Penyebab Gagalnya Dakwah : Israaf (Berlebihan)

Oleh Dr. Sayyid Nuh

Israf mempunyai makna melakukan sesuatu, tetapi tidak dalam rangka ketaatan, atau boros dan melampui batas. (kitab al-Qumus al-Muhiith, 3/15). Tetapi, israaf ialah penyakit rohani berupa perbuatan yang melampui batas kewajaran, baik dalam hal makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan lai sebagainya.

Faktor-Faktor Penyebab Israaf

Pertama, latar belakang keluarga. Sikap israaf dapat timbul akibat pengaruh situasi dan kondisi serta latar belakang keluarga. Seseorang yang dibesarkan disebuah lingkungan keluarga yang diwarnai oleh sikap senang berlaku israaf dn berfoya-foya , maka kmungkinan besar dirinya akan tertulari oleh penyakit itu, kecuali mereka dikasihi oleh-Nya. Seorang penyair melukiskan fenomena tersebut dalam untaian syairnya seperti :
“Seseorang akan tumbuh berkembang, sebagaimana yang dibiasakan oleh orang tuanya”.

Dari keterangan diatas agaknya kita dapat memetik hikmah rahasia ajaran Islam yang meminta kepada para orang tua agar mereka menjadikan tuntutan syariah Allah sebagai rujukan dalam memilih jodoh bagi putra-putrinya :

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang sendirian (belum kawin) diantara kamu, dan (kawinkanlah) orang-orang yang shaleh (baik) di antara hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.” (QS. An-Nuur [24] : 32)

وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik walaupun ia menarik hatimu. Jangahlan kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik walaupun dia menarik perhatian hatimu. Mereka akan mengajakmu ke neraka, sedang Allah mengajakmu ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 221)

Kedua, keluasan rezeki yang diperoleh setelah kesempitan. Sebab lain yan dapat mendorong sikap israaf adalah keluasan atau kemudahan dalam mendapatkan rezeki atau kesenangan hidup yang sebelumnya sangat sulit didapatkan. Di kalangan umat ini kerap terjadi kasus orang-orang yang selagi mereka dicoba oleh Allah dengan kesempaitan rezeki dan aneka kekurangan hidup lainnya, mereka mampu bersikap sabara dan tabah menerima keadaan tersebut.

Mereka masih tetap bertahan memegang kendali prinsip-prinsip Ilahi. Akan tetapi manakala mereka dicoba oleh Allah dengan kelapangan rezeki dan kemudahan mendapatkan kesenangan hidup, justru mereka tidak mampu bersikap tawassuth (pertengahan) dan I’tidal (seimbang) dalam mempergunakan harta dan kenikmatan hidup yang ada pada dirinya untuk menuju keridhaan –Nya. Sebaliknya, sikap hidup mereka berbalik drastis dan berlaku israaf dan tabdziir (menyia-nyiakan harta).

Amr bin Auf r.a. meriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, bersabda : “Sebarkanlah berita gembira dan bercita-citalah dengna sesuatu yang membuat kalian senang. Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku kawatirkan atas kalian, tetapi aku kawatir jika dunia telah dihamparkan kepada kalian sebagaimana dihamparkan kepada umat terdahulu, kemudian kalian akan saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, sehingga akhirnya, hal iu akan membinasakan kalaian, sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Abu Sa’id al Hudri r.a juga meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalahu Alaihi Wa salam, bersabda : “Sesungguhnya kehidupan dunia itu manis dan menawaan, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian Khalifah diatasnya. Maka takutlah kalian dengan manisnya kehidupan dunia dan waspadalah terhadap wanita , karena sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Israel adalah wanita.” (HR. Muslim)

Israaf : Pengaruh Isteri dan Anak

Seorang muslim akan diuji oleh Allah isteri dan anak-anaknya. Yaitu melalui adat kebiasaan mereka. Jika kita tidak waspada, teliti, serta sabar dalam menghadapinya, maka kita akan mudah sekali dipengaruhi oleh mereka.

