bersejarah dari Eugène Pottier dikenal oleh puluhan juta kaum proletar . . . . .

“Pravda” No.2, 3 Januari 1913 Dicetak menurut teks dari
Tandatangan: N.L. Suratkabar “Pravda”

INTERNASIONALE
Saduran Kolektif “Enam Maret” *

Bangunlah kaum yang terhina!
Bangunlah kaum yang lapar!
Mengg’lora dendam dalam dada;
kita berjuang ‘tuk kebenaran.
Hancurkan seluruh dunia lama;
kaum budak, bangun, bangun!
Kita yang kini hina papa
akan menguasai dunia.
Perjuangan penghabisan, |
bersatu berlawan; | 2 x
Internasionale pastilah di dunia! |
Tiada maha juru
s’lamat,
Tidak tuhan atau raja.
Kebah’giaan umat manusia
harus kita sendiri cipta.
Lenyapkan jiwa pembudakan;
rebut kembali hasil kerja.
Kobarkan api, seg’ra tempa
selagi baja membara !
Perjuangan . . . . .
Kitalah kaum buruh dan tani,
tentara kerja
perkasa.
Bumi hanya milik pekerja,
benalu tidak berhak serta.
Cukup sudah darah k’ringat
terhisap;
saat pasti akan tiba,
setan siluman musnah lenyap
dan surya cerlang s’nantiasa !
Perjuangan . . . . .
Desember 1971

* Teks ini disusun kembali dengan ejakan Bahasa Indonesia yang disempurnakan. Lagunya
lihat halaman berikut.
——————————

I N T E R N A S I O N A L E
1 = Bes 4/4
Khidmat dan gagah Sajak: Eugène Pottier
Lagu : Pierre Degeyter
Juni 1871
Saduran bhs. Indonesia: Enam Maret
Desember 1971
5 || 1 . 7 2 1 5 3 | 6 . 4 0 6 | 2 . 1 7 6 5 4 | 3 . 3 0 5 |
Bangunlah kaum yang terhina!
Bangunlah kaum yang lapar!
MengTiada maha juru s’lamat,
tidak tuhan atau raja.
Ke Kitalah kaum buruh dan tani
tentara
kerja perkasa
Bu |
1 . 7 2 1 5 3 | 6 . 4 .6 2 1 | 7 2 4 7 | 1 . 1 0 3 2 |
‘glora
dendam dalam dada;
kita berjuang
‘tuk kebenaran.
Hancur bah’giaan
umat manusia
harus kita sendiri cipta
Lenyapi
hanya
milik pekerja,
benalu
tidak
berhak serta
Cukup su|
7 . 6 7 1 6 | 7 . 5 .5 #4 5 | 6 . 6 2 . 1 | 7 . 7 0 2 |
kan s’luruh dunia la ma
kaum budak
bangun bangun!
Kita bukan
jiwa pembudakan;
rebut
kembali hasil kerja.
Sudahi
darah k’ri ngat
terhisap;
saat pasti akan
tiba.
Se |
2 . 7 5 5 #4 5 | 3 . 1 .6 7 1 | 7 2 1 6 | 5 . 5 0 3 .2 |
Kita yang kini hina papa
akan menguasai
dunia; Perjubarkan api,
seg’ra tempa
selagi baja
membara!
; Perjutan siluman musnah lenyap
dan surya cerlang s’nantiasa!
; Perjuangan
|
1 5
. 3 | 6 . 4 0 2 .1 | 7 . 6 5 | 5 . 5 0 5 |
penghabisan
bersatu
berlawan!
In |
3 2
5 | 1 7
. 7 | 6 . #5 6 2 | 2 2
0 3 .2 |
ternasionale
pastilah
di dunia
Perju

| 1 5
. 3 | 6 . 4 0 2 .1 | 7 . 6 5 | 3 3
|
angan
penghabisan
bersatu
berlawan!
In –
| 5 4
3 | 2 . 3 4 0 4 | 3 . 3 2 . 2 | 1 0
||
ternasionle
pastilah
di dunia!

** Penulis adalah mantan Tapol 1965 pernah ditahan di Pulau Buru, semasa kecil dibesarkan di Boven Digoel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s