Injil Mathius, PKS, dan Nawaqidhul Iman: Mencermati Tanda-Tanda Akhir Zaman

Ruangan rapat mendadak heboh, seluruh anggota DPR terbelalak. Baru kali ini mereka mendengar ada anggota DPR dari partai Islam mengutip ayat injil tentang anak sebagai bukti bahwa partai tersebut tidak berideologi ekslusif.

Sontak hal itu menimbulkan polemik. Keheranan pun menyusul dari sebagian umat muslim terhadap sepak terjang PKS yang didirikan dulunya untuk teguh memegang ajaran Islam.

Adalah Ustadz Nasir Djamil, anak muda dari Nangroe Aceh Darussalam tersebut yang menjadi newsmaker PKS kali ini. Kejadian itu bersamaan ketika pembacaan pandangan fraksi-fraksi di Komisi Hukum DPR terhadap RUU Peradilan Anak, Senin (28/3/2011).

Ustadz Nasir Djamil sebagai Juru Bicara Fraksi PKS menyampaikan pokok pikiran Fraksi PKS, sempat mengutip al-Kitab Mathius: “Perlakuan terhadap anak-anak menjadi cerminan kesetiaan umat Kristiani terhadap Tuhan sebagaimana dalam Mathius 18 ayat 5,”.

Tidak hanya itu yang menjadi menarik adalah kata-kata yang tersambung setelah itu: “Saya ini alumnus IAIN (Ar-Raniry Banda Aceh), menghadirkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamien, Ini bukti kami tidak berpandangan sempit.”Naudzubillah min dzalik.

Blunder Ideologi Terbuka

Sebernarnya, kejadian ini tidak lain hanyalah dampak dari inisiasi PKS menjadi partai terbuka pada tahun 2008 dan menjadi “konstitusional” saat Munas di Hotel Ritz Carlton tahun 2010 silam.

Ucapan tersebut seperti konsekuensi logis dari itikad untuk diterima berbagai pihak, baik sekularis, nashrani, dan elemen kebangsaan demi menepis tuduhan PKS “saklek” terhadap Syariat Islam.

Statement-statement “ideologi sempit” jelas sekali bukanlah ciri khas tarbiyah selama ini. Begitu juga dengan mengutip ayat Injil demi meyakinkan sebuah produk RUU lalu menempelkannya sebagai manifestasi dari penerjemahan kalimat Islam Rahmatan Lil Alamin.

Islam rahmatan Lil Alamin disini adalah tanda kutip bagi kita semua. Islam Rahmatan Lil Alamin yang mana? Sebab Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam ketika kita memegang Al-Qur’an dan Sunnah layaknya mengenggam bara api.

Seharusnya, PKS yang diisi oleh para da’i bisa menjadi contoh kekuatan mereka dalam menjalankan prinsip Syariat Islam layaknya Asy-Syahid Sayyid Quthb, Abul Ala Al-Maududi, Said Hawa, Asy-Syahid Abdul Aziz Ar-Rantisi, atau Taqiyudhin An-Nabhani yang tidak minder bersentuhan langsung dengan konco-konco sekuler, terlebih-lebih kaum kafir.

Mereka berani menggadai nyawa dan tidak menjadikan “maslahat dakwah” sebagai rabb-nya. Merekalah muslim sejati yang bukan saja membasahi lidahnya atas kalimat tauhid, tapi sudah menjadikan kalimat tauhidla ilaha illallahsebagai pembuktian seluruh kehidupan.

Inikah bukti dari semakin kalahnya pertarungan ideologis PKS dalam kontestasi politik di Indonesia?

Model demokrasi liberal yang berkembang saat ini, memang amat mungkin membuka ruang untuk melakukan politik transaksional bagi tiap partai politik apapun, termasuk PKS.

Syarat kemenangan demokrasi yang ditentukan dari banyaknya limpahan suara adalah angka mati yang harus dipaku dalam tiap AD/ART parpol.

Klaim-klaim untuk melakukan “tabayun”, menebarkan sikap “khusnudzan” dan sejenisnya, mungkin berlaku bagi kader PKS.