Jika kebetulan anak dan isteri kita itu senang berperilaku israaf, maka boleh jadi perilakunya itu akan mudah sekali menghinggapi kita. Oleh karena itu, ajaran islam memberikan peringatan agar kita memiliki sikap selektif dalam memilih calon seorang isteri. Nash-nash yang berkaitan dengan hal ini juga telah kita lewati s aat membahas faktor penyebab yang pertama (latar belakang keluarga).

Islam memberikan peringatan agar para orang tua mendidik anak dan isteri dengan norma-norma yang telah ditentukan oleh-Nya. Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴿٦﴾

“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.Penjaga-penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tharim : 6)

Sabda Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Uma ra :

“Sesungguhnya masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing-masing kalian bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya itu. Seorang imam adalah pemimpin manusia, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia bertanggungjawab atas yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas keluarga suaminya dan anak-anaknya, dna ia bertanggung jawab atas mereka..” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalai Terhadap Tabiat Kehidupan Dunia dan Apa yang Harus Terjadi.

Kehidupan dialam dunia ini tidaklah kekal dan tidak pula terus-menerus berada dalam suatu situasi dan kondisi yang statis. Sesuai dengan sunatullah. Ia senantiasa berganti dan berubah. Bisa jadi hari ini kita mendapat kenikmatan hidup, namun boleh jadi esok hari kita ditimpa musibah. Maha benar Allah berfirman:

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“ .. Dan masa (kemenangan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran”. (QS. Al-Imran : 140)

Oleh karena itu, kita wajib berhati-hati dan waspada, yakni dengan jalan sennatiasa menempatkan anugerah kenikmatan hidup (harta-benda, masa senggang, kesehatan, dan sebagainya) sesuai dengan porsinya, kemudian menyimpannya untuk kepentingan hari esok.

Itulah sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan ini, dan demikian lah cara seorang muslim menghadapinya. Barangsiapa yang mengabaikan hal itu niscaya mereka akan sangat mudah masuk ke dalam jurang lembah israaf.

Kurang Mampu Mengendalikan Aneka Tuntutan Jiwa

Sebab lain yang dapat menjerumuskan seseorang dalam siksa israaf yakni dirinya kurang mampu mengendalikan aneka tuntutan jiwa. Sepertikita maklumi pada umumnya, dilihat dari sudut rohani atau kejiwaannya, manusia senantiasa memiliki keinginan menuntut dan menurut terhadap apa-apa yang diinginkannya. Situasi itu hanyalah akan dapat diatasi manakala kita memilih suatu ketegasan, ketelitian, dan sikap senantiasa memantau gejolak tuntutan syahwat.

Sebaliknya jiak kita selalu meloloskan semau keinginan serta tuntutan itu, maka kita akan senantiasa dirongrong atau dijajah olehnya. Rupanya inilah maksud dibalik penegnasan Islam kepada kita agar senantiasa melakukan mujahadatun nafs, sebelum memulai segala sesuatu. Firman Allah :

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaannya sendiri”. (QS. Ar-Ra’d : 11)

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا ﴿١٠﴾

“Sungguh telah menanglah orang yang menyucika jiwanya dna rugilah orang yang mengotorinya”. (QS. Asy-Syam : 9-10)

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩﴾

“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh berjuang) pada jalan kami, niscaya akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang berbua ihsan”. (QS. Al-Ankabut : 69)

Lalai Terhadap Bekal Perjalanan

Lalai terhadap bekal perjalanan dakwah juga dapat melahirkan sikap israaf. Jalanyang mengantarkan seseorang ke arah ridho Allah Swt dan surga-Nya itu bukanlah jalan yang erhampar diatas permadani serta dipenuhi dengan aroma bunga ata wewangian.Tetapi jalan yang sarat dengan duri dan air mata, penuh dengan cucura darahdan tumpukkan tengkorak.

Oleh karena itu, dalam penitiannya tidak bisa dilakukan dengan cara mengumbar kemewahan, kelunakan, dan kesantaian, tetapi dengan kenjatanan dan kekerasan. Itulah bekal perjalanan.

Dalam banyak ayat Al-Qur’an, hal mengenai karakteristik jalan dakwah tersebut berulang kali diungkapkan, misalnya :

مْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ ﴿٢١٤﴾

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetak adan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan macam-macam cobaan), sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang bersamanya, ‘Bilakah datangya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah amat dekat.” (QS. Al-Baqarah : 214)

Israaf : Lalai Terhadap Tabiat Kehidupan Dunia

Kehidupan di alam dunia ini tidaklah kekal dan tidak pula terus-menerus berada dalam suatu situasi dan kondisi yang statis. Sesuai dengan sunnatullah, ia senantiasa berganti dan berubah, bisa jadi hari ini kita mendapatkan kenikmatan hidup, namun boleh jadi esok hari kita ditimpa musibah. Maha benar Allah yang firmanNya :

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan masa kemenangan dan kehancuran itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran.” (QS. Al-Imran [3] : 140)

Oleh karena itu, kita wajib berhati-hati dan waspada, yakni dengan jalan senantiasa menempatkan anugerah kenikmatan hidup (harta benda, masa senggang, kesehatan, dan sebagainya) sesuai dengan porsinya, kemudian menyimpannya untuk kepentingan hari esok. Itulah sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan ini, dan demikianlah cara seorang muslim menghadapinya. Barangsiapa yang mengabaikan hal tersebut niscaya mereka akan sangat mudah masuk ke dalam jurang lembah israaf.

Kurang Mampu Mengendalikan Aneka Tuntutan Jiwa.

Sebab lain yang dapat menjerumuskan seseorang dalam sikap israaf yakni dirinya kurang mampu mengendalikan aneka tuntutan jiwa. Seperti kita maklumi pada umumnya, dilihat dari sudut rohani atau kejiwaannya, manusia senantiasa memiliki keinginan menuntut terhasap apa-apa yang diinginkannya . Situasi tersebut hanya akan dapat diatasi manakala kita memiliki suatu ketegasan, ketelitian, dan sikap senantiasa memantau gejolak tuntutan syahwat. Sebaliknya, jika kita selalu meloloskan semua keinginan serta tuntutan-tuntutan tersebut, maka kita akan senantiasa dirongrong atau jajah oleh jiwa kita.

Rupanya inilah maksud di balik penegasan Islam kita agar senantiasa melakukan mujahatun-nafs sebelum memulai segala sesuatu. Firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum , sehingga mereka mengubah keadaannya sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13] : 11)

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Sungguh telah menanglah orang yang menyucikan jiwanya dan rugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syam [91] : 9-10)

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh berjuang) pada jalan Kami, nsicaya akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Ankabut [29] : 69)

Lalai Terhadap Kehebatan Hari Kiamat

Hari Kiamat merupakan saat-saat yang penuh dengan kepedihan dan ketakutan yang tak dapat dilukiskan dan disifatkan oleh inderawi. Oleh karena itu, Islam senantiasa mengajak kita untuk senantiasa mengingat dan mentadabburinya (merenunginya) agar kita dapat meniti perjalanan hidup ini di atas rel yang telah ditentukan oleh-Nya.

Inlah rahasia peringatan yang berulangkali Rasulullah SAW ungkap agar kita senantiasa mengingat mengenai hal tersebut. Beliau SAW bersabda :

“Jikalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui (tentang hari kiamat dan kehidupan akhirat) niscaya akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Tirmidz)

“Dan kalian tidak dapat bersenang-senang di atas kasus bersama isteri.” (HR. Tirmidzi)

Israaf : Lalai Terhadap Realitas Kehidupan dan Bermewah-mewah

Umat manusia saat ini dapat diibaratkan sedang berdiri dipinggir suatu jurang yang amat dalam. Jika bumi digoncangkan dari bawah, niscaya mereka akan jatuh dan terjerumus ke dalam jurang kebinasaan dan kehancuran.