Namun bagi kalangan-kalangan yang concern menepis bahaya pluralisme agama ucapan Ustadz Nasir Djamil bisa menciptakan blunder fatal.

Bahkan lontaran-lontaran seperti itu justru sering kita dengar dari kalangan Jaringan Islam Liberal yang notabene sudah divonis haram oleh MUI.

Tentu umat muslim sekarang sudahlah cerdas. Derasnya kritik yang terus mengalir terhadap PKS adalah bukti kegagagalan “Politik Husnudzan”, “Politik Tabbayun”, “Politik Media salah Kutip” yang kerap dilakukan sebagai self defense mechanism PKS.

Dan pada titik inilah PKS harus dengan keikhlasan hati mengintropeksi diri. Tidak lagi melihat kritik sebagai ancaman memecah belah umat dengan stempel “barisan sakit hati”.

Tidak lagi melayangkan kata tak realistis, ketika saudaranya mengajak kembali ke Syariat Allahuta’ala dengan meninggalkan fitnah demokrasi ini. Selama tidak ada ego ini dalam diri PKS, insya Allah PKS masih akan kembali jaya, bukan lagi untuk ukuran manusia, tapi ukuran Allahuta’ala.

Adalah wajar jika kritik datang. Bagaimanapun individu yang terpatri keimanan dalam hatinya amat tidak nyaman jika ada kebathilan melintas di depan matanya. Bagaimanapun kekuatan Al-Haq memang diciptakan untuk melawan kebathilan.

Apalagi, konteks tindakan-tindakan menjurus inklusifisme sendiri tidak lagi dilakukan tidak satu dua kali oleh PKS. Kita masih ingat betul, sebelumnya PKS pernah mengundang kalangan nashrani untuk menjadi anggota DPRD.

Lalu sebuah Award terhadap Azyumardi Azra, pengasong multikulturalisme, ketika Munas di Ritz Charlton.

Karena pada dasarnya, kita khawatir umat muslim yang akhir-akhir ini mendapat fitnah akan semakin berat menopang ujian.

Mengingat di lapangan, perlawanan kaum muslim melawan penyokong Islam Liberal sedang mendapat fitnah hebat dewasa ini. Kasus Bom Utan Kayu adalah momentum untuk kelahiran JIL kembali setelah sempat mati akibat tertutupnya kucuran dana dari pihak sponsor.

Pada konteks ini, Ustadz Nasir Djamil harusnya menjadi contoh sebagai orang Aceh yang kuat menaruh perhatian pada syariat Islam.

Ustadz Nasir Djamil juga mesti menyadari Aceh adalah dataran masuknya Islam pertama kali ke Nusantara. Sebaiknya, kita tidak boleh tertipu kampanye kalangan liberalis tentang slogan multikulturalisme, pluralisme, hingga inklusifisme.

Jangan pernah bangga pula dengan serentetan pujian dari pengamat politik atau cendikiawan muslim dari basis liberal ketika melihat PKS semakin “membumi” dengan nilai KeIndonesiaan. Justru itulah yang sebenarnya mereka harapkan.

Jebakan Demokrasi dan Nawaqidhul Iman

Akhirnya, kalau kita mau merenung, bermuhasabah, dan menarik lebih dalam lagi, kiprah PKS dalam dunia inklusifitas tidak lain adalah hasil dari jebakan sistem penghambaan sesama hamba bernama demokrasi.

Ketika PKS berani menantang badai untuk meneruskan tongkat estafet “berdakwah” melalui fondasi hukum buatan manusia, yakinlah fitnah itu akan terus datang menerpa. Ia mengejar kemanapun kita pergi. Allah SWT berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al-Ahzab [33] : 36)

Sikap diamnya kader-kader PKS yang terkesan abai juga harus menjadi bagian dari muhasabah. Memang para kader selama ini terbagi akan tiga pada sikap.

Pertama sikap tsiqoh kepada qiyadah sebagai manifestasi iman dan loyalitas kepada jama’ah.

Kedua, apatis terhadap kondisi PKS saat ini dan bingung mau bersikap apa, namun masih setia dalam tali demokrasi.