Keberadaan kaukm muslimin sendiri saat ini kebanyakan tengah berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Mereka tengah diliputi oleh kehinaan, kepiluan, dan kerendahan martabat, baik karena masalah ekonomi, sosial, politik dan yang lainnya. Oleh karena itu, bagi mereka yang “beku” perasaannya dan “mati” rasa belas kasihannya ia akan mudah berlakuk israaf, yakni hidup dengan bermewah-mewah dan mengumbar kesenangan duniawi.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam senantiasa memperhatikan dan memprihatinkan keadaan umat manusia, baik sejak sebelum Beliau SAW diutus menjadi sorang rasul maupun setelahnya, sehingga Beliau sempat mendapat teguran dari Allah. Sebagaimana firman-Nya :

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

“Maka (apakah) barangkali engkau membunuh dirimu karna bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).” (QS. Al-Kahfi [18] : 6)

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman.” (QS. As-Syura [26] : 3)

أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihanmu terhadap mereka.” (QS. Fathir [35] : 8)

Lalai Terhadap Dampak Buruk Akibat Israaf :

Sikap israaf akan menimbulkan dampak yang sangat membahayakan serta membinasakan, sebagaimana yang akan kami kemukakan lebih lanjut. Menurut tabiatnya, manusia itu tidak akan melakukan sesuatu jika ia menyadari akibat-akibat buruk yang akan ditimbulkan dai pekerjaannya. Jika merek amasih ssaja melakukan suatu pekerjaan padahal mereka telah mengetahui dampak-dampak buruk yang bakal menghadangnya, mak amereka tergolong orang-orang yang nekad alias tidak mau mengambil pelajaran, jka tidak mau disebut orang-orang yang bodoh.

Begitu pula halnya dengan dampak buruk yang akan ditimbulkan dari penyakit israaf ini. Jika mereka mengetahuiny, pasti mereka akan berhati-hati agar tidak sampai terpuruk ke lembah jenis penyakit rohani yang membahayakan ini.

Atas dasar inilah,maka setiap aktivis muslim sudah semestinya mengetahui, menyadari, dan menghindarkan diri agar jangann sampai dirinya terjangkiti penyakit israaf ini. Semoga dengan membaca ini, kiranya dapat memetik ibrah (pelajaran) untuk mewasdai dari ancamannya

Akibat Buruk Israaf : Condong pada Kejahatan dan Dosa

Dampak yang akan mengikuti israaf adalah lebih menguatnya dorongan untuk melakukan kemaksiatan atau dosa. Israaf akan memberikan energi yang besar pada diri seseorang. Biasanya eenrgi yang besar tersebut menghendaki penyalurannya yang perwujudannya sangat dikendalikan oleh nafsu syahwati yang bersemanyam di dalam benak.

Seperti yang pernah kita bahas bahwa keinginan-keinginan yang sangat dikendalikan oleh nafsu syahwati, umumnya mengajak kita kepada perilaku maksiat dan dosa.

Rupanya inilah salah satu rahasia hikmah dari anjuran Rasulullah shallahu alaihi wa sallam kepada para pemuda Islam yang belum mampu menikah untuk melakukan puasa agar dirinya dapat mengontrol keadaan nafsu seksualnya. Sabda beliau :

“Hai para pemuda, barangsiapa diantra kalian yang sudah mampu memikul tanggung jawab keluarga menikahlah, karena sesungguhnya hal itu akan dapat menjaga pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu untuk itu hendaklah ia berpuasa, karena puasa merupakan benteng baginya.”(HR Bukhari dan Muslim)

Tidak Mampu Menghadapi Ujian dan Kesulitan

Pengaruh dari sikap israaf yaitu mudah menyerah, tidak mampu atau tidak berdaya saat kita menghadapi suatu ujian atau kesulitan. Orang yang terbiasa hidup mewah dan senang, belum terlatih untuk meghadapi hidup sulit dan berhadapan suatu cobaan. Oleh karenanya, ketika tiba-tiba dia harus menghadapi keadaan tersebut, Allah tidak memberikan pertolongan dan dukungan padanya. Jika sudah demikian, akhirnya ia akan mudah patah semangat, gampang menyerah dalam proses perjuangannya. Kecuali jika ia mampu berjihad (berupaya dengan seluruh kemampuannya) atas dirinya, di samping ia ikhlas dna benar dalam mujahadahnya. Allah berfirman:

لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan kepada hati mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath [48] : 18)

Kebekuan Berpikir

Inilah akibat yang berikutnya dari israaf, yaitu menimbulkan kebekuan berpikir. Sebagaimana kita ketahui bahwa kualitas kemampuan berpikir kita itu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu diantranya ialah isi perutnya. Jka perut kosong maka semangat dan kemampuan berpikirnya akan cemerlang. Sebaliknya, jika isi perutnya sarat dengan makanan maka kualitas kemampuan berpikirnya akan tumpul.

Jika perut terisi penuh maka kecerdasan akan terasa jenuh. Dirinya ia akan sulit berlaku hikmah (bijak) serta akan hilang martabat kemanusiaan maupun keunggulan dirinya yang membedakannya dari makhluk-makhluk lainnya.

Hati Menjadi Keras

Pengaruh yang lain dapat terwujud akibat israaf yakni menjadikan hati kita hati kita kering dan keras. Islam mengajarkan bahwasanya manusia itu akan menjadi halus dan lembut mankala dirinya tidak berlebihan dalam makan dan minuman atau dari rasa lapar dan sedikit makan. Hal itu juga merupakan sebuah sunatullah yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Firman Allah :

اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ ۚ فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا

“Dan engkau tidak akan mendapati dalam sunatullah itu suatu perubahan.”(QS. Fathir [35] : 43)

Manakala hati telah menjelma menjadi kasar dan mengeras, maka ia tidak akan pernah mampu menundukkan pemiliknya untuk berbakti dan tunduk kepada Allah, apalagi mengecap kenikmatan dan manisnya beribadah.

Kalaupun mereka berusaha mencoba menjalankan suatu kebaikan atau ketaatan beribadah, maka yang terasa baginya hanya hal-hal yang bersifat fisik saja, sementara hal-hal yang bersifat rohaniah sulit mereka peroleh, dan mereka pun tidak pernah mendapatkan pahala apa-apa dari Tuhannya atas ibadahnya itu

Dampak Buruk Israaf : Terjerumus Mencari Harta Dengan Jalan Haram

Mudah Terjerumus Mencari Harta Dengan Jalan Haram

Suatu saat, orang yang berlaku israaf tentu akan mengalami masa-masa kesulitan. Jika keinginannya tidak terpenuhi, maka akan mudah mengantarkan dirinya berbuat apa saja, termasuk hal-hal yang dilarang oleh agama, untuk mempertahankan pola hidup israaf-nya itu. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi kita dari perilaku yang semacam itu. Rasulullah shallahu alaihi wa sallam: “Setiap badan yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka adalah lebih utama baginya.” (HR. Tirmidzi)

Menjadi Saudara Setan

Pengaruh yang yang sangat berbahaya dari israaf yakni mereka akan menjadi saudara setan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Sesungguhnya orang yang menyia-nyiakan harta dalah saudara setan. Dan sesungguhnya setan it telah ignkar terhadap Tuhannya.” (QS. al-Israa’ [17] : 27)

Jika mereka sudah menjadi saudara setan, maka sudah pasti mereka akan tergolong sebagai manusia yang merugi. Sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Sesungguhnya kelompok setan (itu) adalah yang merugi.” (QS. Al-Mujadalah [58] : 19)

Tidak Dicintai Allah

Dampak selanjutnya dari israaf ialah terhalangnya diri kita dari kecintaan Allah. Sebagaimana firman-Nya :

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang-orang yang boros.” (QS. al-An’am [6] : 141)

Apalagi yagn dapat dilakukan oleh seseorang jika dirinya sudah tidak lagi dicintai Allah? Sungguh, kita akan hidup dalam kegelisahan, keserahan, penuh dengan penyakit kejiwaan, sekalipun kita memperoleh segala fasilitas yang bersifat duniawi.

Terhadap Amal Islami

Adapun pengaruh-pengaruh yang menimpa amal Islami antara lain akan menjadi kalah, atau paling tidak, surut ke belakang. Sebenarnya hal ini dapat kita pahami mengingat satu-satunya senjata kaum muslimin dalam menghadapi kekuatan musuh-musuh Allah adalah kekuatan iman. Sedangkan iman akan mudah dipengaruhi oleh sifat boros, mewah, mengumbar kenikmatan dan berfoya-foya.

Cara Mengatasi Israaf : Mengendalikan Gejolak Hawa Nafsu

Mengendalikan Gejolak Hawa Nafsu

Dengan mengendalikan gejolak hawa nafsu syahwati, israaf akan dapat diatasi. Caranya antara lain dengan memperbanyak amaliyah yang baik secara fisik maupun psikis cukup berat. Misalnya, memperbanyak qiyamul lalil (tahajjud), puasa sunnah, sedekah, berjalan kaki, bekerja berat, dan lainnya.