Ketiga, jahil karena ketidakcakapan ilmu mengingat sistem tarbiyah di partai cenderung loncat dari yang seharusnya menekankan al-fahmu di edisi pengantar pengenalan terhadap Islam, tapi kini justru menekankan tsiqoh dan taat terhadap jamaah di awal pembukaan.

Untuk point pertama, sikap-sikap perdiaman terhadap kebathilan, begitu taat akan kesalahan, beserta kultus terhadap seseorang bisa berubah menjadi pembatalan keimanan.

Sulaiman bin Nashir bin Abdullah Ulwan ketika mensyarah kitab Nawaqidhul Iman Syeh Muhammad bin Abdul Wahab menjelaskan satu point khusus untuk masalah ini. Beliau memberi judul syirik ketaatan, yakni mentaati kepada selain Allah SWT dalam hal maksiat kepada Allah SWT. Padahal kita di dunia ini bukan disuruh mensucikan manusia tapi mensucikan Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Tiadalah dari suatu kaum yang mengerjakan kemaksiatan sementara ditengah mereka ada yang mampu mencegahnya, namun ia tidak mengerjakannya, maka Allah akan menimpakkan azab dari sisi-Nya kepada mereka seluruhnya.”

Oleh karena itu, mukmin yang diam terhadap kemungkaran atas dalih ta’at terhadap pimpinan, sudah sepatutnya melihat dan merenungi Surat Ali Imran ayat 104“…hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”.

Ucapan Ustadz Nasir Djamil pun tidak bisa dianggap remeh atau ditolerir demi menciptakan imej agar raupan suara dari kalangan nasionalis deras mengalir. Ucapan yang jua menyatakan syariat Islam sudah masa lalu pun berkapasitas serupa.

Tanpa bermaksud untuk mendeskreditkan secara pribadi, namun jika dilakukan dengan sangat meyakinkan, penulis khawatir hal itu bisa masuk kategori pembatalan keimanan.

Oleh karena itu tulisan ini adalah lebih kepada bagian peringatan, mengingat DR Abdul Aziz Bin Muhammad Bin Ali Al-Abdul Lathil, dalam kitabnya Nawaqidhul Iman Al-Qauliyah wal Amaliyah (Terj. Keyakinan, Ucapan, dan Perbutan Pembatal Keislaman: Pustaka Shafa, 2010) bahwa vonis pembatalan iman bisa dihindari jika orang tersebut bertaubat ketika ada peringatan terlebih dahulu. Firman Allah:

“Dan kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seseorang rasul.” (QS. Al-Isra [17] : 15)

“Supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an (kepadanya).” (QS. Al-An’am [6] : 19)

Kita kadang tanpa sepengetahuan diri tak menyadari, sedikit saja ucapan yang menjurus kepada kategori pluralisme bisa mengarah ke kekafiran. Inilah point pertama yang diletakkan Syekh Muhammad Bin Abdul wahab pada kitab Nawaqidhul Iman. Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah [5] : 72)

Ucapan Menjurus Kekafiran dan Tanda-tanda Akhir Zaman

Serentetan tindakan yang sangat dekat dengan pembatalan keIslaman, memang menjadi trademark akhir zaman.

Rasulullah SAW dengan baiknya, telah mengingatkan kita sebagai umat muslim, penegak risalah suci ini, tentang kisah manusia-manusia di penghujung zaman saat mereka secapat waktu berubah dari kafir menjadi mukmin, lantas tak lama kemudian sebelum matahari naik, ia telah menjadi kafir kembali. Naudzubillahi mindzalik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan paginya menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad, No. 8493)

Rasulullah SAW juga mengingatkan akan kaitan lisan dan jabatan publik di masa kadaluwarsa dunia yang bisa membahayakan keimanan seorang mukmin. Pejabat publik seperti anggota DPR amatlah berkaitan erat dengan fitnah akhir zaman dimana hukum Islam tidak tegak dan justru terjadi penegakan masal “hukum transaksional” antara produsen pembuatan sistem kafir dengan konsumen yakni masyarakat muslim dari hulu hingga hilir. Simaklah sabda Rasulullah SAW berikut ini:

Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Amru bin Al Ash ia berkata, “Saat kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menyebutkan tentang fitnah. Beliau bersabda: “Jika kalian melihat manusia telah rusak janji-janji mereka dan telah luntur amanah mereka, sementara mereka begini -beliau menganyam antara jemarinya-,” Abdullah berkata, “Aku lantas bangkit ke arah beliau seraya bertanya, “(Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu) apa yang harus aku lakukan pada saat itu?” beliau menjawab: “Tetaplah engkau berdiam di dalam rumahmu, kuasailah lisanmu, ambilah (lakukan) apa saja yang kamu ketahui dan tinggalkan apa saja yang kamu pungkiri (tidak ketahui), urusilah perkaramu sendiri dan jauhilah urusan orang banyak.”(HR. Abu Daud, No. 3780)

Kata-kata lontaran dari Rasulullah SAW tentang perintah menguasai lisan diri dan peran-peran mengatur segala urusan itulah yang harus menjadi cetak tebal dalam keimanan kita. Dua hal itu tampaknya simetris dalam kurun waktu beberapa hari ini. Jamak sudah kita lihat, orang-orang yang melanggar janjinya.

Yang dulu teguh memegang prinsip syariat Islam, namun kini menyatakan syariat Islam sudah masa lalu. Yang teguh menjadikan Islam sebagai ideologi tunggal tanpa tambahan ideologi lain, namun apa dikata banyak kaum muslim kini menjadikan Islam sebagai ideologi plus-plus. Plus sosialisme, demokrasi, hingga pluralisme.

Selain itu ada pula sebuah hadis yang diriwayatkan Ibn Majah tentang bahaya lisan yang justru terkait erat atas ganjaran api neraka. Simaklah hadis panjang berikut ini:

Telah menceritakan kepada kami dari Mu’adz bin Jabal dia berkata, “Aku bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di suatu perjalanan, hingga di suatu pagi aku berada di sisi beliau. Saat berjalan aku berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka?” Beliau menjawab: “Sungguh, kamu telah menanyakan suatu perkara yang sangat besar (bagus) padahal itu sebenarnya sangat mudah bagi orang yang Allah mudahkan; yaitu kamu menyembah Allah dan jangan menyekutukannya dengan sesuatupun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan dan menunaikan iabdah haji.” Kemudian beliau bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai dan sedekah dapat memadamkan kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam.” Lalu beliau membaca: ‘(Lambung mereka jauh dari tempat tidurny…) ‘ sampai pada bagian ayat ‘(sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan) ‘ (QS. As-Sajadah: 16-18).

Kemudian beliau melanjutkan: “Maukah aku beritahukan kepadamu pokok perkara, tiang-tiangnya dan puncak tertinggi segala urusan? Itu adalah jihad.” Kemudian beliau bersabda: “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang orang yang memiliki semua itu?” aku menjawab, “Tentu.” Beliau lalu memegang lidahnya dan bersabda: “Kamu harus menahan ini dari dirimu.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami akan dihukum karena hal yang kami bicarakan? “Beliau bersabda: “Sungguh kebangetan kamu wahai Mu’adz, tidaklah muka-muka manusia disungkurkan ke dalam api neraka melainkan karena hasil perbuatan lidah-lidah mereka!”(HR. Ibnu Majah, No. 3963)

Oleh karena itu sadara-saudaraku di PKS yang dicintai karena Allah, jalan terbaik bagi PKS adalah kembali ke Jalan Allah.

Ini bukan jalan utopis dan tidak realistis, namun mencermati fitnah-fitnah akhir zaman sudah seharusnya menjadi lahan bagi kader, konstituen, qiyadah, parpol Islam, dan kita semua untuk senantiasa mempertebal iman dengan mengantisipasi timbulnya fitnah beruntun yang bisa membatalkan keimanan.

Semoga kita selalu dilindungi oleh Allahuta’ala dan diampuni dari segala dosa. Hanya kepada Allah kita sebagai makhluk yang lemah akan kembali. Wallahua’lam. (pz)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s