Senantiasa Menelaah Sunnah dan Siroh Nabi SAW

Banyak perilaku hidup sederhana dan menjauhi israaf yang ditunjukkan oleh tindakan maupun ucapan Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Misalnya sabda beliau SAW : “Seorang mukmin makan dengan satu lambung sedangkan seorang kafir makan dengan tujuh lambung.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam satu riwayat dikisahkan bahwa ada salah seorang kafir bertamu ke rumah Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah SAW menghidangkan kepadanya segelas susu hasil perahan dari seekor kambing, dan orang kafir tersebut segera meminumnya. Setelah itu beliau menghidangkan satu gelas lagi, dan iapun meneguknya sampai habis. Walhasil orang kafir itu telah meminum tujuh gelas susu yang diperah dari ekor kambing. Keesokan harinya setelah orang tersebut masuk Islam, Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, menghidangkan lagi kepadanya minuman serupa, dan iapun lalu meminumnya. Akan tetapi, ketika dihidangkannya lagi, ia tidak menghabiskannya. Maka Rasulullah shallahu alaihi wa salam pun bersabda sebagaimana hadist yang tercantum di atas.

Sabda Rasulullah shallahu alaihi wa salam:

“Tidaklah seorang anak manusia mengisi suatu wadah yang lebh buruk daripada mengisi perutnya sendiri. Bagi seseorang cukuplah beberapa suap yang dapat menegakkan punggungnya.Dan kalau tidak kuat demikian, maka hendaklah sepertiga isi perutnya untuk makanannya, dan sepertiga lainnya untuk minumannya, dan seperti tiga lainnya untuk udara atau nafasnya.” (HR. Tirmudzi)

Ummul Mukminin Aisyah RA pernah berkisah kepada keponaknnya, Urwah ibnu Zubair, sebagai berikut :

“Sesungguhnya kami telah melihat tiga kali bulan purnama dalam dua bulan. Selama itu kami tidak pernah menyalakan api (tidak memasak makanan) di rumah-rumah Rasulullah shallahu alaihi wa sallam”. Mendengar cerita tersebut, Urwah bertanya, “Apa kebutuhan hidup kalian?” Aisyah menjawab, “Aswadaan (kurma dan air), namun Rasulullah memiliki tetangga dari kalangan Anshar yang suka memberi susu, kemudian Rsulullah memberikan kepada kami”. (HR. Bukhari-Muslim)

Bunyi salah doa Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, “Ya Allah, berikanlah makanan kepda keluarga Muhammad.”

Jika seorang aktivis yang tengah mengabdi kepada agama Allah, memperhatikan hal-hal tersebut, maka hatinya akan tersentuh dan perasaannya akan tergerak, kemudian ia akan mengikuti khittah Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, dan berjalan di atas petunjuknya untuk mencontoh dan meneladaninya agar dirinya kelak dapat bersama-sama beliau di dalam surga.

Firman Allah SWT:

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا ﴿٦٩﴾ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللّهِ وَكَفَى بِاللّهِ عَلِيمًا ﴿٧٠﴾

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya) maka mereka itu akan bersama-sama dianugerahi nikmat oleh Allah,yaitu para Nabi shiddiqiin, para syuhada, da orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman-teman sebaik-baiknya. Dan demikian itu adalah karunia Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’ [4] : 69-70)

Bersama-sama dengan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, sebuah kebahagiaan yang tiada taranya, yang menjadikan manusia akan mendapatkan kemuliaan.

Selalu Memperhatikan Perjalanan Hidup Salaf :

Para salaf umat ini terdiri atas para sahabat yang telah berjihad da para ulama yang aktif. Mereka telah berqudwah kepada Rasulullah shallahu alaihi wa sallam. Kehidupan mereka sederhana dan tidak menginginkan dunia kecuali menjadikannya sebagai jembatan yang akan mengantarkan mereka ke akhirat. Diriwayatkan pada suatu hari ketika Umar bin Khattab ra mendatangi putranya, beliau melihat sepotong daging milik kputranya. Umar ra lalu bertanya, “Daging apakah ini?”. Putranya menjawab, “Aku menginginkannya”. Kemudian Umar bertanya lagi, “Apakah setiap yang engkau inginkan, engkau senantiasa memakannya?”, tanya Umar. Cukuplah seseorang bersikap boros, seandainya ia memakan semua yang ia sukai”. (Kitab Hayatu ash Shahabat).

Dalam kita yang lain disebutkan bahwa ketika Abu Bakar ra menderita sakit pada akhir hayatnya, Salman al-Farisi ra mendatanginya dan berkata, “Berwasiatlah kepadaku, wahai khalifah Rasulullah shallahu alaihi wa sallam”. Maka Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya Allah telah membuka dunia untuk kalian mengambilnya kecuali secukupnya”. (Hayatu ash Shahabah).

Sa’ad bin Abi Waqqas ra pernah mengirim sepucuk surat untuk Khalifah bin Khattab ra ketika ia menjad gubernurdi Kufah. Isinya, dia meminta izin mendirikan rumah bagi tempat tinggalnya. Umar ra membalas suratnya dengan mengatakan, “Bangunan lah apa yang dapat melindungimu dari sinar matahari dan memeliharamu dari hujan. Sesungguhnya dunia ini hanyalah sarana belaka”. (Hayatus ash Shahabah).

Memutuskan Hubungan Dengan Orang-Orang Yang Boros.

Dengan memutuskan hubungan atau tidak menjalin persahabatan dengan orang-orang yang berperilaku israaf, maka kita akan terhindar dari pengaruh buruknya. Sedangkan menjalin hubungan dengan orang-orang yang berjiwa besar atau memiliki semangat tinggi, yang dapat menampik kemewahan dunia dan melandasi semua aspek hidupnya dengan prinsip kemuliaan dan kehormatan berdasarkan Ilahi, serta yang senantiasa berusaha melaksanakan hukum-hukum-Nya diatas bumi ini, maka akan mampu mengusir semua fenomena boros, sikap menuntut, dan berleha-leha. Bahkan akan mampu menjauhkan diri untuk tidak terperangkap pada jeratannya.

Meningkatkan Perhatian Terhadap Pembinaan Pribadi, Isteri, dan Anak.

Hal tersebut juga akan mampu menundukkan semua fenomena kemewahan serta kita terhindar dari jebakannya. Bahkan akan dapat menolong kita untuk menjalani sikap tegar tatkala harus menghadapi duri-duri dan kesulitan dalam perjalanan hidup, sampai kita dikembalikan kepada Allah dan menikmati ketenangan, kenikmatan, dan keabadian di sana (akhirat).

Senantiasa Mengikuti Keadaan Yang Tengah Dilewati Umat Manusia dan Kaum Muslimin.

Keadaan ini dapat membantu jiwa dalam membebaskan diri dari sikap israaf, bahkan akan mampu membatasi diri untuk tidak mengecap kenikmatan dan kelezatan dalam kehidupan ini, sehingga kita dapat tetap pada manhaj Allah dan kebesaran panji-panji Islam pun akan dapat terangkat kembali.

Selalu Bertafakur Tentang Kematian serta Kepedian dan Kengerian Yang Terjadinya Sesudahnya.

Hal ini dapat menolong kita untuk menolak gejala israaf dan kemewahan duniawi serta menghalanginya untuk tidak terperosok ke dalamnya. Selain itu juga, sebagai persiapan akan saat kematian dan kelak waktu bertemu dengan Sang Pencipta.

Mengingat Tabiat Jalan Dakwah.

Tabiat jalan dakwah berupa kelelahan, kesakitan, serta keperihan yang ada didalamnya. Kemudian jalan tersebut tidak dapat dilalui dengan sikap boros, santai, dan bermewah-mewah, tetapi harus dengan jalan kesulitan, kekurangan, dan kepayahan. Semua itu mempunyai peranan yang besar dalam memarangi sikap israaf, perjuangan melawan nafsu, dan kemampuan dalam menembus dan melangkahkan kaki pada kendala dan aral yang menghalangi perjalanan dakwah kita. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s